Selasa, 12 Rabiul Awal 1435 H ( 14 January 2014)
Pagi itu udara terasa begitu dingin seperti biasanya, karena sedari tadi malam hujan terus menerus mengguyur hampir di seluruh kota tempat aku tinggal atau mungkin di seluruh Indonesia karena bulan ini memang musim hujan.
Jam kecil berbentuk gitar tepat berada di sebelah monitor menunjukan pukul 4 pagi, kurang lebih 15 menit lagi suara adzan berkumandang. Rasa kantuk masih hinggap di mataku, lalu ku coba memaksakan badan ini untuk duduk dahulu sembari mengumpulkan jiwa-jiwaku yang telah mengarungi lautan mimpi disepanjang malam. Alhamdulillah, ucapku dalam hati sembari ku usapkan kedua telapak tangan pada wajah disertai dengan doa.
Suara pintu belum terdengar seperti biasanya olehku, dengan sigap aku langsung membuka pintu kamar. Baru saja ku buka ternyata ibuku sudah ada di depan pintu yang tadinya akan mengetuk untuk membangunkan ku.
Yes! I’m faster than my mom for this time!
“Udah bangun? ya udah sok cepetan ambil wudhu bentar lagi mau adzan!” ucap ibuku.
Hanya senyuman termanis yang aku lontarkan, lalu qku langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Bismilahirrahmanirrahim, ku siramkan air yang sejuk ini ke seluruh permukaan anggota wudhu. Mulai dari dari telapak tangan, lalu ku usapkan air ini disertai niat berwudhu ke bagian wajahku, lalu kedua tangan, rambut, kedua kaki hingga yang terakhir kutartibkan dengan doa.
Badanku sudah kembali segar, suara-suara nan indah lantunan adzan telah berkumandang bersahut-sahutan di seluruh penjuru kota. Dengan cepat ku pakaikan badanku ini dengan gamis ¾ bewarna coklat disertai dengan sarung yang bewarna sepadan motif kotak-kotak dan tak lupa kopiah ku pakai untuk menutup sebagian rambutku. Perfecto!!!
Ku buka pintu rumah yang sudah tak terkunci karena sebelumnya ayahku sudah terlebih dahulu pergi ke masjid sebelum adzan berkumandang. Langit pagi masih begitu gelap, ku susuri gang kecil yang hanya cukup satu 1 motor saja yang mampu melewatinya di temani dengan cahaya lampu milik rumah tetangga untuk menerangi jalanku menuju masjid. 2 rakaat sudah ku penuhi dan tak lupa di tutup dengan doa penuh harapan kepada Sang Khalik untuk melengkapi kebutuhan rohaniku di pagi hari.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 04.40 pagi, aku langsung bersiap mandi karena hari ini aku dengan teman komunitasku (Warung Imajinasi) akan pergi Hiking ke sebuah Danau di Majalaya. Yee!!!
Semua perlengkapan telah siap begitupun aku yang telah siap sedia dengan kemeja panjang garis merah abu di sertai celana abu tua plus sandal gunung favoritku juga jaket biru tua untuk melindungiku dari hawa dingin pagi itu.
Jam 05.10 pagi, Aku telah bersiap untuk pergi ke tempat pertama kami kumpul di Warung Imajinasi tepatnya daerah Cipaganti, Jl. Dr. Curie No. 1 Bandung. Seperti biasanya sebelum aku pergi, aku pamit pada orangtuaku dahulu untuk meminta doa agar aku selamat sampai tujuan tak kurang satu apapun. Namun aku hanya pamit pada ibuku saja karena ayahku masih berada di masjid. Ku cium tangan kanannya yang masih tertutupi oleh mukena dengan penuh cinta.
“Mah, Gun pamit dulu ya. Assalamu’alakum!”
“Wa’alaikum salam. Hati-hati ya!” timpal ibuku.
Ku buka pintu rumahku dengan penuh semangat, ku langkahkan kaki kiriku untuk memulai perjalanan.
Bismillahi tawakatu ‘Alallahu La hawla walaa Kuwwata Illah Billah…
Langit pagi masih sedikit gelap disertai dengan hawa dingin yang sesekali merangsek masuk ke dalam sela-sela jaketku yang tebal. Mestakung!!! Slogan itu spontan ku ucapkan karena pagi itu seakan Semesta Mendukung untuk menahan muntahan air dari langitnya agar kami bisa hiking dengan tenang tanpa perlu basah-basahan.
Kakiku terus melangkah dengan semangat menyusuri jalan sampai akhirnya aku tiba di tempat menunggu angkot. Jalanan masih sangat sepi hanya beberapa angkot dan motor saja yang berlalu lalang. Angkot jurusan St.hall-Cimahi belum saja lewat, yang ada hanya angkot jurusan Leuwi panjang yang lebih rajin lewat itupun hanya 1 atau 2 saja. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya angkot jurusan St.hall-Cimahi terlihat dari kejauhan. Dengan cepat ku lambaikan tanganku yang dingin ini agar angkotnya berhenti. Angkotpun berhenti tepat di depanku lalu aku masuk kedalam. Di dalam angkot hanya ada 2 penumpang saja, yang satu seorang ibu berkerudung hitam yang hendak pergi ke pasar dengan mantel coklatnya yang tebal plus kantong kecil yang telah dibawanya dari rumah sedangkan satu laginya seorang bapak dengan baju rapi yang sepertinya akan pergi berkerja.
