Imam Al-Bukhori (Kitab memohon izin, bab apabila mereka lebih dari tiga tidak apa-apa bercerita rahasia dan berbisik-bisik, nomor hadits 5816) meriwayatkan sebuah hadits yang melalui sahabat Abdullah Ibnu Mas'ud,
1. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى رَجُلَانِ دُونَ الْآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ أَجْلَ أَنْ يُحْزِنَهُ* {صحيح البخاري، 19/ 339}
Dari Abdullah (Ibnu Mas'ud) r.a., Rosululloh Shollallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Apabila kalian bertiga, maka janganlah berbisik-bisik berdua tanpa yang lainnya, sampai mereka berbaur dengan orang-orang lain, karena hal itu akan membuat yang ketiga bersedih." (H.R. Al-Bukhori, Shohihul-Bukhori, 19: 339).
Takhrij (Periwayatan) Hadits
Ternyata hadits tersebut tidak hanya diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori saja. Beberapa imam hadits turut juga meriwayatkannya, seperti Imam Ahmad (Musnad Ahmad, 8: 369, nomor hadits 3834), Imam Muslim (Shohih Muslim, 11: 169, nomor hadits 4053), Imam At-Tirmidzi (Sunanut-Tirmidzi, 10: 33, nomor hadits 2751), dan juga Imam Ibnu Majah (Sunan Ibnu Majah, 11: 215, nomor hadits 3765). Semua periwayatan tersebut melalui jalur yang sama, yaitu Abdullah Ibnu Mas'ud. Sehingga bisa disebutkan bahwa riwayat hadits tersebut cukup populer di kalangan imam hadits.
Tautsiq (Pengokohan) Hadits
Di samping riwayat tersebut, hadits dengan makna yang sama juga diriwayatkan dari sahabat-sahabat yang lain. Masing-masing memiliki makna yang hampir sama dengan aksentuasi yang sedikit berbeda dibandingkan hadits riwayat di atas.
2. عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ* {مسند أحمد، 13/ 91}
Dari (Abdullah) Ibnu Umar ia berkata, Rosululloh Shollallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Jika kalian bertiga, maka janganlah berbisik-bisik rahasia dua orang tanpa yang ketiga *kecuali dengan izinnya*, karena hal itu akan membuatnya sedih." (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad, 13: 91).
3. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُوْنَ الثَّالِثِ، فَإِنَّ ذلِكَ يُؤْذِي المُؤْمِنِ، وَاللهُ يَكْرَهُ أَذَى المُؤْمِنِ* {المعجم الأوسط للطبراني، 11/ 221 }
Dari (Abdullah) Ibnu Abbas ia berkata, Rosululloh Shollallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Janganlah dua orang berbisik-bisik rahasia tanpa yang ketiga, *karena hal itu akan menyakiti orang mukmin, sedangkan Allah tidak menyukai menyakiti orang mukmin*." (H.R. Ath-Thobroniy, Mu'jamul Ausath, 11: 221).
Syarah (Penjelasan) Hadits
Hadits pertama menunjukkan dengan jelas kepada kita bahwa dilarang seseorang untuk berbisik-bisik rahasia berdua dengan temannya pada saat bersama mereka ada juga temannya yang ketiga. Alasan utama yang disabdakan oleh Rosululloh Shollallahu 'Alaihi wa Sallam adalah, hal itu bisa membuat orang ketiga bersedih. Di kali lain, seperti ditunjukkan hadits ketiga, Rosululloh Shollallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa perlakuan seperti itu hanya akan menyakiti orang mukmin. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan tidak menyukai perbuatan menyakiti seorang mukmin. Sehingga di hadits kedua, Rosululloh Sholallahu 'Alaihi wa Sallam memberikan petunjuk "kecuali dengan izinnya". Itu semua menggarisbawahi keharaman menyakiti orang mukmin lainnya dalam bentuk apapun bahkan untuk hal-hal yang dianggap sepele oleh kebanyakan orang.
Berbisik-bisik secara rahasia pada saat ada orang ketiga adalah perbuatan yang menyedihkan dan menyakiti orang ketiga. Itu bukanlah akhlaq dan adab orang-orang beriman. Orang beriman jiwanya terawat oleh keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pantang bagi mereka untuk saling menyakiti satu sama lain. Bagi mereka, orang mukmin adalah belahan jiwanya yang lain. Menyakiti mereka berarti menyakiti dirinya sendiri dan mengingkari keimanannya sendiri. Terlebih lagi perilaku berbisik-bisik rahasia berdua tanpa orang ketiga adalah kebiasaan orang kafir dan orang munafiq serta orang Yahudi (Ibnu Katsir, Tafsir Quranil Adzhim, 8: 42).
Orang mukmin adalah aset bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bagi RosulNya. Merekalah prototipe makhluk Allah terunggul yang diproyeksikan untuk surgaNya. Itu hal yang wajar karena orang mukmin sejatinya para pejuang yang memperjuangkan kebaikan nama Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia. Mereka "menghilangkan diri" mereka untuk itu. Mereka mengembalikan segala sesuatunya kepadaNya. Mereka hanya mengejar keridhoanNya. Hanya berharap dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga semua perjuangan dan pengorbanan mereka diganti dengan perlindungan dan kasih sayangNya.
