Pendakian dan Cinta Pertama, Rinjani
Rinjani, dengan pesonanya menjadikan ia sebagai gunung impian para pendaki.
Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa seseorang sepertiku akan melakukan pendakian. Apa sih enaknya naik gunung? Bikin pegal, harus membawa beban carrier yang berat di pundak. Karena pemandangannya yang indah? Kan banyak wisata lain yang menyajikan pemandangan indah dengan sedikit usaha dan tentunya tak sulit mencari toilet. Di gunung mana ada toilet yang nyaman, gunung dingin dan butuh fisik yang memadai untuk dapat sampai ke puncak. Itu pikirku, sebelum mencobanya.
Katanya, sekali kamu mendaki gunung, kamu akan mau lagi, bikin candu. Gak satu-dua orang yang bilang hal tersebut. Terlebih Aa, kakaku, hobi sekali mendaki gunung, sejak ia duduk di bangku sekolah hingga punya anak tiga. Sampai suatu ketika, aku diajaknya mencoba mendaki gunung, langsung Rinjani. Aku iyakan ajakannya tanpa pikir panjang karena Rinjani ada di Lombok, aku mau ke Lombok!
Gunung Rinjani dengan titik tertinggi 3.726 mdpl, mendominasi sebagian besar pemandangan Pulau Lombok bagian utara. Cukup tinggi untuk pemula, apalagi untukku yang jarang olahraga.
Dua bulan sebelum berangkat, aku diberi serangkaian program latihan fisik untuk persiapan mendaki oleh Aa dan teman. Katanya yang penting sering lari dan banyakin jalan kaki, perkuat kaki! Peralatan untuk pendakian pun mulai aku kumpulkan, beberapa beli peralatan baru, dan beberapa kupinjam dari teman. Pentingnya punya relasi ternyata :) makasih guys.
Aku dan Aa ikut open trip Jalansekarang untuk pendakian ke gunung Rinjani. Katanya biar gak ribet masak atau bawa perlengkapan kelompok, tinggal bawa perlengkapan pribadi aja. Segala persiapan transportasi sudah dipesan, mulai dari tiket pesawat, ojek untuk di Rinjani nanti (iya, aku naik ojek sampai Pos 2 gunung Rinjani, karena keluarga khawatir kalau aku kelelahan, maklum perdana naik gunung), juga pembayaran jasa porter untuk membawakan carrier hehe (biarpun ujung-ujungnya gak jadi pakai porter).
Sekitar dua atau tiga minggu sebelum berangkat, Aa terserang Covid. Padahal semua tiket sudah dipesan, tiket pesawat, dan tiket open trip untuk mendaki Rinjani. Ah, gagal deh ke Lombok, pikirku. Sedih, tapi kesembuhkan Aa dan keluarga yang utama.
Namun, saat sehari sebelum keberangkatan, aku dapat kabar kalau Aa melakukan tes swab dan hasilnya negatif. Aku langsung meluncur malam itu ke kediaman Aa, kemudian paginya kami menuju bandara Soekarno-Hatta. Baru sadar, keren juga Aa abis Covid langsung nanjak ya.
Tiba di Lombok setelah dua jam dalam pesawat, kami istirahat sejenak di hotel agar keesokan harinya badan fit saat pendakian dimulai. Kami dijemput rombongan open trip sekitar pukul 05.00 WITA, langsung berangkat menuju Sembalun. Pendakian kali ini lewat Sembalun.
Sampai di Basecamp, kami mulai mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa saat pendakian. Setelah itu melakukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas. Lanjut menuju Kandang sapi dengan menggunakan mobil bak terbuka, aku duduk di depan bersama bapak supir, enak bisa duduk di kursi empuk. Sayangnya kami kesiangan untuk melakukan pendakian, sehingga tak dapat porter pribadi.
Aku melanjutkan perjalanan dengan naik ojek dari Kandang sapi sampai Pos 2, tak lupa melambaikan tangan dan menyapa teman-teman pendaki yang sedang jalan kaki.
Pos 2 jalur pendakian Sembalun, Rinjani.
Langit mulai gelap saat mau sampai Pos 3, akhirnya kami memutuskan tidur dulu di Pos 3. Saat tiba di Pos 3, teman-teman memberiku apresiasi karena pemula bisa sampai Pos 3 dengan membawa carrier. Mungkin mereka lupa kalau tadi aku naik ojek :p
Panitia mendirikan tenda dan mulai memasak, nunggu air hangat untuk nyeduh susu jahe. Biasanya gak pernah aku buat di rumah, di sini rasanya enakkk banget. Seru banget teman-teman yang ikut open trip kali ini, aku merasa dekat dan banyak tertawa karena mereka. Kami makan bersama lalu tidur menuju tenda masing-masing. Sebelum tidur, aku harus buang air kecil alias pipis dulu, wajib. Dan ditemani kakakku tercinta, pertama kalinya aku pipis di semak-semak :)
Di Rinjani gak ada larangan bawa tisu basah, jadi aku pakai tisu basah untuk membersihkan diri setelah pipis dan ketika mau tidur, kan gak mandi jadi pakai tisu basah biar tetap bersih. Tenang, sampahnya aku simpan untuk dibawa turun lagi.
Pemandangan pagi hari di Pos 3, indahnya Rinjani.
Perjalanan kembali dilanjutkan menuju Pelawangan.
Istirahat dulu di Pos 4, minum, makan cemilan, dan berbincang dengan pendaki lain. Ternyata seru ya ngobrol sama pendaki, orang yang asing dan gak dikenal, tapi ramahnya minta ampun, rasa saling berbaginya tinggi, keren. Aku belajar banyak dari mereka, terutama dari Aa. Aku liat sisi lain Aa di sini.