Brem… brem… brem.. angkot melaju dengan cepat tanpa hambatan karena memang pada saat itu jalanan masih kosong mungkin karena masih pagi. Tanpa disadari angkot yang aku tumpangi tidak melewati jalan yang biasanya. Aku bingung, namun setelah ku lihat-lihat aku ingat bahwa jalan ini menuju Braga.
Syukurlah, setidaknya aku tau jalan ini kemungkinan untuk nyasar dikit-lah, hiburku dalam hati.
Lalu aku turun dari angkot tepat beberapa meter di sebelah Bank BNI JPK (Jalan Perintis Kemerdekaan). Namun aku mulai ingat lagi, masalah ini belum selesai perjalanan menuju WI masih setengahnya sedangkan aku belum pernah ke WI lewat Braga. Dengan cepat ku kirim sms pada temanku Fitri yang ku harap dia tahu kawasan tempatku berada. Ku susuri jalan sambil menungu jawaban dari Fitri sampai akhirnya aku berhenti sejenak tepat di depan Pemkot Bandung. Hp-ku bergetar tanda sms diterima dengan cepat ku baca isi smsnya dan dia menyarankan aku untuk naik angkot jurusan Kalapa-Ledeng. Alhamdulillah…
Namun lagi-lagi aku harus bersabar menunggu, karena masih pagi jadi angkotnya jarang lewat. Hanya kendaraan pribadi dan taksi saja yang datang silih berganti dan sesekali di selingi oleh bus damri. Sembari menunggu angkot lewat aku berjalan sedikit demi sedikit sambil beberapa kali menoleh ke belakang siapa tahu angkot itu datang. Benar saja setelah aku berjalan beberapa meter dan menoleh untuk yang kesekian kalinya, akhirnya angkot yang aku tunggu datang juga. Dengan sigap aku lambaikan tangan “lagi” agar angkotnya berhenti. Alhamdulillah…
Hp-ku bergetar lagi, ternyata temanku Fitri sudah sampai lebih dulu di WI sedangkan aku masih dalam perjalanan karena baru saja naik angkot yang kedua. Finally setelah beberapa menit berlalu aku sampai di WI, Fitri sudah menungguku skitar 1 meter di tempat angkotku berhenti. Lalu aku lambaikan tangan padanya. Dia sudah siap Hiking sepertiya dengan sweater motif bewarna coklat di padu dengan skinny jeans biru plus sepatu biru pula dengan gaya rambut yang selalu dia ikat cepol.
“Udah lama Fit?” sapaku
“Baru aja” jawabnya singkat.
Singkat cerita dia pun sempat nyasar, dia salah ambil belokan menuju WI. Memang sih jalan menuju WI emang banyak belokan salah belok saja jadi nyasar deh, hehehe…
Aku dan Fitri sampai di WI jam 6 pagi. Well, sudah aku duga sebelumya WI masih kosong teman-teman yang lain belum pada datang padahal tadi malam kita sudah di sms untuk berkumpul di WI jam 5.30 pagi dari Kak Intan, but it’s okay setidaknya aku dan Fitri tidak datang terlambat walaupun sebenarnya lebih 30 menit dari waktu yang di tentukan tapi kami datang yang pertama. Yee!!
Sambil menunggu teman yang lain, kami menunggu di kios dekat WI berada. Selang beberapa menit berlalu, Kak Intan bersama temannya muncul dari kejauhan. Beat putih itu mengantar mereka menuju WI. Lalu Kak Intanpun melambaikan tangannya kearah kami berdua, dengan spontan kami membalasnya disertai senyuman terindah kami. (rada lebay, hahaha…)
Kak Intan, tepatnya Intan Ardiani. Perempuan tinggi kurus berkerudung dengan kacamata super tebelnya jika dia sedang bekerja (kalau boleh di bilang lebih mirip keler sih, hahaha.. piss ah!!) namun beda halnya kalau dia akan pergi main seperti ini . Keler yang “super tebelnya” dia ganti dengan kotak lensa bewarna coklat yang membuat matanya terlihat lebih besar, kerudungnya pun lebih terlihat modis dan finally jadilah Kak Intan yang baru, cantik!.
Lalu kami berdua, aku dan Fitri menghampiri mereka. Tanpa menunggu lama Kak Intan memperkenalkan temannya kepada kami. Namanya Kak Rezi, teman kerjanya Kak Intan namun tidak satu sekantor dengannya.
Kami hanya bisa duduk diluar saja, karena WI masih terkunci dengan rapat. Sang pemegang kunci yaitu Denta tak bisa datang karena saat itu dia mendadak sakit. Beberapa menit berlalu, teman-teman yang lain mulai berdatangan. Di mulai dengan Ka Rini dengan temannya Kak Adam lalu disusul oleh Kak M yang nama aslinya M. Taufik namun dia lebih familiar hanya dipanggil dengan 1 huruf saja yaitu “M” dan yang terakhir Kak Robi dan Kak Ade dengan mobil putihnya yang siap mengangkut kami yang tidak membawa kendaraan. Tanpa menunggu lama lagi karena waktu sudah pukul 7.30 pagi, kami bersiap-siap untuk pergi.
