Di Atas Menara Kota
di kota ini
seolah hampir selalu saling memburu waktu. penuh dengan kepenatan yg pekat. debu dan asap membaur, zat wajib yg terhirup dalam dua rongga hidung, mengendap ke ruas paru.
di kota ini
sibuk.
tapi di kota ini
semua keringat terbayar pasti.
di kota ini
manusia bertopeng bertebaran. banyak para wanita bertulang punggung baja. remaja rakus perhatian dan pengertian. lelaki seolah nyaman menikmati berbagai drama dengan kopinya.
terkadang kita sering lupa. banyak hal yg tidak kita sadari mengajarkan kita jadi lebih kuat. mengenal segala ragam bahwa hidup akan selalu dihadapkan pada kondisi yg tidak semestinya. sering kali manusia dengan logisnya memperhitungkan. segala peluang dan kemungkinan. menyiapkan berbagai macam opsi. kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang kemudian disebut masalah, akan selalu ada untuk hidup yang serba dinamis. tapi tidak menyiapkan hatinya agar jadi lebih kuat. menyiapkan satu bagian hatinya untuk rasa amarah dan kecewa.
beberapa manusia menikmati drama masing masing. sebagai penonton maupun pemeran. sebagai pemeran yg berkepentingan. yg tak segan membunuh karakter lawan maupun kawan. sebagai pemeran yg berhati besi atau sekadar pura pura tak mengerti. sebagai pemeran yg berlidah lentur dan mudah berubah bentuk, kadang tajam, kadang kasar tak jarang juga licin.
manusia penonton tak hanya sekedar duduk manis. tak jarang mereka mengumpat jika jalan ceritanya tak sesuai. ada yg sibuk membuat tebakan teka teki jalan cerita. ada pula yg hanya melihat dr kejauhan dengan sejuta pikiran penuh pertanyaan, seperti "mungkinkah jika aku jadi pemain?".
hidup ini tak melulu soal perspektif. kadang terlalu banyak melihat dr berbagai perspektif akan menyulitkan. menjadikan pertimbangan punya banyak indikator yg siap untuk dipilih sebagai jalan solusi. karena hidup adalah kondisi yg dinamis. dan bukankan memang tak ada teori yg pasti dalam hidup?


















