Well, hampir dua bulan stay at home dan sampai dititik bingung mau melakukan apa lagi. Akhirnya terkumpul niat dan keberanian untuk menuliskan "what happen" yang bahkan sulit untuk kuceritakan pada orang-orang terdekatku. Dengan harapan terselesaikannya tulisan ini maka selesai pula perasaan-perasaan negatif yang masih saja merundung jiwa.
Semuanya dimulai tepat empat tahun yang lalu, kala itu saya masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Rasanya sangat menyenangkan mengingat diriku disana. Punya banyak teman, hobi, bisa tertawa, menari, bernyanyi, dan hanya disibukkan dengan ekskul dan lomba. Iya, waktu itu saya amat bersinar dan berpijar kaya lagu SO7, hehe.
Hingga beberapa bulan sebelum lulus, perhatianku dialihkan oleh seseorang. Awalnya sangat sederhana, semuanya hanya dimulai oleh rasa iba yang tidak pernah kuduga perasaan itu akhirnya membuatku terbelenggu dan kehilangan diriku.
Layaknya hubungan yang baru dimulai, semuanya diawali dengan hal-hal manis dan menyenangkan, padahal saat itu tak ada dan tidak pernah ada ikatan atau istilah apapun yang mendasari dan menegaskan hubunganku dengannya. Kelekatan itu dimulai begitu saja, tanpa tahu kapan tepatnya.
Kuliah, akhirnya saya se-kota dengannya. Waktu itu rasanya menyenangkan sekali memiliki pasangan yang romantis dan baik hati, rela mengantar dan menjemput kapanpun saya butuh, selalu ingin menemani ke manapun saya pergi dan melarang ini itu dengan dalih khawatir dengan keamananku. Tapi, lambat laun kebaikan itu menjadi candu, ketergantungan.
"Selama saya ada, kamu tidak butuh siapapun lagi". Ucapnya waktu itu.
Bodohnya, mendengarnya justru membuatku baper dan tidak menyadari bahwa saat dia membuatku tergantung, itu sama saja dia ingin menguasai hidupku. Dia ternyata tidak romantis, tp posesif. Sangat posesif.
Saya mulai tercekik, dibelenggu. Dia tidak pernah senang jika saya bersinggungan dengan lawan jenis, awalnya. Hingga tiap kali satu permintaannya di-iya-kan, akan ada dan selalu ada hal-hal lainnya yang harus kurelakan. Dan tentu saja itu tidak pernah cukup baginya. Pertemanan dibatasi, pakaian dikontrol, dan semua social media dipantau. Sekali lagi, dengan bodohnya saya menuruti semuanya dengan dalih
"dii sipirti iti kirini pidili din cinti pidiki".
Hingga setiap harinya semakin membelenggu.
"Kerja kelompoknya ada cowo?"
"Jangan ikut kegiatan kampus!".
"Berhenti menyanyi dan menari!".
"Jangan ikut jalan dengan sahabatmu." (katanya dia takut klu temanku datang sama cowo, wkwk)
"Dikampus duduk bersebelahan sama siapa, cowo?coba foto sebelahmu"
"Mau presentasi, jadi pusat perhatian lagi dong"
"Kenapa dikampus sampai jam 5?"
"Kelas digabung lagi?cowo tambah banyak dong" (padahal cowo dikelasku cuma lima, wkwk)
"Bagus ya pamer diri disosial media?"
"Apa bedanya kamu sama pel*c*r, pamer diri!
Serta perlakuan dan kata-kata kasar lainnya.
Semakin hari semakin "lucu" dan ada-ada saja batasannya. Saya semakin tidak mengenal siapa wanita yang tiap pagi berhadapan denganku dicermin. Media sosial sangat dikontrol, tidak ada followers dan following lawan jenis, tidak ada foto bertebaran di sosmed, harus jadi silent reader di grup.
Pernah, saya cuma sekali ikut nimbrung disalah satu grup, hasilnya?Left, haha. Dan lebih lucu lagi, posesifnya sampai level cek library playstore :') tentu saja berakhir pertengkaran karena waktu itu saya pernah download Mobellejen dan doi parno klu sy mabar sama cowo, hahaha. Sudah, sampai disitu saja membahas aturan yang gaada akhlak ini, karena menulisnya saja membuatku ingin memaki diriku sendiri dimasa lalu.
Namanya juga love is blind alias cinta itu buta dan datang disaat saya masih masa transisi dari remaja ke dewasa yang sedang sangat mudahnya terkagum dengan hal-hal yang basic. Dia perhatian sedikit saja, saya baper. Liat dia shalat lima waktu saja, langsung membayangkan nanti saya jadi makmumnya. Mendengarnya melantunkan ayat Al-Qur'an, membuat membayangkan indahnya surga bersamanya, hahaha. Lengkap! benar-benar buta jadinya.
