Bentar, lagi makan. Habisin nasi dulu, ya.
Postingan terakhir di akun ini per tanggal 07 Februari 2020. Berarti sudah 3 tahun 6 bulan 23 hari. Entah apakah ada tulisan lain yang pernah gue hapus sebelumnya. Tapi, itu intinya.
Apakah penghuni Tumblr masih banyak yang aktif?
Masih aktif banget
Masih, tapi jarang
Baru balik juga
Voting ended onSep 5, 2023
3 tahun 6 bulan 23 hari, gue ngapain saja? Seingat gue itu mulai masuk masa pandemi gak, sih? Gue sibuk survive. Kayak yang kalian semua tahu, ngeri kalau di kota-kota besar. Gue di Jogja, tiap berapa menit di kos dengar suara ambulance. Teman sekosan semua balik ke rumah. Gue sendiri di kos. Alhamdulillah selama itu banyak dibantuin Haphap Cilor. Doi banyak bantu gue belanja, kebetulan rumahnya dekat pasar dan dia punya motor, gue mahasiswa kere soalnya hahaha. Jadi stok makan gue selama seminggu selalu ada, bahkan sering kali lebih banyak yang busuk karena gue gak punya kulkas. Simpan sayur-sayuran sudah sesuai hack-hack di sosmed, tetap saja duluan rusak sebelum dimakan.
Efek Pandemi gue jadi suka nonton film dan masuk ke dunia k-drama. Bahkan gue nglab pun sambil nonton film. Gak ada yang kayak gue, di lab itu. Plis, gue gak berusaha pick me. Gue di lab selalunya nonton film sambil ambil data. Wkwkwk.
Di tahun itu juga gue akhirnya memutuskan ke Psikiater. Dengan segala drama denial gak mau diresepin obat dan merasa kayak dunia berakhir kalau gue konsumsi antidepresan. Faktanya? Ternyata gak selebay yang gue takutkan.
Di awal tahun itu gue dapat info tentang Kak R yang bertebaran di sana sini bahwa dia dekat dengan seseorang di kampungnya, yang pada akhir 2019 lalu sudah pernah gue curigai, tapi dia berbohong. Pertengahan Agustus 2020, hubungan gue dengan Kak R berakhir. Setelah sebelumnya gue ranap di Bangsal Jiwa di salah satu RS di Jogja. Karena dia? Gak juga, banyak hal di waktu bersamaan. Percobaan bundir. Syukurnya, di saat itu ada Haphap di samping gue. Walaupun dia gak banyak nasehatin gue, nyuruh gue realistis yang mana dia cukup realistis, dia lebih banyak mendengarkan. Kalau Eka mungkin gue sudah ditempeleng dan disuruh sadar, disiram air seember untuk menyucikan gue dari bulol alias bucin tolol. Hahahaha.
Relasi gue dengan Kak Sitti juga makin dekat. Kita saling banyak bertukar cerita. Cuma gue terkadang merasa takut ketika gue terlalu frontal dengan isi pikiran gue, bahkan yang paling buruk itu justru memberi ide kepada yang mendengarkan untuk mengikutinya. Ada beberapa teman yang berelasi dengan gue, dan gue tahu mereka punya pikiran untuk mengakhiri hidup seperti yang gue alami selama masa-masa depresi berat gue ketika itu. Gue gak bilang mereka terinspirasi, tapi mengetahuinya membuat gue merasa bersalah, ya i know... belum tentu karena gue. Tapi kalau benar? Betapa menyedihkannya hidup gue.
Agustus-September 2020 gue menuntaskan pengambilan data penelitian. Hanya butuh sekitar 2 minggu pengambilan data & 2 minggu menulis. Sejujurnya gue tidak puas dengan apa yang gue kerjakan, tapi hei Yann.... Anda mahasiswi nyaris drop out masih sempat mikirin data idealis? Pret. Sadarlah. Thanks to Indah yang benar-benar bantuin gue dalam pengoperasian alat instrumen analisis karena gue mahasiswi S1 dan gak diberi kewenangan untuk pegang alat instrumen sendiri, sementara Indah sudah mahasiswi S2 dan punya kewenangan untuk memakai dan mengoperasikan. Kalau gak ada Indah, gak bakal bisa dapat data dalam 2 minggu.
