The wind is rising! We must try to live!
he wasn't even looking at me and he found me
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
No title available
cherry valley forever
styofa doing anything
No title available
wallacepolsom

titsay

JVL

Kaledo Art
Alisa U Zemlji Chuda

No title available
Misplaced Lens Cap
RMH

祝日 / Permanent Vacation

Andulka
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
we're not kids anymore.
Sweet Seals For You, Always

Product Placement
seen from Argentina
seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from Argentina

seen from Spain
seen from Canada

seen from United Kingdom
seen from Singapore
seen from Brazil
seen from Israel

seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Germany
seen from Argentina
seen from United States

seen from Australia

seen from Argentina
@nandirasa
The wind is rising! We must try to live!
Gpp, wajar, nikmati
Kalau sedang di fase males ikhtiar, ya gpp, wajar, nikmati. Kalau sedang di fase ingin sekali menikah pas mau 30, gpp, itu wajar, nikmati. Kalau sedang di fase capek karna segala cara udah dicoba tapi belum ketemu juga, ya gpp, wajar, nikmati. Kalau sedang di fase mulai berpikir untuk tidak menikah, gpp, itu wajar, nikmati. Kalau sedang di fase males berdoa, karna berdoa dari lama gak dikabul-kabul juga, berdoa atau gak berdoa sama aja, ya gpp, itu wajar, nikmati.
Rasa-rasanya semua perempuan single 30an pernah merasakan itu semua. Dan hidup tetap baik-baik saja, tentu dengan kebahagiaan yang bisa diciptakan dari uang yang dipunya.
Gapapa, itu wajar, nikmati. Kamu ga sendirian.
30 Oktober 2025
Di stasiun yang biasa, aku duduk termangu. Sambil mengumpulkan nyawa yang sepertinya tertinggal di dalam kereta. Aku mencoba menghapus kantuk dengan meneguk air mineral yang tersisa dalam botol.
Stasiun kembali lengang setelah orang-orang bergerak keluar. Di momen ini, seolah deja vu. 'Hari Sabtu, sekitar jam segini, aku sedang menunggu kereta ke arah Bogor.'
Terhitung beberapa kali aku berupaya ke Bogor, bahkan ke luar kota sepulang kerja, setelah menempuh perjalanan motor yang lumayan jauh. Ah kalau teringat saat itu, rasanya aku terlalu berusaha keras untuk 'lari' atau 'sibuk' dari sesuatu. Oh atau mungkin justru di saat itulah aku menemukan apa yang aku senang lakukan.
Sore ini cerah berawan.
Semangkuk es sekoteng di malam yang dingin
Aku menyendok es sekoteng dihadapanku. Manis bercampur dingin. Ternyata udara di luar lebih dingin dari yang kubayangkan. Entah apa yang membuat mama berpikiran memesan es di malam hari adalah pilihan yang tepat.
Beberapa jam lagi hari akan berganti. Sementara masih jauh perjalanan yang harus ditempuh. Ketika esok hari tiba, hari-hari itu akan dijalani lagi. Semuanya akan kembali pada hari-hari yang biasa. Seperti jarum jam yang terus berputar pada porosnya.
Aku harap hari ini dan kemarin bisa berlangsung selamanya. Yang aku takutkan adalah, kalau semuanya menghilang dan tidak bisa kembali lagi. Waktu, dengan begitu kejam, mengambil semuanya dariku.
Semua perasaan bercampur aduk menjadi satu di dalam mangkuk es sekoteng. Roti, kacang hijau, kolang-kaling, potongan kesia-siaan, bulir kekecewaan, air mata penyesalan. Manis, tapi dingin. Aku menyerah. Tidak sanggup menghabiskan semuanya.
Batu Sangkar, 2025
Suasana "rumah nenek" terasa begitu memasuki rumah di kampung. Secara umum, rumah ini tidak banyak berubah. Hanya lantai yang dulu masih sebatas semen, kini sudah diberi keramik.
Pernah tidak kamu merasa familiar pada suatu tempat? Padahal jaraknya sangat jauh. Tempat yang terasa seperti rumah, padahal jarang disinggahi.
Ya, seperti itulah yang sedang aku rasakan.
Pagi hari dilanjutkan dengan silahturahmi. Berkunjung ke makam kakek dan nenek, lalu keliling ke rumah-rumah keluarga. Cukup melelahkan buat aku.
Makan siang di salah satu rumah sanak saudara yang rumahnya berada di pinggir sawah. Yang jadi pertanyaan, kenapa kalau sedang berkunjung ke rumah saudara yang ini selalu saat makan siang? Menu makanan yang sederhana, tapi ternyata enaknya melebihi rumah makan padang manapun. Memori itulah yang selalu aku ingat.
