Saya sangat tertarik dengan diskusi tentang dinamika keluarga. Meski saat ini saya belum berkeluarga tetapi saya tertarik untuk mengeksplor tentang hal ini.
Merupakan rahasia umum saat mendengar kalimat: Kalau sudah menikah ibumu, ibuku juga. Pun sebaliknya. Klise. Sangat. Ketika berhadapan dengan realita kebanyakan orang tetap mempertahankan egoisme mereka dengan lebih mengutamakan ibu mereka at orangtua kandung mereka ketimbang ibu atau orangtua pasangannya. Salah? Nggak kok. Wajar aja. Tapi ajaibnya ada juga orang yang bisa menerapkan prinsip di awal bahwa ibumu, ibuku juga meski jumlahnya lebih sedikit.
Merupakan hal menyakitkan ketika meminta seorang laki-laki memilih antaranya ibunya atau istrinya. Tidak ada yang ingin terjebak dalam situasi macam ini, tetapi menariknya situasi ini tidak bisa kita hindari.
Case study: Seorang anak laki-laki, yang sudah berkeluarga, tentunya ingin senantiasa membahagiakan orangtuanya, wabil khusus ibunya. Ia akan melakukan segala cara agar bisa melukis senyum di wajah ibunya. Wajar? Tentu! Berkunjung ke rumah sang ibu sepekan sekali, mengirimi ibu uang bulanan, membantu memenuhi kebutuhan ibu, selalu ada saat ibu butuh. Merupakan hal-hal yang pastinya sangat ingin dilakukan sang anak laki-laki pada ibunya. Tapi yang perlu diingat, kini sang laki-laki sudah menikah dan ia memiliki keluarganya sendiri.
Seringkali laki-laki tidak mampu bersikap jujur pada orangtuanya, ibunya, ataupun keluarganya terkait kondisi keluarga kecilnya. Kondisinya sang laki-laki masih harus berjuang secara finansial dengan keluarga kecilnya. Ketidakjujuran ini akan saya perjelas. Sang laki-laki memaksakan untuk selalu mengirimi ibunya uang saat ibunya meminta, menemani ibunya saat ibunya menghubunginya dan kondisi-kondisi semacam itu. Bahkan hal ini juga dilakukan keluarga besar sang laki-laki. Sayangnya kebaikan-kebaikan yang dilakukannya pada ibu dan keluarga melukai keluarga kecilnya di sisi lain karena sikap ini dianggap sebagai sikap yang tidak jujur dan tidak bijaksana jika dilihat dari sudut pandang sang keluarga kecil.
Menyedihkan jika kita menghakimi dan menghujat sikap laki-laki ini terhadap keluarganya (baik keluarga besarnya maupun keluarga kecilnya).
Di satu sisi memang disayangkan karena sang laki-laki tidak jujur atas kesulitan finansial yang dialaminya baik pada ibunya ataupun pada keluarganya. Tetapi di sisi lain, dan saya baru mendapatkan pandangan ini ketika berdiskusi dengan atasan saya yang merupakan seorang laki-laki dan sudah berkeluarga, ada kondisi di mana sang anak laki-laki tidak bisa mengatakan pada ibu dan keluarganya kalau ia sedang susah. Dan ia tidak bisa membantu ibu dan keluarganya. Khususnya sang ibu. Ibunya pasti akan mengalami kesedihan yang saaaaaaangat dalam ketika tahu anaknya sedang ada masalah. Dan hal inilah yang sangat dijaga sang laki-laki. Akhirnya, ia berupaya mati-matian (berutang, meluangkan waktu, bahkan berkonflik dengan istrinya) demi membahagiakan ibu dan keluarganya.
Bagaimana dengan sang istri? Tentunya ia dan keluarga kecilnya merasa luka yang dalam akibat ketidakjujuran suaminya yang juga merupakan ayah dari anak-anaknya. Sang istri dan keluarga kecil tahu 100% bagaimana kondisi finansial yang sulit yang membutuhkan banyak kerja keras, penghematan, dan sebagainya. Mereka akan merasa terus tersakiti oleh sikap suaminya dan ayah dari anak-anaknya.
Kondisi seperti ini akan terus mengakar. Bahkan bukan tidak mungkin akan memunculkan rasa kekecewaan yang mendalam dan kesedihan yang membekas di benak sang istri dan keluarga kecil sang laki-laki.
Keterbukaan dan kesalingpahaman
Tidak banyak laki-laki yang mampu berbicara pada istrinya atas masalah yang ia hadapi. Tidak banyak pula istri yang mampu membaca masalah yang dialami suaminya. Tentunya kedua hal ini merupakan hal yang sulit dilakukan kedua belah pihak. Kedua orang ini akan tetap terjebak dalam masalah yang sama tanpa penyelesaian jika tidak ada pihak yang mengambil tindakan.
Keterbukaan. Ia kuncinya di sana. Jika sang suami terbuka dengan maksud di balik kebaikan-kebaikan yang ia berikan pada ibunya, pada keluarga mungkin sang istri akan sedikit lebih menerimanya. Sehingga muncullah pemahaman dari sang istri. Pemahaman ini yang juga akan membuka ruang lain yang awalnya tertutup: solusi yang lahir dari kesepakatan suami dan istri yang sedang mencoba saling memahami. Bentuk nyatanya apa? Tidak tahu, karena setiap orang punya caranya sendiri.
Sikap terbuka dan pehamahaman yang berada pada level yang sama baik suami ataupun istri akan mengundang rasa ikhlas dan pengorbanan. Meski memang kepedihan terjebak dalam situasi ini adalah hal nyata yang tidak bisa dihindari setidaknya akan terasa jauh lebih baik karena di sisi lain mereka sadar bahwa mereka sedang belajar untuk ikhlas.
Kelegowoan hati istri akan muncul. Setidaknya ia tahu alasan suaminya bersikap demikian. Meski di sisi lain sang suami pun dituntut untuk mengerti juga pandangan sang istri yang tidak ingin memperburuk kondisi finansial keluarga mereka.
Jika mereka adalah seorang muslim, dinamika keluarga ini akan mengantarkan mereka kedekatan hubungan dengan Allah. Semakin rajin shalat, berdoa, bangun di sepertiga malam pun akan terasa mudah, berdiri menegakkan shalat dan berdoa berurai air mata pun akan terasa sangat nikmat. Secara amal, sang suami akan terpicu lebih keras lagi dalam bekerja. Dan bedanya, kini sang istri juga ikut serta dalam setiap proses yang diupayakan suaminya. Bedanya, kini istrinya bisa berdoa lebih plong pada Allah tentang suaminya.
Ah, indah sekali jika menyaksikan situasi ini.
Menyedihkan sekali ketika kebahagiaan yang kita upayakan malah dirasakan seperti menorehkan luka pada hati-hati (lain) yang ingin juga kita jaga.
Mungkin tidak banyak yang akan memahami maksud tulisan ini karena saya masih harus belajar lebih banyak untuk menuangkan gagasan lebih terstruktur. Mohon maaf atas keterbatasan kemampuan menulis dan keterbatasan cara pandang. Setidaknya saat ini saya berhasil mengurai benang kusut dalam pikiran saya. Setidaknya saya sudah menemukan jawaban yang saya cari. Meski tidak menutup kemungkinan jawaban tersebut akan berkembang dan tumbuh lebih matang. Semoga pesan intinya tetap sampai. Semoga bermanfaat!