Robert Doisneau. Place du Mercadial. Saint-Cere, France. 1958.
Cosimo Galluzzi

oozey mess
Stranger Things

Kiana Khansmith

JBB: An Artblog!

JVL
NASA
One Nice Bug Per Day

@theartofmadeline
Peter Solarz

shark vs the universe
Game of Thrones Daily
he wasn't even looking at me and he found me
Sade Olutola
h
will byers stan first human second
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
almost home
KIROKAZE

★
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from United States

seen from Japan
seen from United States

seen from Belarus
seen from Germany
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from Germany
@noirfragments
Robert Doisneau. Place du Mercadial. Saint-Cere, France. 1958.
Victor Meeussen. Mother with Child at Fair, Spain, 1956.
Aku Tidak Melihat Orang Tua ku?
Sudah sepuluh ribu
lima
ratus delapan puluh lima
hari,
aku hidup dengan dua orang kelaparan yang
mengerikan
di rumah ku sendiri dan melihat kebuasan
mereka
seperti hal-hal yang sudah dimaklumi
serupa
kekejaman yang membalas
dendamnya
dengan kekejaman lain melebihi
kejamnya
sebuah tangan yang tidak butuh
peduli
saat memotong jari-jarinya
sendiri.
aku tidak pernah membayangkan bentuk
kupu
-kupu atau cara merangkul yang baik dari
seseorang
yang jahat dan lebih dulu lahir sebelum
aku.
aku tidak tahu bagaimana membaca
kesalahan
dengan benar dan menulis kebenaran
dengan
tidak melakukan sedikit pun salah.
kadang aku merasa betul betul hangat;
kemalangan
dan kesengsaraan duduk bersamaku,
dan
sesekali mereka menahan nafasku dengan
keji
dan hanya mengizinkan aku untuk diam.
tetapi
aku tahu mereka mengambil kebahagiaanku
satu
per satu, hari per hari
dan
sampai hari ini; tiada
sisa.
seandainya saja, nanti malam aku sudah
boleh
berbicara—aku hanya ingin bertanya dengan
dua kata
dan
satu tanda tanya;
di mana perilaku?
©2020
In a birdless dawn the magician saw the concentric blaze close round the walls. For a moment, he thought of taking refuge in the river, but then he knew that death was coming to crown his old age and absolve him of labors. He walked into the shreds of flame. But they did not bite into his flesh, they caressed him and engulfed him without heat or combustion. With relief, with humiliation, with terror, he understood that he too was a mere appearance, dreamt by another.
© 2020
Aku Tidak Peduli
aku tahu ini sudah
terlalu
lama dan mungkin aku sudah
tidak
memikirkannya lagi; hidup dengan membawa
kebohongan
dan menentang diri sendiri seperti orang-
orang
yang berteriak di jalan-jalan bahwa kehidupan
ini
tidak betul-betul adil pada
mereka.
dan mungkin, sama seperti hal ini,
di mana
mengkhawatirkan kau atau membayangkan
aku
berada di pikiran kau; hanya
akan
mengajariku memotong lengan
sendiri.
aku seperti kaca berwarna dari jendela
gereja
yang sudah sangat lama hancur;
menemukan
potongan diriku sendiri di mana
-mana.
menutup mata dan menutupi hatiku
seorang
diri hanya akan membawaku
melihat
seorang perempuan tidur dengan
tangan
di hatinya.
aku hanya ingin bernapas
dan
merenggangkan kedua kakiku
dan
berhenti melihat kekejaman
di hadapan
dua mataku; berhenti mengingkari
diri sendiri
bahwa aku sudah sungguh tidak lagi
peduli.
© 2020
mungkin atau barangkali
duakata yang tidak pernah
pasti—
seperti mencintai
adalah belajar
untuk
berjalan melalui dunia ini.
dan jika kau
gagal,
kau hanya akan terus
bertanya;
apakah besok
akan menjadi hari
lain?
atau kau hanya akan
tetap
menjadi seseorang yang tidak
pernah
mengenal dirinya
sendiri?
2020
Il n'y a pas
Une seule âme parmi les arbres
Et moi
Je ne sais pas où je suis allé.
2020
Sebagian pria mungkin tidak pernah mendengar dan melupakan hal ini; rasa sakit seorang ibu bukan ketika dia melahirkan. melainkan, saat dirinya dibentak oleh anak kandungnya sendiri.
aku tidak ingin
mengatakan apapun, bagaimanapun
aku mengetahuinya.
aku lahir dan dibesarkan
bukan
untuk menilai dan memberi
ruang untuk
pikiran-pikiran mereka yang gemar
menghitung
kekurangan dan kelebihan
orang lain. bukan
memuaskan diri
dan melabelinya sendiri
bahwa kebenaran ialah
aku.
memuakkan atau memalukan;
seperti kejahatan yang tiada
habisnya direnungi.
aku tidak pernah mengatakan
tidak, untuk hidup yang,
di mana,
kesederhanaan
dan kemurnian
berjalan berdampingan.
dan
satu-satunya jalan
yang harus ditempuh
dan barangkali
lebih terang dari
malam
adalah mengingat kesalahan
diri sendiri.
© 2020
Aku Tahu Kau Ingat
Aku tahu kau
ingat: orang-orang hanya sanggup
mencintai diri sendiri
ketika mereka
tidak
sendiri.
Kapan?
Sampai kapan penulis-penulis buku dongeng berhenti dan menyerah, menidurkan orang-orang yang tidak bisa membaca seperti saya dari kenyataan. Seperti mengganti tulisan di awal kalimat buku mereka; "Pada zaman dahulu kala" lalu diganti dengan "Jika nanti saya terpilih menjadi", misalnya.
Berhati-hati terhadap sesuatu bukan berarti kita harus menutup diri. Jangan bodoh, coba pikir kembali.
Perempuan Menyukai Kecewa
Mereka bilang
mereka
tahu resikonya.
Tetapi, mereka
masih
menjalaninya
dan bagi mereka;
menangis
adalah
budaya.