Satu per satu naik mobil, dan aku di suruh naik motornya Kak Intan sedangkan dia dan temannya sudah duluan naik mobilnya Kak Robi. Aku hanya bisa tersenyum saja, saat itu aku berboncengan dengan Kak M dan 1 motor motor lagi di tunggangi Kak Adam dan Kak Rini.
1 mobil dan 2 motor sudah siap berangkat. Mobil putih Kak Robi mulai melaju duluan meninggalkan kami untuk menjemput sebagian teman kami di daerah Buah Batu. Kami telah siap menyalakan motor, dan brem.. brem.. brem… motor kami jalankan kearah yang sama tempat semuanya berkumpul aka Meeting Point sebelum ke Majalaya.
Selang beberapa menit kemudian, kami tiba di daerah Pasar Kordon, Buah Batu. Mobil Kak Robi sudah lebih dulu tiba disana bersama dua motor yang dibawa Kak Riana dan Kak Nasrul, kemudian aku dan motornya Kak Adam tiba pada plotter yang terakhir.
Mobil Kak Robi sudah dipenuhi oleh penumpang, yaitu ada Kak Ade yang menemani Kak Robi duduk paling depan. Dibelakangnya ada Kak Reka, Kak Rezi dan Kak Intan. Terakhir di kursi paling belakang ada Fitri, Kak Tisa dan Defit.
Semuanya sudah berkumpul, namun sebelum kami berangkat Kak Intan menghampiri Kak Riana lalu memberi pesan khusus yang isinya diperuntukan untukku. Well, Kak Intan menitipkan aku pada Kak Riana agar tidak meninggalkanku jauh-jauh pada saat perjalanan nanti ke Majalaya. Memang sebenarnya ini pengalaman pertamaku membawa motor yang terjauh sampai ke Majalaya so Kak Intan “mungkin” a little bit worry about me. Anyway Syukron Kak Intan…
Mobil kembali melaju menjadi yang pertama meninggalkan kami yang membawa motor. Beberapa menit kemudian giliran kami melajukan motor untuk berangkat menuju Majalaya.
Bismillahirrahmanirrahim…
Ku ambil napas yang panjang sedalam-dalamnya untuk lebih memberanikan lagi diriku dan brem… motor beat putih ku jalankan. Ku selalu ingat pesan dari salah satu kakakku. He said that “Kalau di jalan itu harus selalu ingat Allah, banyakin dzikir agar semuanya lancar”. Oleh karena itu, sepanjang perjalanan ku coba untuk memenuhi ruang hatiku dengan bacaan dzikir walau sesekali aku lupa membacanya tapi setidaknya hatiku perlahan demi perlahan mulai tenang dan aku lebih bisa menikmati perjalanan jauhku membawa motor bersama Kak M yang aku bonceng.
Dalam perjalanan aku lihat jarum penanda bensin sudah berdiam diri di bagian merah, tanda Si Motor sudah kehausan. Lalu ku cari tempat untuk mengenyangkan isi perut Si Motor yang aku tunggangi dan beberapa menit kemudian I found it! lalu teman yang lain ikut berhenti juga disana.
Aku sudah mengantri namun saat akan membuka bagasi, dia sangat susah untuk di buka. Aku dan Kak M terus-menerus berusaha untuk membuka bagasinya namun tak kunjung berhasil padahal giliran kami sudah dekat untuk mengenyankan perut Si Motor. Sampai giliran kami tibapun “dia” masih keukeuh tak mau membuka mulutnya (read bagasi). Motor-motor yang lain sudah mengantri di belakang kami, dengan terpaksa aku dorong Si Motor ke depan agar tidak menghalangi motor yang lain yang sudah kehausan juga untuk minta di recharge kembali.
Lalu ku panggil temanku yang lain untuk membantu membuka mulutnya (read bagasi) Si Motor. Alhasil, tetap saja mulutnya tak mau dibuka juga sampai petugas SPBU-ny pun ikut membantu untuk membuka mulut Sang Motor tapi dia masih keukeuh tak mau dibuka dan untuk yang kesekian kalinya kami masih gagal.
Sampai kakhirnya aku kirimkan sms pada yang punya Si Motor yaitu Kak Intan, dan beberapa menit kemudian Kak Intan langsung meneleponku. Selagi ku berkeluh kesah tentang Si Motor, akhirnya Kak Riana berhasil membuka mulut Si Motor. Yee!!! We did it, exactly He (Kak Riana) did it!!!
Mungkin Si Motor sudah menyerah mempermainkan kami karena terlalu haus untuk melanjutkan permainan “gila” ini, hehehe…
“Kak, udah berhasil!! Alhamdulillah…” lalu aku lebih dulu menutup telponnya.
Alhamdulillah, akhirnya aku tidak perlu repot-repot dorong Si Motor beat putih ini sampai ke Majalaya. How imagine aja perjalanan masih jauh men! Bisa gempor nih kaki, hahaha
Kurang lebih 2 jam perjalanan kami sudah tiba di daerah Majalaya namun butuh beberapa menit lagi bahkan setengah jam untuk sampai di Kampung Neglasari Kec. Ibun di rumah Pak Ahmad Daan tempat kami berkumpul sebelum Hiking ke danau nanti di mulai.