Untuk itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi petunjuk melalui rosulNya tentang akhlaq dan adab sesama mukmin. Rosululloh Shollallahu 'Alaihi wa Sallam mengilustrasikan,
تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى* {صحيح البخاري - ج 18/ص 426}
"Kalian akan perhatikan orang-orang beriman dalam upaya saling menyayangi, saling mengasihi, dan saling melindungi antar mereka seperti satu badan: apabila salah satu anggota meringis sakit, maka seluruh badan akan merasakan sakit tidak bisa tidur dan demam." (H.R. Al-Bukhori, Shohihul-Bukhori, 18: 426).
Ilustrasi di atas memberikan gambaran yang jelas kepada kita semua tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap terhadap mukmin lainnya. Begitu jelas perhatian, rasa hormat, rasa sayang, rasa kasih, rasa perlindungan, simpati dan empati, serta pemuliaan antara satu orang mukmin akan mukmin lainnya. Tidak ada rasa iri, hasud, perendahan, takabur, ujub, pengabaian, ataupun pengasingan. Mirip sekali dengan satu badan yang tidak bisa acuh akan kondisi salah satu anggota badannya.
Di kali yang lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisyaratkan bahwa orang-orang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya (Q.S. Al-Hujurot [49] : 10). Saudara yang tidak didasarkan pertalian rahim dan nasab, tetapi dijalin oleh kesamaan Tuhan dan RosulNya. Sehingga semua ego dan emosi "dijinakkan" di depan keagungan nama Allah Azza wa Jalla dan luhurnya kedudukan Rosululloh Shollallahu 'Alaihi wa Sallam. Tidak ada yang berani bersikap tidak baik terhadap saudara seimannya karena mereka meyakini bahwa Allah Tabaroka wa Ta'ala punya stok adzab yang banyak untuk menghukum ketidakbaikan itu.
Suatu ketika, Rosululloh Shollallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ * {صحيح مسلم، 12/ 426}
"Janganlah kalian saling hasud, saling bersaing, saling bermusuhan, saling berpaling, dan janganlah sebagian kalian menawar atas barang tawaran sebagian yang lain dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya: ia tidak menzaliminya, tidak mengabaikannya, dan tidak merendahkannya. Ketaqwaan itu ada di sini —dan Beliau menunjuk pada dadanya tiga kali—. Cukup bagi seseorang keburukan bila ia merendahkan saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (H.R. Muslim, Shohihu Muslim, 12 : 426).
Lihatlah! Begitu tegasnya Beliau merinci semua perlakuan yang dilarang terhadap seorang mukmin. Itu semua dilakukannya karena puncak keimanan seseorang adalah adab dan akhlaq yang mulia. "Akmalul mu'minina imaanan, ahasinuhum khuluqon (Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya, adalah orang mukmin yang paling mulia akhlaqnya)." Adab dan akhlaq mulia adalah mahkotanya orang mukmin. Hal itulah yang menobatkannya sebagai orang mulia. Seorang raja tanpa mahkota berarti ia kehilangan kerajaanya, jatuh kedudukannya, dan merosot kekuasaannya. Orang mukmin tanpa adab dan akhlaq yang mulia, hilang kedudukannya, merosot martabatnya, dan gugur kehormatannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ada beberapa sikap dan perilaku yang harus dijauhi oleh seorang mukmin: [1] Tahasud (saling hasud), [2] Tanajus (saling bersaing tak sehat), [3] Tabaghud (saling bermarah-marahan), [4] Tadaabur (saling berpaling), [5] Tadzlim (mendzalimi), [6] Tahdzil (mengabaikan), [7] Tahqir (merendahkan), [8] Takdzib (mendustai), [9] Taqthi' (memotong jalur kebaikan), [10] menghina, [11] meminta menceraikan madunya, [12] Tajassus (mengorek aib), [13] melamar wanita yang sedang dilamar orang lain, [14] Tahjir (menjauhi), [15] menawar barang yang sudah ditawar, dan lain sebagainya.
Jadi, jiwa orang mukmin adalah jiwa yang tenang dengan semua kesuksesan saudara mukminnya. Tidak ada keburukan dalam hatinya akan semua keberhasilan dan kesejahteraan saudaranya. Di sisi lain, ia bergitu khawatir dengan kesedihan dan kegetiran saudara mukminnya. Tidak sampai hati ia membiarkan dan mengabaikan saudaranya. Ia berkeyakinan bahwa ia harus sama-sama berhasil menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala yang bersaudara. Jiwa orang mukmin adalah jiwa yang sehat tanpa ada gangguan. Bila kita merasakan satu atau lebih dari sikap yang disebutkan pada paragraf sebelumnya, maka kita mengalami "gangguan jiwa!" Na'udzu billah min dzalik.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing kita menjadi mukmin yang paripurna, aamiin.~