HADIAH SATU TAHUN JADI IBU
Semua orang termasuk ibu selalu lebih antusias merayakan perayaan hari jadi anak. Aku sendiri saat satu tahun jadi ibu, hanya mengevaluasi kinerja diriku bagaimana saat satu tahun jadi ibu. Bahkan lupa untuk mengapresiasi diri sendiri yang sudah mau berusaha kuat untuk jadi ibu yang perjalanannya takmudah.
Tapi ternyata diam-diam ada yang mengamati perjalananku saat menjadi ibu. Ia membuat perayaan mencekam dan memberiku sebuah hadiah. Hadiah itu berupa luka karena seluruh kekuranganku dikuliti habis-habisan diwaktu malam. Meski sudah beberapa bulan berlalu, namun luka itu belum membaik. Hingga aku memutuskan untuk menuliskannya di sini sebagai bentuk self healing. perayaan mencekam itu masih saja sering membuat bising isi kepala. Membuat diri trauma dan ketakukan jika bertemu mereka.
Terekam jelas semua kata-kata yang mereka sampaikan.
"Kamu itu belum layak jadi ibu, anak dibiarkan main tanah! Nggak pernah dipakaikan kaus kaki!”
“Kamu itu saya perhatikan, menyepelekan puasa sekali. Hamil nggak puasa, menyusui nggak puasa. Lihatlah istriku, anaknya 5 tapi nggak pernah selemah kamu. selalu kuat, nggak menyepelekkan puasa dll.”
“Kamu itu pakaian tertutup, sampe wajah pun ditutup, tapi berteman pilih-pilih. Tidak mau bertetangga.”
Oh Allah, Alasanku membiarkan anak tak memakai kaus kaki, bermain tanah, dan lain-lain. bukan sekadar menstimulasi tumbuh kembangnya saja melainkan bagaimana aku menanamkan dan mengenalkan kefitrahan dan tauhid melalui alam dan tanah ciptaanmu.
Oh Allah, rasanya aku takperlu menjelaskan bagaimana kepayahanku saat mengandung di trimester pertama mengalami hipermesis gravidarium atau mual muntah berlebih. hingga tak bisa berpuasa sebab dari pagi hingga malam terus-terusan muntah hingga menangis tiap hari karena lelahnya mengalami kepayahan itu. Bahkan takada makanan yang masuk. Suamiku menyaksikan, orangtuaku menyaksikan, mereka semualah yang mengurusiku. Mengurusi muntah yang berceceran, menyiapkanmu makan, dll. Ibuku telah melahirkan 8 kali dengan metode alamiah. Ia tak merasakan mabuk saat hamil. namun sama sekali tak pernah membandingkan diriku dengannya. Bahkan ayah dan ibu selalu mendukungku.
Oh Allah, aku bersyukur, ibu ku selalu berpakaian rapih sebagai muslimah. Sehingga orangtuaku tak pernah mempermasalahkan pakaianku yang sebenarnya adalah hal lazim bagi seorang muslimah.
Rasanya aku takperlu menjelaskan bagaimana aku dengan tetangga rumah ngobrol dan bercanda. Takperlu menjelaskan bagaimana tiap malam aku mengeluh pada suami supaya aku dapat teman baru dan kontakan dakwah lalu mencari solusi bersama di tempat baru ini.
Oh Allah, bahkan sebelum mereka mengatakan aku tak layak jadi ibu perkara aku membiarkan anak bermain tanah, aku sendiri sudah sering merasa tak layak menjadi ibu sebab takbisa memberikan yang terbaik untuk anakku.
Ohً Allah, aku sakit hati atas perkataan mereka yang menguliti kepayahanku saat hamil, sebab mereka tak melihat bagaimana payahnya hari-hariku saat itu namun begitu mudahnya lisan itu menyakitiku.
Oh Allah, aku sadar egoku begitu tinggi, tapi aku bersyukur karena belajar memahami syariatmu selalu membuat ego itu luruh bersamaan dengan penerimaan walau prosesnya pelan.
Aku takmau pura-pura kuat. Aku mengakui kepayahanku saat menghalau semua penghakiman yang mereka beri. Aku menikmati setiap rasa sakit itu. Bekas luka itu memang tak akan hilang, bahkan masih basah. Namun aku memilih berusaha memaafkan mereka supaya aku bisa fokus merawat luka yang mereka torehkan dan sembuh kembali.
Aku memang punya pilihan untuk meng cut off mereka dari kehidupanku. Namun aku sadar bahwa ini adalah qada Allah. Aku tak akan dihisab atas perlakuan mereka padaku, namun Allah menilai bagaimana responku atas perlakuan mereka.
Ramadan ini semoga menjadi waktu terbaik dalam menyembuhkan luka. aku yakin yaAllah, bersamamu luka ini pasti sembuh✨