Suasana khas pedesaan mulai terasa, aku menghirup udara yang sejuk sepanjang perjalanan. Panorama indah seperti sawah, ladang dan hutan mulai memanjakan mataku di sela-sela perjalan menuju kesana. Sungguh indah… Masya Allah
Akhirnya aku dan temanku yang lain sampai juga di rumah Pak Ahmad Daan. Kak Wenda dan Kak Puput sudah terlebih dahulu tiba disana di susul Kak Robi beserta bala tentaranya yang ada di mobil juga Kak Nasrul yang lebih dahulu tiba disana sedangkan kami menjadi plotter yang terakhir “lagi” tiba disana karena kejadian tadi.
Tanganku terasa sangat dingin, ku duduk sebentar di teras rumahnya Pak Daan (panggilan akrab Pak Ahmad Daan) sambil meluruskan otot-ototku agar relaks kembali setelah perjalanan tadi.
A couple minutes later…
Ka Wenda menginstruksikan kami untuk berkumpul dengan membentuk lingkaran besar tepat di rumah Pak Daan untuk berdoa sebelum perjalan di mulai. Doa pun di pimpin langsung oleh Pak Daan, setelah berdoa selesai lalu Pak Daan menceritakan sedikit mengenai danau yang akan kami kunjungi nanti. Mulai dari mitos-mitos yang berkembang sampai sejarah bahwa Danau yang bernama Ciharus itu merupakan tempat persembunyiannya Kartosuwiryo*. Dan terakhir sebelum berangkat beliau berpesan pada kami agar selalu menjaga sikap, menjaga ucapan agar tidak sompral dan beberapa aturan lain yang tidak boleh kami langgar so intinya kita dilarang untuk “Sombong”.
Hiking pun di mulai tepat pukul 10 pagi….
Rombongan kami berjumlah 16 orang ditambah 5-6 orang penduduk asli darisana sebagai guide kami agar kami bisa sampai menuju Danau Ciharus. Perjalanan awal disuguhi dengan jalanan beraspal dengan sedikit menanjak. Rumah-rumah warga masih menemani di perjalanan awal kami. Sesekali sawah dan ladang milik warga menjadi panorama tersendiri di sela-sela rumah warga.
Perjalanan masih terus menerus menanjak namun masih dalam kawasan rumah penduduk. Keringatku satu persatu mulai berjatuhan, napasku mulai terasa berat padahal perjalanan masih sangat jauh namun semangatku masih berkobar-kobar. Aku lihat wajah teman-temanku yang lain, ternyata mereka mulai merasakan lelah sama sepertiku.
Rumah penduduk mulai hilang satu persatu, jalan setapak berlumpur hanya bisa di lewati oleh satu orang pun siap kami lewati. Dengan sangat hati-hati kami mulai menyusuri jalanan itu, jalan berlumpur sudah berhasil di lewati. Setetah itu, mata kami di manjakan oleh rindangnya pohon-pohon bamboo bewarna kuning kecoklatan. Jalananpun dipenuhi oleh daun-daun bamboo yang berjatuhan oleh angin seakan kami berjalan di atas “karpet” alami berwarna coklat. Track hutan bamboo sedikit menanjak,
hap hap hap… ku tapaki jalan dengan penuh semangat.
Aku lihat kanan dan kiri, begitu indah di pandang walaupun hanya pohon bamboo saja namun ciptaan Allah yang Maha Indah ini begitu luar biasa. Ditemani dengan pohon-pohon kecil hijau di sertai cahaya matahari yang menembus dedaunan menambah sempurna keindahan hutan bamboo yang ku lewati ini. Masya Allah…
Langkah kakiku semakin semangat, tak sabar rasanya untuk melihat pemandangan indah lainnya yang sudah sabar menunggu di depan sana. Track mulai menanjak dan makin menanjak lagi disertai dengan lumpur yang membuat jalanan menjadi licin dan kami harus extra hati-hati. Tanjakan demi tanjakan kami lewati dengan penuh semangat. Keringatku semakin bercucuran, bajuku yang semula kering mulai terasa basah olehnya. Napasku mulai terasa berat, rasa lelah mulai menggelayut di badanku.
Kami tidak mau kalah dengan keadaan, oleh karena itu kami mensiasati rasa lelah kami dengan tetap mengobrol dengan yang lainnya yang disertai dengan candaan. Alhasil, rasa lelahnya bisa terobati walupun hanya sedikit saja.
Teriakan semangat mulai terdengar dari teman-teman yang lain begitupun juga denganku, aku mencoba memberi semangat kepada diriku sendiri juga kepada teman yang berada di depan dan belakang agar tetap semangat untuk bisa melewati jalan yang terus menerus menanjak, Subhanallah…
A couple minutes later then…
Fiuh.., akhirnya tanjakan demi tanjakan berhasil kami lewati Alhamdulillah. Kami berhenti sejenak untuk melepaskan rasa lelah. Aku hirup udara sedalam-dalamnya utuk merasakan segarnya udara pegunungan yang sudah aku tapaki saat ini. Pemandangan indah terbentang luas, again dan again Allah memperlihatkan ciptaannya yang indah ini tanpa cacat sedikitpun.
