Dyaaarr! (eh sebenernya biasa aja si) ada undangan pernikahan tersebar di grup, mungkin yang bikin sedikit heboh adalah kedua calon mempelai yang bersangkutan; laki-lakinya putra dari seseorang yang berilmu, sang perempuannya adalah mahasiswi semester satu (adik tingkatku juga pula heheh)
Lalu, merambatlah pembicaraan mengenai hal itu ke platform sebelah, yang dikenal dengan logo bergambar burung dan pastinya bewarna biru, tapi bukan yang buat jalan-jalan lho ya, walaupun mirip. Enggak sampe trending si, cuma sedikit memantik kesimpulan yang dengan lancang aku buat “menikah itu tentang kesiapan mental”
Iya,mental. Mungkin hanya sedikit saja video kajian berdurasi satu jam bertema pernikahan yang pernah aku tonton, ku hitung baru 3 buku dengan tema yang sama baru ku baca, dan belum pernah ikut seminar pra-nikah sama sekali, tapi izinkan sekali lagi lancang memberi kesimpulan soal, “menikah itu tentang kesiapan mental”
Finansial. Aku pribadi termasuk yang mengamini pernyataan yang disampaikan oleh ust Salim A Fillah, tentang yang terpenting soal rejeki yang kemudian menyangkut finansial adalah potensi rejeki. Karena kata beliau, rejeki adalah soal menikmati bukan memiliki. Saat kita membeli makanan paling mewah, namun kita sedang tidak enak badan, apakah masih terasa di lidah? Pun soal potensi adalah tentang kesiapan mental untuk terus berusaha mencari rejeki dengan penuh perjuangan dan mensyukurinya. Memang ini bukan bahasan teknis mengatur uang, pembagian prioritas dan semacamnya, ini soal mental, apakah kita siap yakin bahwa Allah pasti akan memberi kita rejeki? apakah kita siap untuk berjuang untuk menjemput rejeki yang Allah siapkan? kesiapan itu soal mental
Parenting. Lagi-lagi aku mengacu pada beliau, Ust Salim A Fillah, soal parenting ini, ternyata kita harus sangat banyak belajar, bagaimana bertutur kata yang baik pada anak-anak kita (nantinya) karena, apa yang kita ucapkan saat mereka masih kecil bisa menjadi boomerang saat mereka sudah tumbuh dewasa. Saat mempunyai anak dengan inisiatif tinggi ingin menolong ibunya membawa piring kotor ke dapur, lalu terjatuh dan pecah, kata-kata apa yang keluar dari mulut kita? Saat mempunyai anak dengan inisiatif tinggi memanjat pohon di depan rumah, respon apa yang kita berikan? Maka, mengolah kata, mengolah respon, adalah soal mental kita. Saat mental kita sudah terbentuk dan terlatih, maka kata dan respon yang keluar tentunya akan baik juga.
Masih banyak sebenernya soal mental ini, dari soal siapkah menghadapi masalah di lingkungan yang mungkin tidak suka dengan kita, soal siapkah menghadapi tuntuntan pekerjaan rumah tangga, mengepel lantai, menyapu, memasak, menjemur, mencuci piring, membereskan ompol, iki akeh banget!, soal siapkah membagi waktu tidur, membagi kesenangan yang dirasakan, dan ya masih banyak lagi.
Maka, dengan alasan itu aku dengan lancang (sekali lagi) menyimpulkan bahwa “menikah itu tentang kesiapan mental”
Tapi, nampaknya ada yang salah sampai saat ini. Pembahasan seputar menikah, agak sedikit ramai di bulan syawwal, bulan setelah Ramadhan. Entah siapa yang pertama kali membuatnya menjadi viral diobrolan saat lebaran tiba, syawwal yang memiliki arti naik,ringan, atau membawa (mengandung) malah seperti kehilangan ‘dirinya sendiri’.
Jika, sebagian orang beralasan dengan sebuah hadits dari perkataan ‘Aisyah, bahwa Rasulullah menikahi dirinya di bulan syawwal (HR Muslim) tidak bisa jadi pembenaran, bahwa saat memasuki syawwal, bahasan yang harus viral adalah tentang nikah. Hadist itu, dan yang berkaitan dengannya ingin mematahkan argumen jahiliyyah, bahwa menikah di bulan syawwal akan mendatangkan kesialan.
Bahkan jika dikorelasikan dengan perintah berpuasa yang sudah kita hafal ayat dan artinya, bahasan pernikahan tidak pernah muncul, bahkan kata ‘nikah’ saja tidak ada. Ya, walaupun episode ayat berikutnya menyangkut hubungan suami istri, tapi itu lebih ke soal hukum berhubungan antara suami dan istri di bulan Ramadhan, bukan soal pernikahan itu sendiri.
Jadi, mari kita terus belajar, terus memperbaiki mental diri, baik menyiapkan mental untuk menikah, namun mungkin bisa sedikit berbeda, mental saat kita masuk syawwal adalah terus naik secara kapasitas ketaqwaan, sesuai dengan tujuan berpuasa “La’allakum Tattaquun”. Tapi jika mau ada niatan menikah di bulan syawwal juga tidak apa-apa
Cuma ingetin, sunnah nabi gak cuma menikah di bulan syawwal, jangan lupa puasa 6 harinya yak~
(membuka ruang koreksi dan diskusi, karena ini temanya cukup renyah untuk dikunyah)