Entah bagaimana, jalur ini (wajar) menelan korban. Hanya hantaran doa selagi dunia belum kiamat. Mungkin cukup(!) nekad, tekad, hasrat, ambisi atau (apapunlah) unsur penting dalam pendakian. Atau mungkin itu semua benar, silahkan saja. Coba kita telaah, cukupkah sampai disitu. Modal nyali alias tekad, kalah urusan nanti. Situ mau tawuran?. Habis logistik ya balik, ada badai ya berhenti, gak mampu ya turun. Disinilah proses sadar diri sebenarnya. Pahami kemampuan, latih keterampilan, gunakan alat yang memadai, jangan malu bertanya. Kalau ada toilet, ngapain kencing di ban mobil. Sungguh itu bukan hal memalukan. Santai aja, besok datang lagi. Semoga mereka yang gugur di medan perang sebab kecerobohan mendapat surga Mu kelak. Amin.#10 (at Tusuk Gigi Port)