Aku seperti melihat lukisan-lukisan pemandangan yang di pajang sepanjang jalan Braga. Pohon-pohon tinggi yang menjulang, sawah ladang yang hijau, dan rumah-rumah warga terlihat kecil dari ketinggian tempatku berada.
Setelah semuanya beristirahat sejenak lalu kami melanjutkan lagi perjalanan yang masih panjang menuju Danau Ciharus. Track yang datar hanya sedikit saja yang bisa kami jumpai itupun disertai dengan lumpur, sesekali sandalku terjebak dan lalu mereka mulai masuk ke sela-sela jari kakiku sehingga makin licin saja aku berjalan. Untung teu tiseureuleu sih so masih amanlah,hahaha
Track menanjak kami jumpai lagi namun kali ini tidak se-ekstrem yang sebelumnya. Dengan mudah bias kami lewati, pemandangan indah ditambah aliran sungai yang bening dan kebun jagung menambah keindahan pemandangan yang disuguhkan Allah untuk memanjakan mata kami lagi dan lagi. Aku jadi teringat ostnya film ninja hatori,
“mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera bersama teman bertualang”
Absoluttely! Benar-benar sangat mirip dengan lirik yang di nyanyikan tadi namun aku bisa claim dengan bangga bahwa pemandangan yang kami dapatkan ini jauh lebih indah. Truly beautiful! Masya Allah
Mata kamera mulai sibuk mengabadikan pemandangan yang satu ini. Teman-teman silih berganti minta di foto dengan latar pemandangan yang jarang kami temui jika berada di kota. Tanpa menunggu lama, kami pun melanjutkan perjalan kembali. Sungai kecil dengan air yang jernih menemani di sepanjang jalan yang kami tempuh kali ini.
Sesekali aku masukan tangan dan kaki sekedar untuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang menempel dari perjalanan sebelumnya. Rasa sengarnya air gunung meresap kedalam pori-pori kulitku. Lalu ku basuh pula wajahku yang lusuh karena keringat dengan air khas pegunungan yang segar ini.
Next track, perjalanan mulai memasuki rimbunya hutan. Kali ini pemandangan kanan dan kiri berupa jurang yang ditutupi oleh pohon-pohon kecil yang entah apa namanya. Langitpun tak bisa kami lihat secara langsung karena sebagian dari pohon kecil tadi merupakan tanaman merambat. Jadinya kami seperti menelusuri terowongan alami yang atapnya terbuat dari tanaman merambat dan alasnya tanah yang basah.
Track menanjak dan menurun pun tak lepas kami lewati. Aku berada di barisan paling depan sehingga kami bisa mengambil istirahat sejenak karena jarak kami dengan yang lain cukup jauh. Lumayanlah... for taking a breath a while
Kakiku mulai terasa berat, namun semangatku tetap terjaga dengan baik. Aku mulai menghibur diriku sendiri dengan bersenandung kecil untuk menghilangkan rasa lelah yang terus merayuku supaya aku berhenti untuk berjalan.
Perkebunan kembang kol kami lewati, sesekali kami bertemu dengan warga sekitar sambil bertanya masih jauh kah perjalanan kami menuju Danau Ciharus dan mereka menjawabnya dengan sangat simple.
“sakedap deui A, paling sabaraha kali deui tanjakanlah”.
2 jam telah berlalu namun itu baru setengahnya saja untuk menuju kesana. Amazing sekali kan? Subhanallah…
Aku menghela napas yang panjang sambil ku langkahkan kaki yang mulai berat ini menuju track berikutnya.
For this time, sungai yang cukup lebar kira-kira 1 Meter-anlah dengan arus yang cukup deras harus kami lewati. Dengan hati-hati aku lewati sungai itu dengan satu lompatan dan “hap” sungai berhasil aku lewati. Lalu kami mulai saling membantu teman kami yang lain terutama untuk teman kami yang perempuan dibantu dengan tongkat agar mereka bisa melewati sungainya.
Hutan kedua kami masuki, hampir sama dengan yang sebelumnya. Langit tak kami lihat lagi secara langsung karena tertutupi oleh tanaman yang merambat, jurang di kanan dan kiri yang hanya di lindungi oleh pagar alami dan pepohon kecil yang berdesakan agar kami para pendaki bisa merasa sedikit lebih aman. Anak-anak sungai dalam hutan pun tak ketinggalan kami lewati.
Suara hutan mulai mengiringi perjalanan kami, mulai dari suara serangga sampai suara merdu burung hutan bersahut-sahutan yang terdengar sangat dekat oleh kami. Track basah dan menanjak kembali kami temui (ya wajarlah kan namanya juga naik gunung), namun kali ini lebih ekstrem dengan kontur tanah yang tinggi sehingga kami harus lebih berhati-hati lagi untuk melewatinya agar tidak jatuh terpeleset.
Kami sudah sangat lelah dengan yang namanya “tanjakan” sebenernya, karena makin kesini tanjakan makin curam sampai sesekali kami berhenti untuk mengambil napas sejenak. Aliran sungai tak mau menyambut kami walaupun traknya menanjak sampai-sampai kakiku yang sudah kedinginan dari tadi mulai berganti wanti menjadi tambah pucat. Subhanallah…
Perjalanan ini sungguh menguji mental dan emosi kami, ada yang terpeleset karena jalan yang licin sampai celananya basah adapula yang harus menahan sakitnya duri purti malu karena menancap di tangan teman kami. Namun semua itu tak menyurutkan langkah kami untuk melanjutkan perjalanan.