Sore hari dilanjutkan dengan mencari pambukoan di pasar Batu Sangkar. Tidak sedang puasa, tapi berburu takjil tetap dilakukan. Makanan yang dibeli ada sala lauak, lamang tapai, kacang tanah, kerupuk kulit, kerupuk singkong, martabak mesir, sate padang, es campur, es alpukat. Sebenarnya yang lagi aku pengen seblak, tapi yaa enggak ada lah! Aneh-aneh aja, hahaa.
Sehari yang penuh. Kami kembali ke rumah di kampung dan beristirahat. Cuapek buanget, ditambah tidur yang belum proper sejak semalam.
Singkat, sederhana, tapi berkesan. Karena esok harinya, kita sudah harus berpindah tempat lagi ke Padang.
Mendadak Pulang Kampuang
Sebenarnya aku tidak menyangka kalau lebaran tahun ini akan pulang kampung. Kondisinya menyatakan untuk tidak. Aku cuma dapat libur seminggu, papa yang sudah pensiun dari kantor sebelumnya, mama juga tidak ada tanda-tanda menyatakan kalau mau pulang kampung.
Hingga H-2 lebaran, aku baru saja pulang dari tempat kerja, "Udah siap pulang kampung?" Kata papa tiba-tiba.
"..."
"Ooh karena sekarang ada supir cadangan ya??"
Supir cadangan = adik (bukan aku).
Jujur, untuk di usia sekarang, lebaran (atau secara umum kumpul keluarga), kadang menjadi momok pikiran. Sebut saja, karena status yang belum juga berganti. Jadi mau pulang kampung ayok, mau enggak juga alhamdulillah.
Mama lalu mempresentasikan idenya. Konsepnya pulang kampung sambil jalan-jalan. Eh bukan, jalan-jalan sambil pulang kampung!
Trauma mengantri kapal saat pulang kampung 3 tahun lalu, maka kami memilih hari Minggu pagi untuk berangkat. Yang mana, sehari banget sebelum idul fitri. FYI, perjalanan dari Jakarta ke Padang itu butuh waktu 2-3 hari jalur darat. Jadi kita lebaran di kota orang, di Palembang.
Aneh. Tapi seru aja. Ini kayaknya keberapa kali aku ke Palembang. Namun baru kali ini yang sambil keliling kota, bukan sekedar lewat. Kemana lagi kalau bukan the one and only, the legend, jembatan Ampera.
Kota persinggahan selanjutnya adalah kota Jambi. Aku baru sadar kalau kota Jambi ternyata kota yang cukup menarik. Dari gaya rumahnya, wisatanya, sejarahnya. Kami bahkan sempat jalan-jalan dulu ke tempat wisata candi-candi di Jambi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke kampung.
Seperti jalanan yang tiada habisnya. Dua belas jam perjalanan lebih, kebanyakan melewati kebun-kebun, hujan besar, sempet hampir dibegal, nyasar sedikit. Finally, sampai juga di kampung pagi buta.
Lalu...
Lanjut part 2.
Wanderin aroun
Weekend yang ga berasa weekend karena ternyata banyak hal yang perlu aku lakukan. Pekerjaan dadakan yang dikejar deadline, ke bengkel, mengurus orderan. Padahal aku sudah membayangkan akan melukis seharian di kamar.
Pulang dari suatu tempat, aku mampir dulu ke sebuah toko. Toko yang besar, dua lantai, yang baru beberapa bulan dibuka. Aku tidak menyangka, di pinggiran kota kecil seperti ini, ada juga orang yang membangun toko sebesar ini.
Keliling ke toko-toko semacam ini, menjadi kegiatan yang selalu menyenangkan, walaupun sebenarnya tidak ada yang ingin dibeli. Toko buku dan alat tulis selalu jadi sasarannya.
Pada akhirnya, setelah menahan diri, aku hanya membeli beberapa peralatan yang menunjang untuk jualan di art market. Tidak aku sesali, karena berguna.
Lalu algoritma membawaku pada video toko stationery, art supplies, dan karakter yang aku suka di Jepang. "Kapan ya bisa ke sana?" Pikirku. Mungkin kegiatan berkeliling itu bisa menjadi berjam-jam lamanya.
Ada banyak hal yang belum mampu aku lakukan. Sepertinya untuk sekarang, hal itu lah yang paling aku inginkan.
"Semoga tumbuh bunga di sela retakmu" adalah kutipan yang indah di penghujung tahun ini.
Dan benar saja, bunga itu tumbuh dengan sendirinya. Retakannya masih ada, selamanya. Tapi tergantikan dengan yang lain, yang mungkin memiliki keindahannya tersendiri. Dengan retakan itu, terbukalah jalan yang lain, yang tidak pernah terduga sebelumnya.
Akhir kata, aku berharap, "Semoga tumbuh bunga di sela retakmu."
Cerita tentang Pohon
Kalau pergi ke kota Bogor, aku suka melihat pohon-pohon di pinggir jalan. Pohon yang besar, tinggi, dan rindang, bertahan di tengah perkotaan yang padat.
Aku pikir, "Sudah berapa usia pohon ini hingga bisa seperti sekarang?" Maksudku, coba berdiri di sebelahnya dan rentangkan tangan selebar-lebarnya, tidak cukup untuk memeluk setengah darinya. Atau... lihat ujung tangkainya sudah setinggi langit!
