Madeleine Peyroux - La Javanaise

Andulka
art blog(derogatory)
styofa doing anything

JBB: An Artblog!
TVSTRANGERTHINGS
$LAYYYTER
Xuebing Du

shark vs the universe
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
d e v o n

⁂

pixel skylines

Product Placement

Kiana Khansmith
trying on a metaphor
DEAR READER
🪼

blake kathryn

oozey mess
NASA
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from Germany

seen from T1

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from Brazil

seen from T1

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia
seen from South Korea

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Israel
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Singapore
@nearlyheadless
Madeleine Peyroux - La Javanaise
Burma \ © Monica Denevan
bonbonnière
is a French word for an ornate jar, usually made from crystal or porcelain, containing sweets and other fancies, such as macarons, sugared nuts, biscotti, marzipan or dragées. It stems from the French word, bonbon, meaning “sweet”.
The bonbonières may be decorated with artificial jewels, such as pearls, or dried flowers, and ribbon.
La Vie En Rose by Louis Armstrong except playing on a record player in your tiny studio apartment, while you slowdance with your partner. The room is lit only by Christmas lights, and from the streetlamp-reflected snow outside the window.
Forest Cabin
© Elevated Spaces
Soultwin Studio
Stanley Kubrick The Exhibition, San Francisco, 2016
Margaret Durow
Teritori.
‘I accept chaos, but I am not sure whether it accepts me.’ -Dylan
Bagi sebagian orang, museum itu membosankan. Bagus. Suatu waktu saya suka datang ke tempat sepi dan memiliki teritori lebih dari biasa dengan intensitas suara kurang dari biasa. Mungkin karena alasan itu pula saya suka menghampiri galeri dan menyelami pameran apapun yang disodorkan. Akhir-akhir ini saya beberapa kali berdiskusi dengan diri sendiri. Saya kira ini lanjutan soliloquy kemarin. Saya kembali ke rumah dan mengalami keluarga lagi. Bertemu teman-teman lagi. Bagus. Mungkin saya butuh realitas ini. Mata bertemu mata, suara dan tawa yang membahana, hangat bir dan bincang hingga larut.
Mungkin baru-baru ini saja saya mengambil jarak dengan orang lain dan memilih untuk merefleksikan diri dengan lebih intim. Setahun kemarin membuat saya mempertanyakan banyak hal. Badai begitu kuat menerpa perahu saya. Wilayah pengetahuan dijebol oleh lautan pengetahuan baru. Mau tidak mau, saya harus memperbaiki teritori saya yang baru. Hanya dengan fiksasi dan memetakan kembali apa yang telah dipelajari, saya bisa mengelola ruang pengetahuan dalam diri. Dan ini bukan hanya tentang tema ‘ruang dan kekuasaan’ yang mendominasi wacana yang saya gali dan tanamkan untuk disemai. Seperti yang sudah-sudah, saya berkaca pada perihal yang datang dan pergi. Keputusan untuk diam dan menanggapi, or possibility to say 'I prefer not to’. Manusia selalu punya persepsi terhadap lingkungan sekitarnya, baik manusia lain maupun non-human objects. Sedikit bersinggungan dengan 'development’, apa yang dianggap berkembang oleh suatu pihak bisa jadi adalah kemunduran bagi pihak lain. Konstruksi sosial yang membuatnya seakan seragam dan muncullah perbedaan as counter-conduct. Tak mudah, seperti Frost ujarkan dalam 'The Road Not Taken’.
I want to take the one less travelled by.
Dan setahun ini seperti mimpi yang nyata. Begitu lekas tapi terasa. Saya mengenal wajah-wajah baru, suara-suara baru dan perlahan mengenal wajah dan suara saya sendiri. Mungkin jatuh itu perlu, luka itu niscaya, untuk bisa bangun dan berjalan lebih jauh. Bukan di titik yang sama. Lebih jauh, melintasi waktu dan ruang yang tak terhingga. Apakah saya siap? Kesempatan itu diciptakan. Kolaborasi pertama adalah saya dan Tuhan. Mungkin saya hari ini berbeda dengan kemarin. Tapi sekuat tenaga, saya hanya ingin selamanya jujur dan menghormati orang lain tanpa harus menilainya. Di antara kebebasan dan batasan yang ada, saya memilih untuk meredefinisi batasan untuk menciptakan kebebasan baru. Saatnya berkemas, Dia tak boleh terlalu lama menunggu.
Can you describe what it's like being in Spain? What is Spain like?
CÓRDOBAAncient red and sandstone, palm trees, a song echoing for years through the streets, roses and olive groves, striped Islamic arches, twirling bodies and wrists of flamenco Sevillanas, bright orange Salmorejo, Calleja de las Flores, whitewashed walls in the hot sun, flowers rising in the heat
SEVILLEHot winds smelling of orange blossoms, wedding bells, courtyards with fountains, Moorish Muslim kings, geometric blues and yellows of tiled provincial alcoves, tan mudejar architecture, gold domes, tomato bread and olive oil toast, torrijas covered in honey syrup or sweetened milk, the gardens of Alcazar
GRANADAA dark-haired girl being kissed in a pomegranate grove, architecture stained gold by the sun, paseo de los cipreses, paseo de las adelfas, paseo de los tristes (black veils), a convent selling carmelitas, children selling limones, air overflowing with wisteria, Calle del Beso, the image of Alhambra mirrored its pool, “lIn the olive grove on the hill / stands a Moorish tower / the colour of your peasant flesh / which tastes of dawn and honey"
Abigail Holt, Index of First Lines (IV) / July Afternoon
Letter from Schiller to Goethe, dated June 13, 1794.
Cuba. 2010. Lienzo al viento. Baracoa.
@Cristina Garcia Rodero
Serene home in Amsterdam | more here
THENORDROOM.COM - INSTAGRAM - PINTEREST - SUPPORT THE BLOG
Pink Floyd.