menunggu
#draft
untaian dingin menelusuk rongga-ronggaku, terasa aneh tentu saja, hening sang pembuat gigil segenap kujur tubuh hadir dikala semestinya hari ini begitu memanggang. aku, salah satu yang kedinginan, dimana tiap lapisan kulit sedang meronta ingin berkemul dibalik kain wol hangat itu, namun pikirku diam seribu makna. terkulai bisu menggantung harapan pada tiap kata yang terlontar dari suara diujung frekuensi sinyal.
ya, itu suaranya. suara yang dihasilkan atas sejuta pemaklumannya atasku yang begitu sentimentil. suara yang indah tentu saja, bak malaikat meniupkan hawa surgawi padaku, begitu harmoni.
#
haloo, separuhku yang lain :) senang sekali tentu saja, dapat mendengar alunan sonar itu terus berbincang.
#
mamun, kupikir kali ini sedikit rumit. entah mengapa, disamping bahagiaku mendengarnya, ada getar pada jiwa ini. aku terenyuh mendengar jawabmu yang singkat, mencipta resonansi yang kian dingin, bersekutu dengan peliknya cuaca sore ini.
tapi tenang, aku tidak sekecewa itu kok, aku bukanlah laki-laki yang dengan mudahnya hilang kepercayaan. untuk bisa dititik ini saja, percayaku sudah begitu banyak berkorban. namun, diantara sejuta pemakluman ku atas situasi yang terjadi, bolehkah lantas aku tersungkur menangisi luka ini?
ya, luka yang datang untuk kedua kalinya. setelah sekitar sebulan yang lalu, dimana kita terjerembab atas gemuruh semesta yang mengagetkan. sebuah peringatan besar akan murka tuhan melihat kami mendayung bahtera keromantisan tanpa ada pertalian yang sah diantara kami. kali ini, peringatan kedua, dimana jauh lebih mengejutkan, secara binasa kami terjatuh kedalam badai-kemelut rasa cemas, takut, kami terpisah satu sama lain. bahtera kami terombang-ambing tanpa kemudi.
#
jujur, aku bosan dengan perumpamaan yang begitu jauh, menjadikan kisah laraku sebagai fiksi yang tak berpremis. karena sebenarnya, semua lebih rumit dari kelihatannya.
#
aku sedang terluka, sebab situasi yang kian memberi kita arti dari berjarak. aku tak kuat menahannya, aku meringis kesakitan. aku tak siap atas hatiku yang tersayat olehnya. bukan, bukan kamu, tapi semesta.
jawabmu yang dingin mencipta nelangsa atas nuraniku yang perih, aku menutup sambungan dengan berat seberat-beratnya dipikulku. aku menahannya, berharap kau tak keberatan menerima kondisi yang tuhan berikan atas kita. aku tahu, kala kau mendengarku sore itu, kau bingung, kesal, sedih, murka, takut, sama sepertiku. aku tak menepikan amarahmu, jika lantas kau terjatuh pula suatu saat. tapi, kali ini, nampaknya akulah yang pertama tersungkur.
aku menangis dipenghujung malamnya, seketika aku menyesal telah memulai percakapan sore itu. aku terbangun di sepertiga malam-Nya, untuk pertama kali setelah sekian lama, aku kembali merasa terpanggil oleh-Nya. dialog antara aku dengan Allah terjadi dengan tajuk Qiyamul Lail.
#
semua tumpah ruah, air mata nyatanya telah jatuh merayap dipipiku kala ku tengadahkan kedua tangan ini.
#
aku merindukanmu # aku takut kehilanganmu.
aku takut kau pergi # aku takut kau tak lagi menerimaku.
###
maaf bila lantas aku membuatmu menunggu dengan lebih menyakitkan. maaf bila kau harus bersabar lebih kuat. maaf bila selama kita mendayung bahtera itu, aku terlampau khilaf, yang mana lantas Allah murka pada kita.
#
maaf ya? karena setelah ini, akan ada jeda yang sangat panjang atas dialog-dialog yang larut diantara kita. maaf bila mengharuskanmu membatasi intensitas bicara, karena secara gamblang kuakui, aku takut akan akhir yang tak kuharapkan bila kita menerabas nafsu kita saat ini.
#
maaf bila secara tak langsung, aku membuatmu menangis. dan maaf juga ya? karena menyayangimu dengan sangat, adalah alasanku menangis di tiap malamnya.
#
tentu juga tak mudah bagiku untuk kemudian kembali menjadikanmu selayaknya seorang teman wanita biasa. begitu sulit menahan tanya yang hanya akan menghadirkan obrolan-obrolan tak penting. begitu berat bagiku, untuk tak lagi mengucap dan mendengar pamit dipenghujung obrolan kita.
##
terima kasih ya? sudah setia mempercayaiku untuk bertahan. terima kasih sudah mempercayai jiwa ini untuk berjuang menghadapinya.
janjiku takkan berubah, duhai nashiraku
#
untuk selalu menjagamu dalam doa, untuk selalu menjadi pendengar setiamu kala kau butuh pendengar yang baik.
dan tentu saja, untuk menjabat tangan ayahmu, dan menjadikanmu sebagai seorang ibu dari anak-anak kita kelak.
#
kuharap, kau pun begitu ya? kita berjuang dengan ikhtiar kita masing-masing. berusaha memperbaiki diri dan mengembangkan diri kita sendiri. mempersiapkan segalanya, hingga pada waktu yang tepat, kita bertemu kembali dengan versi terbaik diri kita, dengan perasaan yang masih bertahan, satu sama lain.
##
kupikir aneh rasanya bila hanya kau yang mengatakannya. maka izinkan aku mengatakan hal yang sama..
#
kumohon, jangan sedih berlarut-larut juga yaa? aku tetap disini kok, akan selalu ada bila kau butuh teman dengar, insyaallah.
#
selamat tidur, uca. aku mencintaimu karena Allah
###