Thanks to junior-junior Lab Analitik yang mau banget bantu jelasin gue materi-materi dasar semester awal yang gue udah ngblank parah. Padahal itu dasar banget. Kalau gak dibantu mereka, mungkin pengambilan data gue gak bakalan bisa berjalan. Bayangin, gue lupa rumus pengenceran wak! Lupa rumus ina inu, lalalayeyeye. Yang dasar banget. Saking gue sibuk beresin mental dan banyakin baca buku psikologi, demi tetap waras. Tapi gue kalau meratapi diri mulu, gak bakalan jalan. Rasa malu gue buang dulu. Termasuk malu masuk lab dengan isi lab teman-teman gue yang sedang menjalani S2-S3, adek-adek yang di tahun mereka masuk seharusnya gue sudah lulus. Haaaaaaah! Kebayang ya rasa malunya, padahal mereka juga besar kemungkinan gak peduli amat dengan keberadaan gue, kenapa gue belum lulus, gue angkatan berapa, mereka sibuk ngurusin urusannya sendiri.
Juga Pak Dwi yang membantu mengolah data. Gue awalnya merasa sampah banget, masaaaaa pengolaan data dikerjakan dosen, tapi beliau bilang biar cepat hahahah. Gue dikejar waktu harus wisuda November, pengajuan perpanjangan studi gue cuma dikasih 1 semester. Kalau gak, yaudah drop out, tapi kalau di kampus gue sih paling mahasiswanya yang disuruh mengundurkan diri atau malah ditulis "hilang" kalau search di portal Dikti.
07 Oktober gue sidang skripsi. Kelar sidang, gue langsung apply lamaran kerja dimana-mana. Mikirin photoshot wisuda? Boro-boro, kecemasan baru gue muncul. Gue gak mau pulang ke Timika!
Depresi belum sepenuhnya hilang. Lagi dalam tahap berusaha move on. Sudah memikirkan agar segera mendapat kerja. Dll dll dll.
November wisuda online. Sampai sekarang gue gak ada foto wisuda meskipun cuma di studio foto. Malas.
11 Januari gue balik ke Timika. Sebuah keputusan yang 50:50 pintar goblok. Hanya karena ada panggilan interview di salah satu LPNK (lembaga pemerintah non kementrian) di Timika, gue balik. Diiming-imingi janji oleh Bapak bahwa kapan pun gue mau balik ke Jogja bakalan dibantu. Gue bakalan didukung mau kerja dimana saja.
Gue gagal di interview. Kemudian panggilan interview lain bermunculan tapi di Jawa. Gue izin balik, gak dikasih. Gue gak punya uang. Di situ amarah gue memuncak. Lagi-lagi gue merasa dikhianati, tapi gue sadar lebih baik mendapat kerja dari hasil upaya sendiri tanpa campur tangan Bapak. Gue jualan pulsa, paket internet, app streaming, kerja kontrak di event PON (pekan olahraga nasional), dan selama itu Allah cukupkan rezeki gue. Tentu saja dengan budgeting hemat mampus sampai rutin berobat karena maag. Biasalah masalah gue dari dulu lama beradaptasi dengan makanan, butuh tahunan. Bahkan ini sudah hampir 3 tahun gue masih adaptasi, tapi tidak separah awal-awal tiba di sini.
Sepanjang tahun? Gue habiskan dengan survive di pusatnya zona konflik alias stressor terbesar gue.
Desember gue izin mau ke Jogja, salah satu teman berbaik hati mau menampung gue selama gue cari kerja. Mama tidak mengizinkan dengan alasan "nanti Bapak marah". Gue nangis. Gue diem, mendem semua kecewa. Mau marah? Sama siapa? Mama? Mama sudah rusak mentalnya, gak patut gue persalahin jawabannya itu. Bapak? Bosan gue itu mulu biang keroknya. Mending salahin diri sendiri saja.
