Hati-hati duhai Hati
Dialog imaji antara pikiran dan hati.
Hati: Hey. Sedang musim semi sepertinya.
Pikiran: Ha? Ini bulan September. Musim Panas.
Hati: Hmm. Bukan itu maksudku.
Pikiran: Ah, aku mengerti. Cinta?
Hati: Iya. Kamu tak khawatir padaku?
Pikiran: Maksudmu?
Hati: Bagaimana bila tersemat nama seseorang padaku?
Pikiran: HEH! Jangan macam-macam kamu!
Hati: Hanya pengandaian. Bagaimana bila suatu waktu aku merasakan sesuatu?
Pikiran: Hati-hati duhai Hati. Bila kamu terjatuh, aku harus bekerja keras menggapaimu.
Hati: Aku akan baik-baik saja.
Pikiran: Hah. Sekarang kamu berkata begitu. Tapi nanti? Sekalinya kamu jatuh, semuanya jadi tampak benar. Sampai-sampai aku tak mampu menjadi aku.
Hati: Bukankah fitrah bila aku merasakan cinta?
Pikiran: Betul. Tapi kamu harus tahu, cinta itu menuntut. Menuntut untuk diungkapkan. Menuntut untuk disampaikan.
Hati: Sampaikan saja kalau begitu.
Pikiran: Sampaikan dengan meminang pemilik nama itu.
Hati: Bagaimana kalau belum siap untuk itu?
Pikiran: Tak perlu utarakan apa-apa.
Hati: Jadi, bila tersemat sebuah nama padaku, tidak akan disampaikan pada pemilik nama itu?
Pikiran: Hati, bila cinta bersemi, maka hal yang harus dilakukan adalah melamar pemilik nama itu, menikahi dia. Namun bila belum mampu, maka tak perlu utarakan apa yang kamu rasa.
Hati: Kenapa begitu?
Pikiran: Memang begitu. Itu yang terbaik bagi keduanya.
Hati: Tapi...
Pikiran: Ssssssttt!!!