Kadang aku berpikir juga, "Sudah berapa kejadian yang dia lalui?" Jaman berubah, orang-orangnya berganti, tapi pohon itu masih tetap di sana. Berdiri kokoh. Menjadi saksi dari waktu ke waktu. Memberi keteduhan ketika terik, namun juga bisa menjadi ancaman kalau sedang hujan.
___
Yaa.. bagaimana pun, aku takjub dengan bagaimana cara dia bisa bertahan hidup. Oh! Atau mungkin.. ini lah alasan kenapa hujan lebih sering turun di kota ini.
Lonely star
Di suatu malam, di perjalanan pulang, aku melihat ke langit, mencari keberadaan bulan dan bintang seperti yang biasa aku lakukan.
Namun yang kutemui hanyalah langit gelap dengan satu bintang. Hanya satu saja. Tidak ada bulan, tidak ada bintang lain.
Bintang yang sendirian, di antara luasnya langit yang gelap. Aku merasa kasihan, apa rasanya begitu kesepian di atas sana?
Aku terus melangkahkan kaki sambil sesekali melihat bintang itu, hingga aku sampai di tempat tujuan.
Namun, yang aku tidak tahu, kalau ternyata bintang itu pun juga melihatku dari kejauhan. Aku yang sendirian.
Desember. Jam 00.23. Di luar hujan.
Lagi, tahun akan berakhir. Siklus yang kembali berulang. Melewati awal tahun lagi, lalu tengah tahun, dan begitu seterusnya.
Waktu berjalan, orang-orang bergerak, aku jalan di tempat. Namun begitu, dengan beban yang lebih berat.
Berapa kali aku bilang aku tidak kuat. Padahal kenyataannya aku masih ada di sini, bukan?
Afirmasi
Kamu berharga dan layak mendapatkan hal-hal baik. Kamu punya banyak hal baik. Kamu memiliki kesempatan-kesempatan itu.
Hanya saja, mungkin selama ini kamu ketemu sama orang yang kurang tepat. Mereka yang terus menerus membuatmu merasa kurang, bersalah, dan merasa tidak berarti.
Hanya saja, mungkin selama ini kamu terjebak di tempat yang salah. Tempat yang terus menerus membuatmu merasa semakin merasa kecil, merasa kamu tidak bisa apa-apa, dan berujung pada hilangnya kepercayaanmu pada diri sendiri. Keraguanmu pada hidupmu sendiri semakin besar.
Kamu berharga. Kamu hanya butuh sedikit keberanian untuk pergi dari mereka dan meninggalkan tempat-tempat itu. Memang menakutkan, karena semuanya terasa samar di depan. Tapi lebih menakutkan lagi hidup dengan kondisi sekarang, seterusnya, selamanya. (c)kurniawangunadi
bagaimana kalau sebagian perasaan sedih yang kau alami itu membunuhmu. membuatmu berantakan, hilang, bahkan lupa peran. maka atas ujian-ujian perasaan dan segala hal yang tak henti datang, berdoalah! berdoalah!
berdoalah pada Allah supaya kau disibukkan dengan ilmu, bukan dengan perasaan. sibukanlah! sibukkan diri dengan hal-hal yang mampu mendekatkan dirimu pada Allah supaya ketenangan-ketenangan itu datang. Supaya kau punya energi untuk menyelesaikannya satu persatu, atau bahkan bisa jadi Allah langsung yang menyelesaikan seluruh masalahmu.
Walau semuanya terasa berat, walau perasaan menyerah itu sering sekali membayang-bayangi, tetap husnuzon pada Allah ya. Bahwa selalu ada hikmah dibalik semuanya.
Ditepian lelah, 11.42
Setenang Malam
Ada seseorang yang hari ini terasa gelap hari-harinya, terasa buntu jalan hidupnya, bahkan hanya untuk melangkah keluar rumah saja ia takut, tersebab terlalu bising isi kepalanya, dan hatinya pun sedang bergemuruh tidak menentu.
Kamu tahu, setiap kita pasti akan merasakan ketidaknyamanan hidup, sebab begitulah Tuhan mengatur dan menuliskan alur cerita hamba-Nya, agar ia tahu dan sadar, bahwa tangan dan uang itu seringkali tidak mendatangkan solusi.
Cobalah ingat lagi, soal dimana dahulu kamu dan aku pernah mengalami masa-masa sulit, bukankah saat itu doa kita begitu menyejukkan dan menenangkan hati? Bukankah dulu sholat kita begitu nikmat, bahkan sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat kita tunggu. Untuk mengadu pada Tuhan di saat yang lain mungkin sedang lelap dalam tidurnya.
Sulit ya rasanya untuk mengulang hari-hari itu :')
Hari ini, sebenarnya yang kita butuhkan adalah apa yang kita dulu pernah lakukan. Mendekat pada-Nya. Semudah dahulu kita menangis pada-Nya.
Aku pun sama denganmu, sedang menunggu ijabah dari apa yang selalu ku langitkan, menanti terwujudnya harapan pada apa yang aku selalu prasangkakan.
Ada satu hal yang selalu menenangkan untuk diingat, bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan prasangka baik hamba-Nya. Pasti.
Wahai hati, bersabarlah sedikit lagi, ya :')
@jndmmsyhd
Sometimes when I look at the moon, I wonder that, "are you look at it too?"