"Pernah kudengar orang kampung bilang: sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya."
~ Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations
sheepfilms

Andulka
Misplaced Lens Cap
taylor price
YOU ARE THE REASON
he wasn't even looking at me and he found me
cherry valley forever

@theartofmadeline
Keni

PR's Tumblrdome
One Nice Bug Per Day
occasionally subtle

★
Sade Olutola

ellievsbear
RMH

#extradirty
Cosmic Funnies
DEAR READER
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from T1
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Iraq

seen from United States
seen from United States

seen from Philippines
seen from Canada

seen from Canada

seen from United States

seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from South Korea
seen from United States
@nimaseeee
"Pernah kudengar orang kampung bilang: sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya."
~ Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations
Sini duduk bicarakan, jangan dipendam apalagi di storykan .
“Paper is more patient than man;it came back to me on one of my slightly melancholy days,while I sat chin in hand,feeling too bored and limp even to make up my mind whether to go out or stay at home. Yes, there is no doubt that paper is patient ..”
— Anne Frank
“Yang kau butuhkan adalah orang yang mempercayai kebaikan hatimu. Membuatmu memunculkan sisi terbaikmu. Dia percaya kekuranganmu adalah bagian dari kekuatanmu dan kau perlu menerima dirimu, bahagia menjadi seorang kamu. Sementara baginya kelebihanmu adalah potensi yang akan membuatmu terbang tinggi bagai elang gagah mengepakkan sayapnya. Kamu butuh orang yang seperti itu :)”
— ©Alizeti
“Saat usianya lebih muda banyak anak perempuan yang mengidamkan seseorang yang hebat, berkilau bagai bintang. Saat sudah lebih dewasa ia kemudian sadar bahwa yang ia butuhkan adalah seseorang yang baik hati yang senantiasa tulus dengan segala kebaikan yang dimiliki memahaminya dan seluruh potensinya. Untuk berkilau bersama sama. :)”
— ©Alizeti
"Kebanyakan yang datang, pura-pura baik; ujung-ujungnya karena lagi butuh duit."
-
Ferliana Harman
“Kelak pada suatu hari yang masih kita wacanakan; aku ingin membebaskan rindu yang selama ini aku pelihara.”
—
Di setiap helai rambutmu, di pundak-pundakmu, di jemarimu hingga lesap semua rindu di dadamu. Aku luruh menjadi kamu dan menjelma kita.
Tulisan ini aku simpan untukmu mas, untuk suatu hari nanti, tapi sepertinya tidak akan pernah ada ‘suatu hari’ itu untuk kita. kau telah memiliki seseorang yang akan memanggilmu ayah. kau meninggalkanku dengan janji yang menggantung - kelabu; seperti langit Jakarta akhir-akhir ini.
Apakah itu langit atau aku yang menangis?
(via mengukirkenangan)
“Akan ada waktunya setiap orang mampu bersinar terang, atau redup meninggalkan kesan. Percayalah semua memiliki masanya masing-masing, dan tak perlu cemas bila saatmu belum tiba.”
—
Akan ada waktunya setiap orang mampu bersinar terang, atau redup meninggalkan kesan. Percayalah semua memiliki masanya masing-masing, dan tak perlu cemas bila saatmu belum tiba.
Ada banyak kemungkinan kenapa kita tidak sesukses yang kita ekspektasikan. Salah satunya mungkin karena kualitas diri kita kenyataannya tidak sebaik yang kita pikirkan–namun kita belum menyadarinya. Kita ‘over-estimate’ atas diri kita sendiri. Kita mengharapkan nilai 9 ketika kualitas kita sesungguhnya adalah 5. Jika kita menemukan kenyataan ini, ikhlaslah dengan nilai kita yang sesungguhnya, lalu ikhlaslah untuk berproses dari nilai itu, sekecil apapun. Jangan merasa terlambat atau tertinggal, sebab perbandingan posisi kita terhadap posisi orang lain bukanlah standar kesuksesan yang dapat diandalkan. Alih-alih, bandingkanlah diri kita yang hari ini dengan diri kita hari kemarin, dan diri kita yang hari esok dengan diri kita hari ini–demikianlah Islam mengajarkan.
(via yasirmukhtar)
Setiap orang berhak didampingi oleh orang yang membuatnya tak perlu merasa takut untuk ditinggal pergi lagi. Tidak perlu terus bertanya tentang perasaannya yang sebenarnya. Tidak perlu khawatir untuk menjadi diri sendiri.
(via mbeeer)
Akan ada masanya ketika cinta yang meletup letup itu memudar, bukan hilang. Namun berganti dengan pemahaman dan kedewasaan. Begitu berganti, wujudnya memang sudah tak sama lagi. Maka hargailah fasenya, rekam momennya selagi bisa. Sebab kenangan kenangan itu adalah bekal untukmu menyelami samudera pemahaman yang tak nampak batasnya. Kenangan kenangan itu pula yang menjadi kantung penyelamat saat kapalmu terhadang badai terancam hancur oleh ombak yang menenggelamkan. Dan ketika kamu menyadari bahwa wujud cintamu harus berubah demi menyelamatkan hidupmu, dari kumpulan letupan kecil menjadi pemahaman yang luas, rasanya memang sedikit menyedihkan. Tapi begitulah caranya kamu belajar menjadi seorang manusia. :)
Alizeti (via alizetia)
Menangislah jika itu menenangkan .
Ceritakan padaku tentang hidupmu, tentang harimu, tentang apa pun asal itu tentangmu. Aku akan terus mendengarkan meski berjam-jam lamanya dengan perasaan yang senang.
(via mbeeer)
Allah menghadirkan seseorang dalam hidup kita pasti ada tujuannya. Ada seseorang yang dihadirkan sebagai pendamping hidup, ada pula yang dihadirkan sebagai pembelajaran
Hanif Akhtar, 2016 (via topofthemountain)
Allah menghadirkan orang baik dalam hidup kita mungkin karena kita sudah terlampau jauh tersesat, sehingga Dia memberikan petunjuk jalan. Kemudian tanpa disangka Allah menarik orang baik tersebut dari diri kita untuk menguji, apakah kita berbuat baik karena Allah atau karena ada dia
Hanif Akhtar, 2016 (via topofthemountain)
Jangan tanyakan pada penulis apa isi logikanya dan sedalam apa perasaannya. Bilapun ia dapat membahasakan, maka belum tentu juga dirimu dapat penuh memastikan. Soalan abstrak seperti itu biarlah dicerna oleh hati, bukan pikiran. Karenanya, jangan biarkan dirimu hilang di dalam labirin kisahnya. Kau tak pernah tahu persis siapa yang dimaksud olehnya di setiap kalimat yang ada. Kurangi mereka-reka, cukuplah dengan merasa.
I will now shut my eyes, stop my ears, and withdraw all my senses. I will eliminate from my thoughts all images of bodily things, or rather, since this is hardly possible, I will regard all such images as vacuous, false, and worthless.
René Descartes, Meditations on First Philosophy (via catsight)