Naskah Monolog “Lupa Luka”
(Sepotong)
ADEGAN II
Dengan jarum yang tertanam merasuk dalam sukma yang dalam. Kejadian 10 tahun yang lalu membuatnya menjadi anak di bangsal bawah. Jalanan seperti racun membumbung tinggi. Lampu-lampu jalanan dijadikan penerang ketika malam, teras-teras toko dijadikan alas tidur, warung makan cina yang tak bisa setiap hariku harapkan menjadi penglipur lapar. Perutku serupa cacing yang menggerogoti diriku sendiri.
Aku sakit…
dan akhir yang bahagia
melayani waktu melewati rinduku
menyanjung harapan menghentikan perang
doakanlah yang telah tiada
semua ini kulakukan selama waktu berlalu
semoga kau sembuh
ADEGAN III
Aku yang hanya sebatang kara ini. Sendiri hanya dalam kesendirian. Namun suatu ketika aku melihat kunang-kunang begitu indah dimalam hari.

















