Aku berpikir, apa yang menjadi kemauanku sampai detik ini? Aku berpikir, apa yang me jadi kekuatanku sampai saat ini? Aku berpikir, apa yang menjadikanku sebagai manusia seutuhnya?
Bahagiaku dan sedihku, laraku beserta pelipurnya, kesalahanku dan kebenaranku. Awalku hingga akhirku.
Suatu saat ujung pasti terlihat. Awal pasti menjauh dan ujung pasti mendekat. Lagi-lagi soal waktu. Soal hitam putih menjadi tak beda tergantung menjadi manusia seperti apa yang hendak aku pilih.
Rasanya ingin terhenti pada saat semua baik sehingga pijakan terasa kokoh untuk berdiri gagah dan berbudi.
Ibukku mengajariku tentang bersikap ksatria. Nyatanya saat ini beberapa orang menertawakanku karena terlihat berbeda, mungkin dianggap aneh untuk berbeda. Tapi aku percaya, setiap nilai baik yang tertanam kemudian menumbuhkan rasa asih dan luhur. Tak henti bersyukur dan ucap terima kasih kepada Allah, memilihkan Ibu terbaik dengan nilai ini sehingga aku bisa merasa menjadi ada.
Aku menjadi sabar dan maklum ketika beberapa manusia berlakon seolah sebagai Tuhan yang bisa menentukan nasib manusia seperti aku. Sikap ksatria dan percaya kepada satu-satunya sesembahanku menjadi perisai. Selama memang aku melakukan hal yang benar.
Mungkin aku juga bertanya, cukup santunkah aku dalam berkelakar, bersentuhan, atau berpapasan dengan kepentingan orang. Jika ada selisih dan kurang, aku hanya bisa minta maaf. Minta maaf bukan merendahkan diri tapi meningkatkan derajat diri karena itu kebaikan yang hakiki yang menjadikanku manusia yang ada.
Jika aku meminta maaf itu berarti karena aku bersikap ksatria dan aku ada.
-Jakarta Pusat, Bendungan Hilir, 23 September 2021, 01.21 WIB-
Saat ini aku sedang demam dan naik turun, aku hanya tidak bisa tidur dan ingin menulis apa yang sedang aku pikirkan.