RTM: Wanita dan Pandangannya (Bagian 1)
Unik dan ajaib memang wanita dan perasaannya itu, kadang sulit sekali menebak mau dan pintanya, apalagi soal pandangannya yang sering berbeda dengan cara laki-laki menilai.
Memasuki bulan ke 5 semenjak kami bertemu dan tinggal bersama untuk selamanya (tidak ada dan tidak akan lagi ldm) ada banyak hal baru yang saya pahami dan pelajari dari wanita yang sekarang menjadi istri saya. Iyap, kami memang ldm sejak 2018 karena kesibukan dan belajarnya masing, setahun mungkin hanya 2 atau 3 kali bertemu dengan durasi paling lama 1,5 bulan. Kami memang membuat kesepakatan untuk fokus pada amanah masing-masing, dalam sekepan mungkin video call hanya sekali atau 2 kali, kalo chattingan yaa setiap hari tapi sekosongnya.
Rumah tangga muda, pada usia yang memang sudah seharusnya bisa mengontrol emosi, ego, dan kepentingan. Ada banyak hal yang mulai berubah dari cara berpakaian saya dan jam untuk menikmati bacaan.
Saya yang biasa memakai baju kaos dan celana yang bisa dibilang "yang paling atas ya itu yang diambil dan dipakai, biar gausah ngangkat baju yang kadang nanti malah bikin berantakan", tapi tetap saja istri selalu komplen dengan kata tidak mecinglah kurang pas lah. Hingga saat ini setiap mau pergi atau ada acara entah di dalam kota atau harus keluar kota yaa dia yang nyiapin, ini sebenarnya bertolak belakang sekali dengan prinsip berpakaian saya yang simple dan yang penting bagus rapih dan layak :)
Ada hal lain yang musti saya ubah juga, terhadap me time dengan buku-buku dan tontonan, dengan video call bareng temen dan beberapa agenda lainnya. Tapi memang beginilah pernikahan, akan mengubah dan harus berubah dengan menyatukan prioritas yang lebih besar skalanya.
Pandangan laki-laki yang memang kebanyakan inginnya serba mudah dan cepat, tidak riweuh dan sangat diatur. Tapi memang dengan begitu akan lebih teratur dan lebih rapih juga sih. Untuk para lelaki, saya doakan nanti mendapat istri yang rapih, dari rapih menata luar dan dalam, menata keuangan dan kepentingan.
Nanti akan kamu temukan, pandangan wanita yang seringnya bertabrakan dengan pandanganmu, tapi cobalah untuk mendiskusikannya, pada peran dan bagaimana jalan tengahnya, soal pembagian keuangan dan kepentingan, soal menata masa depan dan target tahunan yang harus dicapai masing-masing dan bersama.
Tidak mudah memang, sedikit cemberut dan ngambek itu biasa, sedikit baper dan minta dimengerti itu wajar, sedikit ingin diberi apresiasi dan berbincang bersama itu standart, pernikahan memang tidak semudah bulan atau tahun pertama. Ombaknya kadang ringan kadang tinggi, dan cobalah untuk melihat hubunganmu dengan-Nya saat ada yang tidak beres dengan pasangan, barangkali ada porsi ibadah yang berkurang, ada tilawah yang tidak mencapai target harian, ada puasa sunnah yang mungkin malas dikerjakan.
Sakinah itu berasal dari tinggal bersama dan menyelesaikan masalah bersama, mawaddah itu berasal dari kelapangan dada menerima baik buruknya pasangan, dan warohmah itu adalah tujuan dari setiap pasangan untuk mendapatkan rahmat-Nya. Kerjakan saja semuanya karena Allah, soal apresiasi dan tidak itu belakangan, yang penting semuanya untuk ibadah.
Jarang sekali saya menulis seperti ini, yang biasanya hanya tertulis dalam catatan hp dan laptop, untuk disimpan sendiri dan menasehati hati. Tapi sepertinya ini perlu saya sampaikan juga, bahwa ilmu itu lebih penting daripada langsung beramal tapi tanpa ilmu.
Tenangkan dulu badai dan gemuruhnya, redakan nafsu dan lapar mata yang menyala, dan niatkan semuanya untuk ibadah. Bahkan soal menunggu pun jika karena Allah justru akan berbuah pahala juga, yang kamu cari berkahnya bukan?