Laut berwarna biru, langit juga berwarna biru tapi kadang juga jingga. Sangat mempesona kalau dipandang. Manusia itu seperti itu, diluar seperti mekar bahagia, tapi didalam, remuk tak bersisa.
@menyapamakna1

seen from United States
seen from Japan

seen from United States
seen from China

seen from Singapore

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Japan
seen from United States
Laut berwarna biru, langit juga berwarna biru tapi kadang juga jingga. Sangat mempesona kalau dipandang. Manusia itu seperti itu, diluar seperti mekar bahagia, tapi didalam, remuk tak bersisa.
@menyapamakna1
Ayo, pelan-pelan jalannya. Aku tau semua tidak begitu mudah kamu lalui. Lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Bukankah memang perjuangan tak selalu berbuah manis? Ada kalanya hasil perjuangan berbuah getir dan tangis. Tapi, tak mengapa kehidupan berjalan memang seperti itu. Ingat kata kak Alvi Syahrin "tak ada mimpi yang sempurna di dunia yang tak sempurna ini."
kuharap kau dan aku baik-baik saja. sebaik-baik kau dan aku berusaha. aku berharap kau di sana selalu diberi sehat, bahagia, dan dikelilingi oleh orang-orang baik.
aku pun berharap aku juga baik-baik saja. selalu diberi sehat, bahagia, dan dikelilingi orang-orang baik.
aku harap kau dan aku baik-baik saja. sebaik-baik menjalani dan menyelesaikan harimu dan hariku. sebaik selama ini kau dan aku merampungkan segala sesuatu di antara kau dan aku.
-lostalic
Hari Buku
Selamat hari buku Akulah sisa-sisa kemarin Tanpa menulis juga membaca
Selamat menikmati Lembaran-lembaran imaji Setiap kata - setiap arti
Kepada Yang Pernah Begitu Kucintai dan Tak Pernah Mencintaiku
Beberapa hal bisa diusahakan dengan sekuat tenaga, sampai habis daya upaya Beberapa yang lain, terpaksa harus direlakan demikian adanya Bukan, bukan karena kau tidak begitu menginginkannya ada dalam genggamanmu Namun karena kau tak ingin memaksa Pun karena kau tahu, bahagianya bukan kau.
Aku tahu, sudah sejak lama kau tahu dan paham betapa aku mencintaimu. Betapa aku ingin kau jadi milikku. Betapa aku rela mengorbankan apapun, demi kau. Aku tahu, kau tahu. Sayangnya, rasa tahumu tidak cukup membuatmu berusaha mencintaiku juga.
Bertahun-tahun kita bersama. Tentu saja, hanya sebagai teman dekat. Kutemani kau, saat kau butuh. Kutolong kau, kapanpun kau butuh bantuan. Kulakukan segala hal, agar kau selalu tersenyum. Namun sama saja. Tak ada satu hal dari itu semua, yang cukup menjadi alasan agar kau mencintaiku, atau setidaknya menyukaiku sebagai lebih dari seorang teman.
Kau tahu, aku seringkali merasa begitu nyeri. Saat mendengar semua ceritamu tentang dia, dia, dan dia. Entah sudah berapa dia yang singgah dalam hidupmu. Entah sudah berapa air mata kau buang percuma, untuk dia yang bisa kupastikan, tidak secinta itu padamu. Cinta mereka semua, tidak akan sebesar cintaku padamu.
Aku sadar secara penuh, bahwa akan ada saatnya aku terpaksa harus berhenti mencintaimu sedalam ini. Merelakan kau hidup dan menikah dengan yang lain. Menyaksikan sendiri luka hatiku, bahwa rasa sedalam ini harus tersia-siakan hanya karena kita tidak ditakdirkan bersama.
Kau tentu saja tak perlu tahu, berapa kali aku mengutuk takdir. Karena nampaknya, sekuat apapun usahaku, kau tetap tidak akan membalas perasaanku. Rasanya, dunia dan seisinya menjadi begitu kejam.
Sekarang setelah kulihat kau hidup bahagia dengannya, menggandeng tangan-tangan mungil dan tanpa dosa bersamanya, aku tahu kekejaman itu mungkin kuciptakan sendiri. Meski tentu saja, pada awalnya, bukan aku yang menghendaki hatiku jatuh terlalu dalam padamu; orang yang kucintai dan tidak pernah mencintaiku.
Bukankah seharusnya, sudah sejak lama aku pergi? Menatap hidupku sendiri. Membuka hati untuk dia yang baru. Dan merelakanmu bahagia dengan siapapun pilihanmu.
-
Tia Setiawati | Palembang, 13 Januari 2017
Lihat sekeliling, barangkali teman-teman kita menjadi salah satu orang yang berusaha keras dengan dirinya sendiri.
Didalam diri seseorang ada ketakutan yang disembunyikan, ada khawatir dan mencoba untuk menyingkirkan sekeras mungkin. Pergi keluar mencoba menghilangkan apa yang menjadi sumber ketegangan. Bertemu dengan sebanyak mungkin orang untuk menenangkan pikiran, setidaknya meluruhkan sejenak kepenatan. Ketika kita sedang bercanda, tertawa, lihatlah sekeliling, ada yang hatinya diselimuti kekhawatiran.
Lihat baik-baik, barangkali teman-teman kita menjadi salah satunya.
@menyapamakna1
Nanti akan seperti langit biru.
Nanti akan ada waktunya kamu indah seperti cakrawala. Seperti langit biru, yang kalau memandang sangat mempesona. Saat ini mungkin serasa kelam, jalan-jalan yang dilalui membuat kepingan, menjatuhkan berkali-kali, bahkan rasanya ingin sekali mati. Tetap ayunkan tanganmu, langkahkan kakimu.
Nanti ada saatnya kamu akan seperti langit biru. :)
@menyapamakna1
Kalau kita mengerjakan sesuatu karena kita menyukainya, kita akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak berat hati untuk menyelesaikan tugas, karena kita menyukai pekerjaan itu. Hal yang dilakukan menjadi lebih ringan kalau kita mencintai hal yang kita lakukan. Untuk itu cintai diri kita, agar menemukan hal yang benar-benar kita sukai.
@menyapamakna1