Akhirnya setelah beberapa jam perjalanan yang kami tempuh, tanjakan terakhir pun sudah siap kami lewati. Sang pemandu sudah memberikan sinyal kuat bahwa Danau Ciharus sudah mulai dekat.
Spontan kami berteriak berbarengan “Alhamdulillah, horreee!!!”.
Kami merasa sangat gembira mendengar teriakan sang pemandu tadi. Aku dan temanku yang berada di barisan paling depan sudah berhasil melihat Danau Ciharus walupun sedikit terutupi oleh rumput ilalang tapi setidaknya kami yang berada di barisan depan lebih gembira karena bisa melihat lebih dulu Danau Ciharus.
Kami sangat besemangat sekali, begitupun aku yang sangat senang akhirnya danau yang harus kita tempuh selama kurang lebih 4 jam sebentar lagi akan kami datangi. Lalu kami meneriaki teman-teman kami yang berada di belakang untuk memberi mereka semangat karena Danau Ciharus sudah sangat dekat.
Dan akhirnya setelah lamanya perjalanan di sertai dengan drama dari a sampai z, kami sampai ke Danau Ciharus!!!! Yeee!!!
Alhamdulillah…
Dengan cepat aku masukan kaki yang sudah penuh dengan lumpur ini ke dalam air sungai yang berbatasan langsung dengan Danau Ciharus. Air jernih mengalir ke sela-sela jari kakiku. Sambil menungu semuanya tiba, aku masih merendamkan kakiku kedalam air yang jernih ini.
Sorak sorai datang silih berganti, rasa senang dan gembira menyelimuti kami yang akhirnya berhasil melewati jalanan yang luar biasa untuk menuju kesini, dan rasa lelah kami terbayar dengan suguhan pemandangan Danau Ciharus yang indah… Masya Allah
Disana kami bertemu dengan rombongan motor trail dari Garut yang terlebih dahulu sudah berada di Danau Ciharus beberapa menit yang lalu, mungkin bahkan berjam-jam yang lalu karena saat kami tiba mereka sudah bersiap-siap untuk pulang.
Danau Ciharus, danau alami yang cukup luas di tambah dengan pernak pernik tanaman hijau di bibir danau serta gunung-gunung menjulang tinggi yang menambah keindahan panorama yang kulihat saat itu. Sungguh indah ciptaan Allah yang satu ini, tidak kurang satu apapun untuk melengkapi keindahan danau ini. Menurut orang-orang yang pernah kesini, mereka berkata bahwa ini adalah danau Kumbolo-nya Jawa Barat dan menurutku memang tidak kalah indah dengan danau yang terletak di Jawa timur sana. Danau Ciharus ini terletak di perbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dengan Samarang, Garut.
Disana terdapat 2 saung kecil, saung pertama didalamnya terdapat tungku untuk memasak dan bangku yang cukup besar namun setelah di lihat lagi bangku itu lebih mirip meja menurutku. Satu lagi tepat di bibir danau kurang lebih berukuran 2x2 meter untuk kami sembahyang.
Tepat di depan danau, kami mulai membuka bekal masing-masing dengan tidak mengindahkan celana kami akan kotor karena tidak ada alasnya, ada juga yang mulai mengeluarkan peralatan masak yang telah dibawa oleh salah satu teman kami untuk memasak mie. Lalu kami saling berbagi makanan kepada teman-teman yang lain terutama bagi mereka yang tidak membawa bekal. Berbagai makananpun ditawarkan, seperti lontong, gorengan, kue kering sampai nasipun tak lupa ada yang menawarkan.
Alhamdulillah makanan yang kami santap walaupun seadanya betul-betul sangat nikmat, sesi makanpun sudah selesai. Lalu kami mulai berhamburan mencari lokasi yang enak untuk sekedar meluruskan kaki kami yang sudah pegal-pegal. Adapula teman kami yang langsung sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan Danau Ciharus yang indah ini.
Hujan mulai turun menambah hawa dingin di sekitar danau di tempat kami berada. Sesekali Sang Mentari muncul malu-malu memancarkan cahayanya namun hanya sebentar saja setelah itu hujan menguasai cuaca di hari itu.
2 jam lamanya kami melepas rasa lelah, tak lupa dengan kewajiban kami as a moslem kami bergantian untuk menunaikan solat Dzuhur dan Ashar. Aku panjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa karena telah diberikan nikmat yang begitu luar biasa sampai aku dan teman yang lain bisa sampai ke Danau Ciharus dengan selamat. Alhamdulillah
Langit mulai sore, kabut tipis mulai menuruni hutan-hutan yang telah kami lewati sebelumya. Lambat laun kabut-kabutnya menutupi sebagaian pohon yang berada di dalamnya. Sedikit demi sedikit kabutpun mulai menutupi sebagian Danau Ciharus. Hujan rintik-rintik mempercepat kabut unutk menuruni dataran yang lebih rendah tepatnya ya Danau ini.
