Nak, terima kasih sudah mencintai buku!
Aku pikir hanya gurauan waktu kamu tanya, "Pa, boleh pinjam buku ini?" Sambil menunjuk Harry Potter berbahasa Jerman itu.
Tentu aku mengiyakan. Meski ragu kamu akan tuntas satu buku, sebab kamu baru kelas satu dan sebelumnya hanya buku-buku untuk pemula yang kau baca. Kupikir kamu akan bosan, tak ada gambar di sana, hurufnya kecil-kecil, spasinya rapat-rapat.
Tapi rupanya ibarat membuka kotak pandora.
Ibumu bercerita, sepanjang perjalanan kalian ke luar kota, dirimu tenggelam di dalam ceritanya. Hanyut menyusuri baris demi baris. Tak berhenti oleh jenuh.
Dan hoopla! Beberapa hari kemudian matamu berbinar-binar menceritakan ulang padaku isi buku itu, lantas bertanya, "Boleh belikan buku yang kedua?"
Ah, Nak! Kamu yang memohon, tapi seolah aku yang mendapat hadiah.
Ada haru mendapatimu mulai membaca novel beratus halaman. Sendiri. Dan kamu mengerti.
Teruslah, Nak. Teruslah membaca dan selesaikan serialnya. Rengkuh buku-buku yang lain. Usiamu adalah usia yang haus akan imajinasi.
Terang benderang di mataku bahwa kamu sedang bertumbuh. Ingin tahu lebih banyak kata. Lebih mengerti makna keluarga, sahabat, luka, dan bahagia, melalui kisah-kisah.
Maka teruslah begitu. Dan aku pun tak kan jenuh memandumu memilih serta memilah. Ceritakan padaku segala yang berkesan bagimu.
Seperti malam itu, tengah membaca satu buku, tiba-tiba kau memelukku. Menyembunyikan wajah di dadaku. Lalu menangis.
Rupanya kamu tersedu sebab seorang nenek yang baik dan jenaka dalam kisah itu tutup usia, wafat selepas berjuang melawan sakitnya yang berat. Dan kamu jujur atas perasaanmu.