Begitulah fitnah bekerja. Kamu tak akan mampu mengembalikan muru’ah orang yang kau fitnah seperti sediakala. — Rusdi Mathari, Laki-laki yang tak berhenti menangis
Suatu hari datang seorang pemuda yang hendak meminta maaf kepada Abu Nawas karena telah memfitnahnya. “Sungguh aku menyesal,” kata si pemuda.
Kepada si pemuda, Abu Nawas berpesan agar tak usah mengingat-ingat yang sudah terjadi. “Sekarang pergilah,” tapi si pemuda tak mau pergi. Dia ingin Abu Nawas memberi maaf.
“Baiklah. Aku memaafkanmu tapi dengan dua syarat. Apakah kamu bersedia?”
Si pemuda tak punya pilihan.
“Pertama, kau koyaklah bantal ini dan keluarkan seluruh isinya,” kata Abu Nawas sembari menyorongkan sebuah bantal.
Si pemuda segera mengoyak bantal dengan cepat. Mengeluarkan seluruh isinya. “Apa syarat kedua?”
“Sekarang, kau kutiplah kembali seluruh isi bantal itu, dan masukkan kembali ke dalam bantal,” kata Abu Nawas.
Dengan lekas si pemuda memungut isi bantal yang telah menyebar ke mana-mana. Semakin lama dia memungut, semakin banyak isi bantal yang tak bisa dia masukkan ke dalam bantal.“Aku tak sanggup.”
“Wahai anak muda, begitulah fitnah bekerja. Kamu tak akan mampu mengembalikan muru’ah orang yang kau fitnah seperti sediakala. Persis seperti isi bantal yang kau koyak lalu kau harus memasukkannya kembali ke dalam bantal. Biar beribu-ribu kali engkau meminta maaf, beribu-ribu kali pula aku memaafkanmu, semua itu tak akan dapat mengembalikan muru’ah-ku yang telah kau renggut dengan fitnahmu. Sekarang kau pergilah. Tak perlu kau ingat-ingat lagi pernah memfitnahku. Tak usah kau merasa bersalah, dan diamlah. Tak perlu kau berusaha menjelaskan kepada banyak orang,” kata Abu Nawas
Minggu, 28 Februari 2021.