hai calon suami, pasti kamu sibuk sekali, lelah sekali, aku tahu bukan cuma fisikmu tapi juga fikiranmu. sabar ya, di sana seolah kamu berjuang sendirian, mau itu soal kerjaan atau pernikahan, tapi ga begitu kok. sesekali aku ingin menyembunyikan cerita apa yang aku ingin sembunyikan, hanya karena kesal atas responmu yang tak sesuai dengan harapanku, tapi aku bisa apa walaupun ujung-ujungnya kesal, tetap saja aku akan cerita, cepat atau lambat. sama seperti halnya aku yang ga mau ketauan tersiksa, iya tersiksa berjuang, bukan cuma urusan rindu yang menyiksa. berbeda halnya denganmu yang bercerita aku berjuang begini begitu, kini dan dulu. jika mencari kebalikannya, mungkin akulah orangnya, aku ga mau tuh ketauan orang betapa aku belajar bagaimana logaritma bekerja, belajar susahnya melawan malas hanya untuk menghafal dan memahami bagaimana metabolisme, tau-tau orang bilang "wah kamu bisa tau ya", padahal besok-besok juga aku lupa itu apa, bahkan merasa tidak pernah ingat. buatku, ga apa-apa orang taunya aku malas ini dan itu serta banyak ga tau dan ga bisa apa-apa, toh selama mereka tidak membantu dalam proses belajarku, mereka sama-sama tak berguna apa-apa seperti malasnya aku yang mereka pikirkan. jika kamu memikirkan bahwa aku juga malas ini itu dan seolah hidupnya tak ada gairah dan tak ingin apa-apa, ga apa-apa juga. toh saya tidak begitu. atau mungkin sedang begitu? maafkan calon istrimu, calon pendampingmu yang keliatannya kamu lagi greget banget sama aku bahkan menyarankan ini itu, yang padahal aku ga tertarik sama sekali, tapi menolak mentah-mentah juga ga berani, walaupun ujung-ujungnya nolak juga. maafkan calon istrimu yang belum shalihah, solat belum mampu tepat waktu, apalagi sunnahnya, shaumnya tak ada rajin-rajinnya, baca quran tak ada rutin-rutinnya, ke pengajian banyak alasannya. maafkan calon istrimu yang ga bisa masak, ga bisa pasang gas, ga bisa balikin aqua galon, ga bisa parkir, dan ga bisa ga bisa lainnya. maafkan calon istrimu yang sampai saat ini belum berbekal apa-apa untuk menikah , belum bekerja, bahkan aku kini ga yakin bisa becus kerja kalau keinginan saja masih mancla mencle. maunya bisa menjahit, main musik, berenang. katanya sekarang aku mau terjun ke dunia kreatif saja, padahal bikin project aja belum tentu bisa, nggambar aja cuma bisa nyontek seada-adanya. tapi ini proses, proses belajar, dan berjuang dalam siksaan. yang ga selamanya "siksaan" ini ga selalu langsung aku cerita sama kamu, ya malu, ya butuh waktu untuk bahagia lagi setelah lepas dari gagal yang menyiksa, yang "siksaan" ini aku ga mau orang lain tahu juga. hai calon suami, yang nun jauh di Kutai sana, yang tampaknya sendirian, kamu ga berjuang sendirian, ada aku yang selalu mendukungmu, tidak hanya lewat pesan suara atau kata-kata, tapi juga dalam doa. semoga senantiasa sehat, sabar, murah rezeki, selalu beruntung dalam jalur karirmu, dipanjangkan ide, tentu saja dipanjangkan umurmu bersamaku, serta ada jutaan semoga bahkan lebih untukmu. semoga kamu pun selalu mendukungku dengan caramu, yang selalu kuanggap kejam dan menyebalkan. kamu memang menyebalkan hai calon suami, tapi kamu .... ah kamu tau lah aku pasti rindu.