Tapi memang ujian gue kayak gak ada habisnya. Tabungan yang gue kumpulin receh demi receh, penuh nangis-nangis karena harus hemat, gue gak minta uang di Mama kecuali Mama sendiri yang ngasih. Gue anti minta uang di Bapak. Tabungan gue sisa ampas, dipinjam ortu untuk dipakai membayar bunga bank cicilan Bapak di bank :)
Gue bahkan belum beliin diri gue baju yang pantas. Gue tahu gue masih pakai baju lama yang sudah buluk, tapi gue pasang muka tembok karena gue tahu gue belum punya cukup uang untuk bisa dialokasikan belanja banyak baju. Timika cuy, harganya 2× lipat di Jawa. Beli di shopee? Ongkir lebih besar dari harga barang. Jastip? Sama saja lumayan juga. Intinya income yang sedikit itu, Allah cukupkan untuk menghidupi diri gue, masih bisa dipakai ketemu teman sesekali, beli sepatu baru, slingbag, beli obat sendiri, beli kebutuhan bulanan sendiri, jajan, bahkan masih bisa nabung. Efek samping ya maag wkwkwkwk.
Ketika tiba masanya gue butuh uang yang dipinjem di atas untuk mengambil sertifikasi K3, gue gak bisa ngapa-ngapain. Kesempatan gue hilang untuk apply lamaran beberapa perusahaan outsourcing yang supply tenaga kerja ke perusahaan tambang terbesar di sini. Pernah apply untuk fresh graduate, sayangnya berkali-kali dibuka, berkali-kali gue gak lolos :)
Gak ikhlas minjemin ortu duit? Bukan gak ikhlas, tapi..... ah sudahlah. Malas gue. Intinya astaghfirullah dengan berhutang deh, na'udzubillah jangan sekali-kali. Efek merusaknya parah. Gue gak paham tentang kredit bank, merasa ketakutan kalau tiba-tiba Bapak berpulang duluan dan akhirnya kita yang lain harus menanggung ulah Bapak.
Agustus 2022. Gue menemukan cara healing paling mujarab. FANGIRLING. Gue menjadi ARMY. Salah satu jalan menyembuhkan mental tanpa obat antidepresan, cuma modal kuota internet. Kenapa baru saat itu, ya? Entahlah. Borahae uri Bangtan!
Oktober 2022 masa gue sebagai fresh graduate berakhir. Tapi alhamdulillah, gue dapat kerjaan pertama gue! Ada cahaya!
Gue lupa deh, rekrutmen BUMN secara nasional di tahub ini pas bulan apa. Gue ikut daftar tapi gak lolos tes, cuma administrasi doang. Muehehe.
Ujian baru tiba. Gue dapat kerjaan pertama gue langsung di level pemimpin tingkat Distrik/Kecamatan. Bukan staf. Dan pekerjaan yang gue dapat tidak sepenuhnya gue pahami, bahkan nol besar. Gue diterima hanya karena alasan "bisa menulis", mereka butuh orang yang punya keahlian menulis. Yang menurut gue, apa iya? Hahaha.
Tapi bukan itu intinya. Gue mulai merasakan kecemasan dan stres setiap kali ada agenda koordinasi antarlembaga. Bertemu Pimpinan tingkat Provinsi, Plt. Bupati, lurah se-kab, pihak kepolisian, atau petinggi-petinggi daerah lainnya. Gue rasanya kayak mau muntah seember. Memikirkan gue harus ngomong apa, gue gak paham sitkon, gue gak tahu harus basa basi apa.
Partner gue lainnya jam terbangnya sudah pada tinggi, mereka usia 30an dan 40an. Gue paling muda, pekerjaan pertama pula. Gue yang gak suka ngomong kalau gak penting, tapi ternyata gue harus bisa berbicara omong kosong tanpa isi, yang penting ngomong.
Rasanya lucu. Selama ini gue minta sama Allah pengen didengar, pengen lebih banyak bicara, dikasih kesempatan malah sulit melakukan. Banyak ngeluh pula. Ngeluh kok jadi kayak hobi sih, Yann?
