Well, ini berita duka. Setidaknya untukku. Atau malah berita suka cita? Sepertinya memang begitu. Dan kali ini aku akan memberi tahu apa berita (tidak) mengenakkan itu.
Di sebuah negara. Seorang gadis terlahir di bawah guyuran air hujan dengan beribu topeng yang menutup segala butir kesedihan. Topeng itu terlalu tebal hingga orang tertipu begitu mudahnya. Ia lahir di dalam sebuah keluarga ter………… (Itu susah dijelaskan). Intinya hidup si gadis hanya penuh sesal, amarah, dan kekecewaan.
Namun ini bukan tentang kelahiran dia. Dia sendiri tidak peduli tentang kelahirannya. Baginya cukup memperhatikan kelangsungan hidup tanpa perlu ikut campur dampaknya. Ia sudah begitu buta. Sampai-sampai di setiap kesedihan, air mata enggan keluar menampakkan dirinya. Setetes pun.
Keceriaannya. Senyumannya. Itu semua palsu. Anehnya, orang yang melihat akan langsung tergoda dan ikut merasakan emosi itu. Di sekelilingnya, mereka terlalu munafik. Tanpa diberitahu pun, ia mengerti. Orang-orang di sekitarnya sungkan mengenal dirinya. Hingga ia menjuluki dirinya sendiri, ‘Pembawa Kesialan’. Padahal dia membuat kepalsuan itu demi mendapatkan seseorang yang benar-benar peduli padanya. Mengerti susah hidupnya.
Beribu cara ia lakukan. Dari mulai mengatakan upaya secara tersirat hingga terang-terangan tak ada yang paham. Semua mencemoohnya. Dan di titik puncaknya ia menyerah.
Ia memilih mengabaikan walau rasa sakit itu terus datang mengganggu hidup. Seakan tidak peka, orang lain yang ia kenal baik ternyata membicarakan dia di belakang. Tapi bukankah sudah dikatakan bahwa ia terlalu buta? Perasaan, emosi, ekspresi, tidak dapat dirasakan. Senang, sedih, bahagia, kecewa, baginya sebuah benalu yang hinggap dijiwanya. Dan begitulah ia menjalani hidup. Seperti mannequin yang dipajang di toko. Artinya. Patung hidup berharap menjadi manusia biasa.