Lanjut jalan dari Pos 4 menuju Pelawangan. Dalam perjalanan kali ini, aku mulai merasa berat, karena melewati bukit penyesalan. Untung sama Aa, jalan kayak keong pun tetap ditemani dan dia setia mengikuti ritme berjalanku.
Di tengah perjalanan kami kehujanan, salahnya aku gak pakai ponco atau jas hujan, malah terobos hujan aja karena liat Aa gak pakai jas hujan. Basahlah baju, tapi barang bawaan dalam carrier aman karena barang-barang aku bungkusin plastik zipper satu-satu.
Sekitar jam 11 lebih aku dan Aa sampai di Pelawangan 2, istirahat sebentar di tenda orang, dipinjamkan syal, dimasakin mie, aku menggigil kedinginan. Anginnya kencang banget di Pelawangan, dan dingin banget padahal siang bolong. Untung ada Indomie rebus, makanan paling nikmat selama naik gunung, enaakkkk hangat.
Setelah mulai merasa hangat, aku dan Aa lanjut mau turun ke danau Segara anak. Itu danau yang terlihat dari puncak di foto pembuka tulisan ini. Tracknya parah sih menurutku, lebih-lebih dari bukit penyesalan. Jalanannya berbatu, batuan besar dan terjal. Sampai sol sepatu gunung punya teman yang kupakai lepas alasnya:( sedih banget jujur karena jalannya jadi gak nyaman dan licin. Mungkin sekitar 3 jam baru sampai danau, atau berapa jam ya lupa pokoknya sampai danau itu udah masuk waktu ashar.
Angin di Danau juga gak kalah kencang, kencang bangettt. Sayang gak coba yang air hangatnya. Aku cuma nikmatin pemandangan danau dan liat orang-orang memancing, seru kali sembari menunggu Aa yang ngambil air dari sumber air. Harus banget bawa kamera bagus kalau ke sini lagi, fotonya jelek pakai HP butut aku:(
Foto Segara anak pakai HP.
Duh, pokoknya pas liat langsung jauh lebih bagus dari fotoooo!
Kira-kira cuma 45 menitan kami di danau, langsung jalan balik lagi. Ini perjalanan paling malesin dan traumatik selama pendakian Rinjani. Tracknya ampun ih nanjak banget bangettt kayak gak sampe-sampe. Langit udah hampir gelap, tapi perjalanan masih jauh. Sampai pihak panitia open trip ngejemput aku dan Aa. Mereka khawatir sekaligus pengen ke Segara anak juga. Biarpun akhirnya mereka gak ke Segara anak karena ketemu aku dan Aa di tengah perjalanan.
Dalam perjalanan balik ke Pelawangan ini, aku sempat kepikiran mau nyerah udah gak mau lanjut jalan lagi, capek banget jalannya manjat-manjat tebing. Kalau dipikir lagi, sabar banget Aa nyemangatin dan nungguin aku yang udah capek juga laper. Sosis Aa habis sama aku. Ohiya! Kalau mau ke Segara Anak harus bawa perbekalan yang cukup, makanan dan minuman yang cukup pokoknya ini penting banget, headlamp juga (kalau kesorean).
Alhamdulillah sampai di Pelawangan 1, tempat kami mendirikan tenda. Aku dan Aa disambut hangat oleh teman-teman, baik banget dibuatin teh anget, sepatuku juga dipasangin solnya pakai tali. Emang kreatif anak gunung ini.
Lalu siap-siap tidur, jangan lupa ganti pakaian karena udah basah dan kena keringat, biar gak kedinginan dan juga tetap bersih badannya :D
Selama tidur, bener-bener berisik tenda ketiup angin yang kencengnya masyaAllah. Bahkan ada tenda kami yang lepas kaitannya(?) gak tau namanya apa hehe.
Angin kencang, badai ini bertahan sampai tengah malam, hingga pagi hari. Mengakibatkan gagalnya pendakian ke puncak. Katanya, tujuan kami itu untuk pulang, nyawa yang utama. Puncak Rinjani gak akan kemana-mana, suatu hari bisa datang lagi. Walaupun ada aja pendaki yang nekat naik sampai puncak, pas turun kedinginan dan pilek. Pas di puncak mereka ga liat apa-apa katanya, ketutup kabut. Untung deh aku tidur di tenda sama Aa.
Pelawangan di pagi hari saat angin kencang.
Oh iyaaa di Rinjani banyak monyet, kesukaan kamu :)
Lagi makan buah pagi-pagi banyak monyet nyamperin tapi gak dekat, masih jauh. Untung ramean sama teman-teman jadi gak takut monyet.
Eh lagian kan aku udah biasa ngobrol sama monyet, bentar, monyet atau buaya ya.....
Persiapan turun deh, perjalanan turun lebih cepat dari perjalanan naik. Seru lari-lari dan gak capek sama sekali. Sampai Pos 2 aku naik ojek lagi untuk menuju basecamp hehe. Sampai basecamp langsung ke toilet gak kuat kebeletttt 3 hari gak pup guys kuat banget aku.
Seru banget pengalaman pertamaku mendaki gunung ini, ketemu dan kenal temen-temen baru, belajar sabar, berbagi, ramah, dan banyak pelajaran lainnya yang aku peroleh. Pemandangan Rinjani indah dan cantik banget ya Allah. Ternyata bener naik gunung bikin candu, aku mau lagi biarpun capek, tapi senenggg dan gak kapok.
Semoga suatu saat bisa ke Rinjani lagi dan sampai ke puncaknya aamiin, yuk tahun depan bismillah.