Gimana gak, selama ini gak pernah berani ngomong karena kalau ngomong ancaman dimaki dan dipukul Bapak. Buset Yann, berhenti deh bawa-bawa Bapak lu di setiap ketidakcakapan lu melakukan sesuatu. Iya, maap. Gak, gak, emang gue saja yang gak terlatih ngomong di depan publik kok. Awal-awal grogi, tapi seiring berjalannya waktu, gue merasakan kenikmatan ngomong dengan mic di depan orang banyak, orang-orang memperhatikan gue, mereka mendengarkan gue, mereka mengikuti apa yang gue omongin, menyenangkan. TAPI SELAMA GUE MENGUASAI MEDAN, kalau gak, alamat gue mulai kena panic attack lagi. Penguasaan medan ini sulit karena aturan dari atasan selalu berubah-berubah. Kita dituntut belajar cepat bahkan tidak sampai 24 jam, harus sudah menguasai segala jenis aturan baru yang berjilid-jilid :(
Hei bersyukur! Dapat kerja loh.
3 bulan kerja, surat resign gue tanda tangani. Ditolak. Gue dibujuk. Yaudah. Hahaha. Keingat nonton konser BTS pas mereka comeback as group pasti gak murah. Modalnya gede. Keputusan yang tidak gue sesali tapi terkadang gue sesali.
Karena dalam kurun waktu 3 bulan-an itu, ada beberapa lowongan kerja. Desember ada lowongan di salah satu BUMN di sini, gue lewatkan karena permasalahan perjanjian kontrak yang tidak jelas, sementara rencana jangka panjang gue adalah keluar dari Timika. Iya, mereka rekrut untuk pegawai kontrak. Gue gak kepikiran bahwa kalau saja gue apply dan diterima, mungkin bakal membuka peluang gue bisa ke company lain karena karirnya jelas dan sesuai jurusan gue. Tapi gue ketika itu diterjang ketidakpedean. Teringat masa-masa skripsi yang membuat gue menahan malu dan stres karena tidak mengingat materi-materi dasar yang pasti akan sering digunakan oleh laboran. Gue ketakutan sebelum mencoba. Gue lewatkan.
Desember awal juga gue melewatkan panggilan interview dari salah satu perusahaan karena merasa ingin patuh pada kontrak yang sudah gue tanda tangani untuk tidak double pekerjaan. Terlalu idealis dan lugu dalam dunia kerja.
Januari awal, gue melewatkan panggilan interview untuk posisi admin di salah satu clothing brand lokal. Gue waktu itu cukup percaya diri dengan kerjaan gue bakalan bikin gue happy. Dan karena merasa jam kerja sebagai admin tsb tidak sesuai dengan kerjaan gue saat itu. Ternyata keputusan itu agak gue sesali kemudian.
Februari awal, gue melewatkan panggilan interview sebagai penjaga konter. Iya, gue apply-apply lamaran lainnya karena mikirnya untuk part time, mengingat gaji gue ½ UMR. Gue butuh tambahan income. Sayangnya, ternyata jam kerjanya tidak sesuai.
Sekarang gue pusing nyari-nyari lowongan kerja. Mencari peluang karir yang lebih baik. Bismillah saja.
Kalau flashback ke belakang, suka menertawakan diri sendiri. Gue udah berjalan sejauh ini. Usia gue udah mau 29 tahun. 1 tahun lagi mau 30 tahun, yang gue yakini adalah gue yang kok hobi overthinking mulu ini bakalan mulai khawatirin perkara-perkara usia 30 tahun. Mungkin saja usia 30 nanti gue akan menertawakan gue sepanjang 12,5 tahun kebelakang.
7,5 tahun merantau di Jogja
1 tahun tinggal di Kampung
Gue penasaran, bagaimana gue di usia 30 tahun melihat diri sendiri selama 12,5 tahun kebelakang. Kehidupan yang mulai meria semenjak memutuskan merantau dan begitu terobsesi dengan impian-impian semu. Apakah di usia 30 tahun nanti gue sudah menemukan impian baru? Tujuan hidup duniawi yang lebih kokoh?