Sebelum kami pulang, kami berkumpul dengan semua anggota Hiking yang luar biasa untuk diabadikan dalam photo. Kamera telah di setting secara otomatis oleh pemiliknya agar semua bisa ikut di photo bersama-sama.
Cekrek… cekrek… cekrek…
Beberapa photo berhasil ditangkap oleh kamera dengan sendirinya. Lalu setelah sesi photo selesai, sesi ini di lanjutkan dengan do’a yang di pimpin oleh Kak Robi.
Perjalanan pulang sudah kami putuskan untuk mengambil jalan yang lain yaitu lewat Gunung Kamojang dan bisa kami tempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam “katanya”.
Perjalananpun dimulai, kami sudah siap dengan halang rintang yang akan kami tempuh selama perjalanan nanti. Namun harapan kami yang paling mendalam trek-nya tidak akan seekstrem pada saat kami datang kesini. Mudah-mudahan…
Awal perjalanan disambut dengan jalan basah yang dipenuhi lumpur namun ini masih mudah untuk di lewati. Lalu kami mulai memasuki hutan dan treknya mulai menanjak dan cukup licin.
“Wah mulai tanjakan lagi nih!!” celetuk salah seorang dari kami.
Aku hanya bisa tersenyum saja tanpa ada kata sepatah katapun yang terucap. Rasa lelah mulai menghinggapi badanku lagi. Keringat mulai berjatuhan menyelinap ke sela-sela badanku di tambah dengan napasku yang mulai berat juga kakiku yang mulai terasa berat untuk digerakan. Begitupun dengan teman yang lain, satu persatu mulai mengeluh untuk meminta berhenti sejenak untuk beristirahat.
Perjalanan memang terasa lebih berat karena tracknya terus menenerus menanjak tanpa henti ditambah dengan jalan yang sedikit cekung bekas ban motor trail yang cukup menyulitkan kami karena agak licin. Hanya sedikit saja kami menemui jalan datar setelah itu jalan kembali menanjak dan menurun lagi.
Tapi memang benar apa yang dikatakan pepatah; “Apapun yang dilakukan secara bersama-sama makan akan lebih mudah untuk dilakukan”. Begitu juga dengan apa yang telah kami lakukan, dengan berjalan berbarengan perjalanan yang panjang ini terasa lebih dekat.
Aku teringat saat perjalanan pulang, aku dan teman yang lain membicarakan tentang kartun-kartun dari jepang aka Anime. Ternyata beberapa diantara mereka anime lover, such as Defit, Kak Adhe, Kak Nasrul dan teman lain yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu. Obrolan ini merambat ke semua produksi film buatan Jepang, Kak Defit dan Kak Ade yang mengambil alih obrolan tentang anime-anime yang di produksi dari dulu sampai sekarang. Mereka sangat hafal dengan semua film juga game buatan jepang. Sedangkan aku hanya beberapa film anime dan game saja yang aku tahu.
Obrolan asik ini membuat kami lupa akan rasa lelah yang telah hinggap sedari tadi. Tak terasa kami telah sampai di tanjakan terakhir dan aku lagi-lagi berada dibarisan paling depan yang sampai pertama.
Kami telah sampai di Perusahaan milik BUMN tepatnya Perusahaan Tenaga Uap yang berada di kawasan Gunung Kamojang, Garut. Dan jalanan beraspal pun akhirnya bisa kami jumpai.
Lalu kami duduk dijalan yang beraspal tadi sembari menunggu teman-teman lain yang belum sampai juga ke tempat kami melepas rasa lelah. Suara-suara seperti dalam cerobong asap menyeruak disertai dengan bau belerang yang mulai merangsek ke dalam hidung kami. Tabung-tabung besar yang berisi uap mengular disepanjang jalan yang beraspal ini.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya sisa dari rombongan kami sampai juga. Aku lihat semburat muka-muka kelelahan masih menempel di wajah mereka dan keringatpun masih bercucuran sedangkan kami yang sudah menunggu dari tadi sudah lumayan segar kembali karena istirahat kami cukup lama dibandingkan mereka.
Waktu Istirahat pun selesai, perjalan pulang kembali dilanjutkan. Perjalanan kali ini cukup berbeda karena jalanan sudah beraspal dan kami tidak usah kotor-kotoran lagi karena tidak akan ada lagi lumpur yang menghalangi jalan kami nantinya.
Pipa-pipa berukuran jumbo disertai suara keras seperti cerobong asap menemani perjalanan kami saat kembali pulang di sebelah kiri sedangkan sebelah kanan merupakan hutan seperti yang telah kami lewati sebelumnya.
Perjalanan cukup melelahkan, karena pada saat itu pula hujan cukup deras. Aku keluarkan payung bewarna biru hadiah Seminar dari Bank BNI yang diadakan di kampusku saat itu untuk melindungiku dari hujan. Beberapa teman yang lainnya pun sama ada yang memakai payung sama sepertiku, ada yang pakai jas hujan dan ada juga yang hanya mengandalkan Hoodi dari jaketnya untuk menutupi kepala mereka dari hujan.
Langit sudah mulai gelap, saat itu waktu telah menunjukan pukul 6 sore dan suara adzan pun kini sudah terdengar karena kami telah mendekati perumahan warga. Sudah cukup jauh kami berjalan di jalanan yang beraspal ini sepertinya 3 KM lebih sudah kami tempuh.
