Hujan mengiringi perjalanan pulangku lintas kabupaten kali ini, namun tak deras hingga suara UAS yang sedang memberikan kajian tentang kematian tetap terdengar jelas lewat radio.
Seperti biasa, perjalanan panjang yang kulalui seorang diri itu selalu menjadi me time bagiku. Baik untuk berpikir atau sekadar merenung, kadang sesekali bicara sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam pikiranku.
"sebenarnya di dunia ini apa yang kukejar?"
Sebab ada satu masa dimana aku kadang menyesali keputusan-keputusanku karena telah menolak kesempatan baik yang diberikan, tapi kadang pula bersyukur karena tidak serta merta menerimanya begitu saja.
Keputusan-keputusan yang kemudian muncul lagi setelah beberapa pekan terkahir ini hari-hariku dipenuhi keluh-kesah dan cerita dari kolega-kolega yang lebih senior dariku, tentang perasaan kecewa mereka terhadap seseorang yang diandalkannya lalu sadar sendiri bahwa memang sebaik-baik tempat menggantungkan harap hanyalah kepada Allah semata.
Aku yang baru beberapa bulan bersama mereka tak banyak menimpali, hanya mendengarkan, sesekali speechless tak menyangka tapi dari situ aku menjadi tahu kalau ternyata demikianlah kehidupan orang-orang berputar di sekitarku.
Cerita-cerita yang membawaku pada beberapa lesson learning agar lebih sadar dan kembali sadar.
Bahwa hati manusia itu gampang sekali dibolak-balikkan.
Bahwa menjadi pemimpin itu tanggung jawabnya berat. Ia harus adil dan bijak sebijak-bijaknya ketika mengambil keputusan, agar jangan sampai ada seorangpun yang merasa terzalimi atas kebijakan yang diambil.
Bahwa betapa perasaan syukur dan cukup itu sangat penting dalam mengarungi kehidupan ini.
Lalu tadi, ketika scrolling timeline tumblr tiba-tiba beberapa berhenti pada 3 postingan berikut. Seakan menjawab tanya yang terus berputar di kepalaku beberapa pekan terakhir.
Ada orang-orang yang Allah hadirkan untuk kita berikan pertolongan, untuk kita mudahkan urusan-urusannya. Bukan Allah ingin membebani, barangkali ini adalah salah satu cara Allah membuka pintu kebaikan untuk kita. Untuk melihat seberapa tulus kita mengulurkan pertolongan, yang mungkin barangkali saat ini kita pun dalam keadaan yang tak selalu baik-baik saja. (menyapa mentari)
Tidak pernah diduga sama sekali. Kehidupan yang berputar di sekitar kita ternyata sebergejolak itu, hidup kita mungkin juga bergejolak, hanya saja tidak pernah menyangka bahwa di orang lain, gejolaknya adalah hal yang tak pernah kita pikirkan akan terjadi pada mereka. (Kurniawan Gunadi)
Kesungguhanmu untuk mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu adalah bukti dari rabunnya mata batinmu (Ibn Athaillah)
Entah sih, tapi aku hanya merasa ketiga positngan tersebut menjawab polemik yang sedang terjadi di sekitarku belakangan ini, seakan memberi tutorial untuk menjadi manusia yang lebih peka di tengah kecenderungan sifat egois dan mementingkan diri sendiri.