Perempuan yang sedang latah-latahnya dicintai dan pertama kali memperkenalkan dan diperkenalkan "teman" laki-lakinya ke orang tua bisa apa, isi kepalaku waktu itu cuma "akhirnya saya dipertemukan dengan orang yang serius". Dan salah satu hal yang ku syukuri hari ini adalah keputusan orang tuaku karena tidak menerima niat yang katanya serius waktu itu. Entah bagaimana jadinya diriku hari ini jika keputusan orang tuaku sebaliknya.
"Kok bisa bertahan?Kenapa masih mau?"
Gila, diperlakukan begitu bisa bertahan?tidaklah. Entah berapa kali saya berusaha untuk berhenti dari hubungan yang tidak lagi saling menghubungkan itu. Setiap kali saya memutuskan untuk pergi, saya mulai dirundung rasa bersalah. Iya, hampir semua pertengkaran dalam hubungan itu sayalah pelakunya. Saya yang selalu salah, pikirku waktu itu memang saya yang jahat. Tapi tidak, dia selalu saja melihat bahkan mencari kesalahanku. Ibaratnya jika saya punya satu kesalahan dari banyak kebaikan, tentu satu kesalahan ini yang jadi fokus, tidak ada apresiasi atas apa yang telah kurelakan baginya.
Juga, ketika timbul keinginan untuk melepasnya, saya mulai berpikir bagaimana jadinya diriku tanpanya? saya selalu takut tidak akan bahagia jika melepasnya. Bagaimana bisa, saya tidak punya dunia lain selain dengannya. Tidak ada teman, bahkan sejak bersamanya saya tidak lagi punya waktu dengan keluarga atau me time.
Lalu apa yang terjadi setiap kali saya memutuskan untuk berhenti?
Jika menghadapi aturan dan toxic-nya hubungan ini saja sudah sangat sulit, lebih sulit lagi menghadapi keadaan ini.
"Kalau saya tidak bisa memilikimu, maka tak seorangpun bisa" tegasnya.
Ucapan itu belum bisa kulupa sampai saat ini, bahkan cukup menggelitik jika kuingat.
Kadang, saya dengan bodohnya memutuskan untuk pergi, tapi kemudian datang dan memohon dengan keyakinan bahwa suatu saat dia akan berubah. Atau, dia datang dengan berbagai iming-iming bahkan ancaman serta kelihaiannya mempermainkan rasa bersalah seseorang.
Sampai akhirnya, saya benar-benar muak dan setengah waras menjalani hubungan itu. Saya tidak bisa terus seperti ini, I must love myself n my soul! Mau sampai kapan saya terus menangisi sesuatu yang sama berulang kali, mau sampai kapan saya terus berbohong pada sesuatu yang bukanlah sebuah kesalahan jika benar-benar ku ungkapkan, kapan saya bisa punya waktu dengan diriku sendiri, mau sampai kapan saya mengacaukan hidupku sendiri, tidak punya teman, terus menerus absen kuliah karena malu kekampus dengan mata sembap. Tidak! Saya akhirnya mulai sadar dan "sembuh" setelah membaca beberapa tulisan tentang toxic relationship, saya tersadar ternyata sedang menjalani hubungan yang toxic.
Lalu apa yang saya lakukan?
Iya, akhirnya semuanya berakhir tanpa sepenggal kata maaf pun darinya. Saya kemudian memutus komunikasi dengannya dan kembali menjalin hubungan dengan sahabat-sahabat, mencoba untuk kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala. Hehe. Ga deng.
I try to fallin' love with myself, then I found myself.
Jadi apa moral value dari tulisan ini?
Tidak, tulisan ini bukan untuk menyalahkannya, tidak sepenuhnya dia salah dalam hal ini. Yang banyak bersalah tetaplah saya, apa kesalahan saya? Waktu itu saya tidak menyadari bahwa saya punya otoritas bagi diriku, bahwa sayalah si pemegang kendali hidupku sendiri, lupa betapa berharganya diriku dan tidak ada yang bisa menjamin seseorang akan selalu ada bersamaku, hingga saya lupa bahwa seyogyanya yang perlu saya cintai lebih dulu adalah diriku sendiri, karena semua orang bisa pergi meninggalkanku, kecuali diriku sendiri.
I think, itu saja sebagian dari kisahku yang berani untuk kuungkapkan. Saya berharap, tulisan ini bisa menciptakan insight bagi orang yang tengah mencintai ataupun dicintai, bahwa sebelum kamu mencintai, you should love yourself first.
Juga jangan terlalu mengekang, karena mencintai itu seiring, bukan digiring :)
Teruntuk yang juga sedang dalam toxic relationship, jangan ragu dan takut untuk mengakhiri belenggunya, meskipun akan banyak "tapi" dalam pikiranmu, percayalah You deserve to be happy, and you deserve so much better.
Semoga yang sedang dan sudah lepas dari masa ini bisa lekas pulih dari traumanya, termasuk saya. Hehe