Bersyukur itu...
Dahulu, saat diri ini masih melihat semua keindahan dunia serta isinya dari luar saya sangat dengan mudah memiliki rasa iri kepada setiap orang. Terkadang “menggugat” Tuhan seolah – olah memperlakukan saya dengan tidak adil, saya langsung “demo”; melakukan mogok ibadah, melakukan perbuatan – perbuatan yang dilarang oleh agama sebagai aksi protes. Sayapun mencoba mencari makna “perlakuan” yang tidak adil kepada saya dengan penalaran dan ilmu pengetahuan. Saya pernah iri dengan seorang teman (yang menurut saya) ganteng dan sangat gagah. Setiap berjalan dengan beliau, semua mata memandang dia karena gagah dan ganteng. Belasan tahun kemudian saya bertemu lagi dengan beliau, hampir saya tidak mengenali beliau. Wajahnya (mohon maaf) penuh dengan jerawat, badannya dua kali lebih besar dari saya dan kelihatan tidak sehat, kulitnya menghitam dan akhirnya beliau mengaku bahwa sedang sakit keras.
Dulu, saya pernah iri dengan tetangga saya, rumahnya besar dan mewah, mobilnya bermerk dan banyak. Bila bertemu dengan istrinya seperti toko perhiasan berjalan. Perhiasan di tangan dan di leher berkilau. Beberapa tahun setelah pertemuan tersebut, terdengar kabar baik di TV dan di koran bahwa ia dan keluarganya meninggal karena dibunuh seseorang di rumah mereka sendiri karena tergiur dengan perhiasan yang mereka pamerkan.
Dulu, aku pernah iri pada teman kuliahku, ia selalu cerita tentang pacarnya yang tampan, anak orang kaya, kuliah di luar negeri, memiliki beberapa usaha distro, cafe dan lain- lain. Kemudian saya baru tahu, ia dibawa lari pacarnya, lalu hamil di luar nikah, menikah lalu membina rumah tangga hanya seumur jagung lalu di tinggalkan, mereka bercerai. Sekarang hidup sebagai single parent membesarkan anak.
Dulu, saya pernah iri dengan kolega kerja saya. Ia kuliah S2 di luar negeri dengan mendapatkan beasiswa. Ia sempat mempertanyakan keputusanku mengapa tidak diambil kesempatan langka setelah lulus beberapa seleksi beasiswa tersebut. Saya hanya menjawab getir bahwa anak – anak tidak setuju dan saya juga terlalu berat untuk meninggalkan anak – anak yang masih lucu dan memerlukan kasih sayang dan jauh dari saya selama 3 tahun. Sempat protes kepada Tuhan, marah pada diri sendiri dan keluarga. Setelah mendapatkan kabar bahwa ia selesai kuliah di luar negeri, pulang ke indonesia langsung menduduki jabatan starategis di pemerintahan. Saya sebagai teman ikut senang dan bahagia. Beberapa tahun kemudian saya sering baca status di media sosialnya, saya baru tahu bahwa ia telah bercerai dan putra – putri lebih memilih ikut dengan istrinya daripada dia karena temanku tenyata telah menikah dengan wanita Belanda teman kuliah di sana, keluarganya berantakan.
Dulu, aku iri dengan sahabatku, ia selalu masuk sekolah favorit, kuliah di universitas tekenal dan fakultas yang cukup mentereng. Sebelum lulus kuliahpun ada beberapa perusahaan di dalam dan di luar negeri yang sudah ngantri mengajak dia gabung. Tapi beberapa bulan yang lalu dia menghubungi saya mau pinjam uang. Gajinya sudah tak cukup lagi untuk membayar semua cicilan barang – barang. Dulu, aku juga sempat iri dengan kawan sekolahku, ia selalu ranking 1. Guru – guru menyukainya, kuliah di universitas ternama di Jawa, kerja di perusahaan besar. Semua teman seangkatan memujinya. Tetapi kemarin ia menyapaku di WA meminta pekerjaan. Ia baru saja di PHK. Perusahaan tempat ia bekerja bangkrut. Nilai jual saham terus anjlok hingga harus memberhentikan karyawan dengan jumlah yang besar. Hidup ini harus bersyukur, apa yang kita lihat indah belum tentu seindah aslinya. Apa yang dulu kamu sesali sampai sumpah serapah bisa jadi sekarang kamu syukuri. Ketika kamu dulu nangis – nangis darah karena tak seperti orang lain sekarang bilang alhamdulillah telah menjadi dirimu sendiri. Kunci nikmat hidup BERSYUKUR. Apa yang kamu lihat di orang lain belum tentu seperti apa yang kamu kira. Setiap orang diuji oleh Tuhan dengan cara yang berbeda.
Ketidak tahuan adalah kondisi dimana objek – objek pengetahuan kita masih dalam wujud potensial. Akal akan menangkap keberadaan potensi – potensi yang akan menjadi aktual di saat Tuhan memberikan cahaya – Nya sehingga wujud – wujud potensial itu hadir secara nyata dan aktual. Perlahan tapi pasti kita dalam menjalani hidup bisa lebih tenang dan santai. Senang ya biasa, susah ya sudah biasa seperti tidak ada sesuatu yang wah dalam hidup kita. Ini dalam ilmu budaya jawa “ngelakoni lelaku”terus memaksimalkan apa yang telah dititipkan Gusti Allah kepada kita. Bakat untuk bekerja; otak untuk berfikir, passion untuk menyukai bidang tertentu, syukur – syukur bisa dirasakan bermanfaat untuk orang lain sampai waktunya saya “Kapundhut Jati”, mengembalikan semuanya bahkan diri saya kepada Sang Pemilik. Saya ini bukan panutan untuk siapapun. Kita Mahluk Tuhan yang berbeda walaupun sama sangka dan perannya. Kita adalah manusia yang berbeda, daun yang tidak sama dengan wajah yang beragam pengalaman hidup dan batin. Satu – satunya yang rasional untuk dijadikan panutan adalah mahluk paling senior yang diciptakan oleh Allah, yang hakiki wujudnya yang berada di wilayah paling hulu ialah Kanjeng Nabi Muhammad. SAW. Kalian dan saya berposisi sama yaitu berbaris menjadi makmum beliau.
Mungkin diantara pembaca ada yang iri melihat saya nampak hidup enak, dinas luar terus menginap di hotel berbintang, sambil jalan – jalan. Padahal aslinya saya juga mengalami pulang ke rumah tidak di sajikan makan malam oleh istri karena marah duit belanja sudah habis dan sayapun saat itu tidak memegang uang. Saya mengalami bagaimana dahsyatnya “khotbah” istri lagi di atas mimbar. Jadi saya dan anda sama saja…
Adi Pamungkas, M.Si
Palembang, 20 November 2019
















