Desember kemarin saat dijalani rasanya panjang sekali, juga berat. malam-malam yang dikorbankan untuk belajar, untuk bekerja. rasa lelah yang tak ada habisnya -bahkan bisa dibilang menabung rasa lelah-, air mata yang suka berkunjung, hati yang berat, kepala nyeri, dan banyak bentuk tidak menyenangkan lainnya. puji Tuhan, beberapa hari di penghujung Desember kemarin dihabiskan bersama orang-orang terkasih, di kampung halaman tercinta. lelahnya memang belum hilang, tapi paling tidak berada dekat dengan mereka yang aku sayang cukup mengobati luka hati. lalu, sampailah pada hari akan segera kembali ke perantauan. berjuang lagi dengan hanya merasa cukup memiliki diri sendiri, berdiri di atas kaki sendiri, bercerita dengan diri sendiri, berargumentasi dengan isi kepala sendiri, memutuskan untuk diri sendiri, dan segala hal yang dekat dengan kesendirian dan tanggung jawab sendiri. di tahun yang baru ini. kalau boleh jujur, perasaan takutnya semakin besar kali ini. semakin takut akan semakin jauh dengan apa yang diusahakan dan didoakan, semakin takut dengan tantangan yang akan ditemui di depan, semakin takut dengan ini, semakin takut dengan itu, dan semakin takut dengan semuanya. bahkan, ketakutan-ketakutan itu tidak bisa aku definisikan dan uraikan dengan kata-kata. tidak ada satu pun kata yang bisa mewakili, namun perasaan takutnya memenuhi ruangan hati dan pikiran. kepada siapa aku harus meminta tolong selain kepada Tuhan yang menjadi alasanku bisa bertahan sampai detik ini? ada banyak rencana yang aku pikirkan untuk membantuku mengatasi ketakutan ini, misalnya dengan mengunjungi ahli kejiwaan, atau mulai rutin menulis jurnal di penghujung hari, atau mulai rajin membaca buku nonfiksi yang berkaitan dengan kesehatan mental dan penguasaan diri, atau menghapus seluruh aplikasi sosial media agar aku tak perlu membandingkan diri, atau kembali aktif berolahraga dan merawat diri, atau mengambil kursus bahasa asing, atau, atau, dan banyak atau lainnya. aku menulis ini hanya untuk mengundang rasa lega muncul menenangkan pikiranku yang sedang berkecamuk. apakah ada tombol untuk mengistirahatkan pikiran? meski hanya beberapa menit? tidak ada. baik, artinya tidak ada pilihan lagi selain menghadapinya, dan belajar menguasainya, lalu berdamai dan hidup berdampingan dengannya. mari kita berteman. mari kita saling membantu. agar aku bisa kuat untuk terus bertahan juga berjuang. aku tidak minta banyak.