Melepas stres ala Dr. Philippa Perry
Di buku The Book You Wish Your Parents Had Read karangan beliau ada satu topik menarik. Yaitu melepaskan stres menjadi orangtua dengan menuliskan surat dari sudut pandang anak. Ditulis dengan tutur kata yang menjelaskan kondisi sang anak, ketika perilakunya menyebabkan stres orangtua.
Saat melepas suami kembali ke Hong Kong di minggu ketiga mengurus newborn, rasanya berat sekali. Hari-hari berjalan dengan tangisan. Menangis sambil menyusui, menggendong, makan, buang hajat, tiduran, hingga chattingan membalas pesan-pesan pun sambil menangis. Waktu lambat sekali rasanya merangkak.
Meskipun menatap wajah bayi menenangkan hati, tetap saja ketika berhadapan dengan tangisannya di siang malam, gejala sakitnya yang tiba-tiba datang, penampakan fesesnya yang membuat mual, pemulihan pasca operasi yang membuat nyeri, sering kali membuat lupa dengan yang namanya tenang.
Dan ketika dia sudah terlelap nyenyak, barulah rasa bersalah itu datang. Siklus itu senantiasa terulang. Tersadar hari-hari ke depan tidak sehat untuk dijalani seperti ini, maka aku teringat buku parenting yang dibaca pada trimester tiga kehamilan. Lalu mulai mencoba menarik napas, mengingat kembali momen tangisannya dan kondisi yang terjadi kemudian menuliskan surat dari sudut pandang bayi kecil ini.
Ada beberapa momen, salah satunya ketika hidung kecilnya sedang tersumbat dan membuat ia rewel.
Manda sayang, maaf jika aku buat manda sedih dan kelelahan sedari tadi pagi hingga sore ini, dan aku juga tidak jamin apakah malam akan bagaimana kondisinya.
Hidungku sedang tersumbat, nafasku tidak nyaman, tapi tanganku masih terlalu kecil untuk bisa menjangkau tisu dan mengeluarkan kotoran di hidung. Aku juga belum bisa sabar menahan tidak nyaman kondisi tubuhku.
Aku tau Manda kelelahan dan menangis kecapekan. Aku sedih sebenarnya melihat Manda, percayalah walaupun aku belum bisa bicara tapi aku bisa merasakan apa yang Manda rasakan. Bukankah kita pernah bersama satu tubuh selama 9 bulan kemarin?
Hanya saja Manda, berada di dekapan Manda membuat aku nyaman. Aku tau orang-orang disana mengatakan jangan sering digendong, nanti bau tangan. Gendong hanya ketika menyusu saja. Tapi boleh tidak Manda, di saat kurang sehat seperti ini aku didekapan Manda dulu lebih lama?
Esok lusa ketika sudah membaik, insya Allah aku bisa tidur sendiri dengan tenang di ranjangku. Tidak apa apa ya Manda kalau kamarnya berantakan dulu, atau makannya Manda jadi terburu-buru. Aku hanya butuh didekap Manda lebih lama saja.
Maaf ya Manda jika apa yang kubutuhkan membuat Manda merasa sedih dan kesusahan. Esok lusa ketika sakitnya hilang kita perbanyak momen bahagia bersama agar Manda terobati ya sedihnya.
Atau momen ketika sedih berkelanjutan karena merasa sendirian merawatnya.
Manda sayang, sejak semalam manda sedih-sedih terus sampai pagi hari. Manda merasa sendirian ya?
Aku disini loh temenin Manda, Papa juga disana setiap hari pagi sampai malam kirimkan doa untuk kita. Hehe walaupun aku belum bisa usap air mata atau pijit kaki Manda, tapi tangan kecilku ini selalu berupaya rengkuh tubuh Manda. Kerasa gak ya Manda?
Manda sayang, nggak papa ya kita jalanin hari-hari ini dengan menabahkan hati lebih luas. Dengan memasang semangat lebih kencang. Dengan menumbuhkan optimisme lebih kokoh. Fase-fase ini akan terlewati, lelah akan hilang, tapi pahala akan tetap tersimpan.
Aku harap, di momen yang melelahkan ini, Manda tidak terjerumus ke menyakiti hati orang lain dengan sikap atau lisan manda. Aku harap, di momen yang melelahkan ini kita bisa mendulang pahala lewat tasbih dzikir yang dibaca dan diulang ulang pagi hingga malam. Aku harap, ayat-ayat yang Manda bacakan akan bersaksi kelak bahwa Manda berjuang untuk menanamkan iman dalam tubuh kecilku.
Manda sayang, semuanya menyayangi Manda loh. Papa sayang Manda. NekMa dan NekU sayang Manda. Engkong Baba sayang Manda. Om Tante sayang Manda. Semua sayang Manda, hanya saja mungkin ekspresi sayangnya berbeda-beda dan kuharap dengan segala yang mereka lakukan Manda bisa menafsirkan bahwa itu bukti sayang mereka.
Manda sayang, tidak ada yang meninggalkan Manda sendirian kok. Allah yang Maha Penyayang selalu kirimkan Manda orang-orang untuk menemani. Aku pun disini temani Manda, maaf ya Manda kalau ekspresi sayangku ke Manda buat Manda capek.
Aku sayang Manda, makanya aku menyusu yang banyak supaya sehat dan Manda tidak kepikiran karena kondisiku nanti. Aku sayang Manda, makanya aku puppy dan pipis yang rutin supaya tubuhku bersih. Aku sayang Manda, jadi aku menangis sebagai ekspresi komunikasiku dengan kondisi sekeliling.
Manda sayang, kita semua sayang Manda. Manda tidak pernah sendirian kok.
Peluk sayang untuk Manda dari tangan kecil Affa 💞
Dengan izin Allah, hari-hari selanjutnya berjalan lebih tenang. Tangisnya masih ada, capeknya masih terasa, tapi menanggapinya yang jadi berbeda. Redam sudah sedihnya. Tersisa rasa kasih sayang dan terimakasih karena sudah berjuang tumbuh. Waktu tidak lagi terasa lama, tetiba sudah sampai pada hari berkumpul lagi bersama Papa.
Ya Allah, tolong tanamkan pada kami kekokohan hati. Agar bisa kuat menjalani semua takdirMu ini. Tolong luaskan kesabaran dalam jiwa. Agar lapang terasa ragam ujian yang menerpa. Tolong jernihkan akal kami. Agar tetap mengingat ridhaMu dalam tiap keputusan yang dipilih. Tolong jadikan syukur dan sabar kendaraan kehidupan. Agar hari yang kami jalani selalu terasa menakjubkan.
Hingga kelak kami menghadapMu, segala sakit dan luka yang pernah ada hanya menjadi memori sekilas. Tersebab lebih banyak diisi dengan relung syukur dan sabar. Dan semoga Engkau ridha, menyambut kami dalam perjumpaan nanti.