Terakhir kami harus melewati jembatan yang telah dibuat oleh Perusahaan Uap tadi. Jarak dari atas kebawah cukup tinggi kira-kira 2 meter. Aku baru bahwa temanku yang bernama Fitri sangat takut dengan yang namanya “ketinggian”. Semula dia tidak mau melewati jembatan ini dan bahkan dia akan melewati jalan bawah yang entah kemana tujuannya. Namun setelah dibujuk beberapa kali olehku dan di bantu Defit akhirnya Fitri mau melewati jembatan itu.
Tangannya yang erat tak mau lepas dari bahuku, rasa takut yang menjalar membuatku kasihan namun aku berusaha menenangkan agar kami berhasil melewati jembatan yang cukup tinggi ini. Mata sudah dia pejamkan dan aku sudah siap untuk berjalan melewatinya. Sesekali dia minta berhenti untuk menarik napas sejenak dan akupun menurutinya. Baru kali ini aku melihat dia benar-benar sangat ketakutan dengan ketinggian. Akhirnya kami berhasil melewati jembatan tadi bersama-sama dan Fitri pun merasa senang, dengan cepat dia bergerak menuruni anak tangga jembatannya.
Langit mulai sangat gelap hanya dibantu dengan cahaya lampu kecil dari Perusahaan Uap tadi. Lalu kami pun sampai di tempat dimana kami akan di jemput. Beberapa teman kami sibuk menelepon Kak Eka yang akan membantu kami untuk membawakan mobil ke tempat kami berada. Namun sayang sinyal yang kami tangkap hanya sedikit saja sehingga kami tidak bisa menghubungi Kak Eka.
Dengan berat hati, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki yang sudah sangat lelah sambil terus menerus mencoba menghubungi kak Eka. Lalu beberapa teman kami mencoba meminta tumpangan pada mobil yang lewat, namun belum berhasil. Sampai akhirnya ada sebuah truk yang berhenti untuk dimintai tumpangan.
Allah memang Maha Baik, kami pun bersorak kegirangan begitupun aku yang tidaak ketinggalan merasa senang karena ada truk yang mau mengangkut kami ke rumah Pak Ahmad Daan lagi di Majalaya, Alhamdulilah.
Ini adalah kali pertama aku menaiki truk, rasanya asik juga bisa naik truk ditemani teman-teman yang asik pula. Didalam truk pun tidak lupa untuk berdoa karena jalanan yang terus menurun membuat jantungku berdebar-debar. Untung saja supirnya sudah terbiasa dengan trek seperti ini jadi kami tak perlu takut yang berlebihan.
Aku hanya bisa duduk saja didalam truk karena kakiku cukup pegal jika harus berdiri. Namun sebagian dari kami memilih untuk berdiri untuk melihat pemandangan Majalaya pada malam hari.
1 jam berlalu, akhirnya kami sampai juga di Rumah Pak Ahmad Daan. Mereka telah menyambut kami dengan rasa suka cita karena alhamdulilah kami semua bisa kembali pulang kesini dengan selamat.
Pak Daan memang baik hati, beliau telah menyiapkan nasi kuning beserta lauknya. Alhamduliah perut kami yang sudah mulai minta diisi akhirnya bisa terpenuhi juga. Terimakasih semuanya, khususnya keluarga Bapak Ahmad Daan…
Lalu kami beristirahat sejenak di rumah Pak Daan sebelum pulang kerumah masing-masing. Akhirnya badanku bisa kurebahkan juga, otot-otot yang sudah mengeras bisa ku kendorkan lagi dengan istirahat yang cukup. Rasa dingin bisa terobati dengan air teh hangat yang telah disediakan.
Memang ini perjalan Hiking yang sungguh luar biasa. Sangat di luar ekspektasi kami semua dan YOU KNOW WHAT? ternyata kami telah berhasil melewati 3 Gunung sekaligus! Amazing! yakni Gunung Rakutak, Gunung Geber dan terakhir Gunung Kamojang.
Tepat pukul 9 malam, kami memutuskan untuk pamit pulang. Sebenarnya Pak Daan menyarankan kami untuk menginap disana namun kami menolak karena besoknya bukan hari libur dan kami harus melakukan kegiatan kami lagi as usual.
Si Motor beat putih tidak ku tunggangi lagi saat pulang karena aku sudah bertukar tempat dengan kak Ade jadi aku bisa naik mobil. Makasih Kak Ade!!! Nuhun badag!
Perjalanan pulang menuju rumah masing-masing pun di mulai. Mobil yang aku tumpangi meluncur yang pertama dan disusul dengan motor tepat berada dibelakangnya.
Hiking ini ditutup dengan rasa gembira, best experience that I have ever had. Aku harap mereka pun merasakan hal sama sepertiku.
Aku tiba dirumah pukul 11 malam, sebelum tidur aku tunaikan dulu kewajibanku untuk melaksanakan solat Magrib dan Isya (Jamak takhir). Setelah itu aku tertidur dengan membawa sejuta kenangan indah yang aku alami saat Hiking tadi.
Allahumma ahya wa biska ammut…
Cimahi, 16 January 2014









