Menuju Persalinan
Beberapa waktu lalu, aku membaca tulisan dari seorang teman sewaktu kuliah, Nadia Maghfira yang dulu biasa kupanggil Nadung, Desain Produk 2013, kini telah menjadi ICF Certified Coach about Marriage, Relationship & Family. Tulisannya berjudul "Salah Satu Ujian Pernikahan Kami: Menyembuhkan Luka Ketidaksiapan Punya Anak". Rasanya dalam beberapa hal tulisan ini relate untuk diri pribadi pada konteks yang berbeda.
Namun sebelum membahas apa yang relate dan apa hubungannya tulisan Nadung dengan judul tulisanku saat ini, rasanya ingin membahas beberapa komentar netizen yang justru ramai pada postingan tersebut. Mengapa ya orang-orang mempermasalahkan istilah sandwich generation? Mengapa ketika kita mengkategorikan kita adalah sandwich generation, mereka menganggap kita terbebani ketika harus memberi ke orangtua dan juga harus memberi ke adik-adik atau ke anak nantinya. Menurutku, ya sudah, maknai sandwich generation secara harafiah saja. Aku dan suami pun mengkategorikan kami sebagai sandwich generation. Tidak ada rasa terbebani di benak kami (Walau aku kadang merasa seperti itu ketika pengeluaran rumah tangga banyak. Tapi hanya berkeluh kesah ke suami, tidak pernah ke ibu dan tidak juga mengurangi berapa banyak yang diberi. Dan pengertiannya ibu adalah dengan bilang, sudah tidak usah terlalu besar, kurangi aja jadi sekian, kebutuhan kamu kan sekarang banyak. Kadang aku izin ke ibu untuk mengurangi, kadang juga tidak mengurangi, karena suami selalu bilang, jangan pernah dikurangi, itu memang rezeki untuk orangtua kita. Suatu saat pasti kita dapet rezeki dari sumber yang lain, pasti berkah).
Kami mengkategorikan kami adalah sandwich generation karena menurut kami secara harafiah istilah tersebut merujuk kepada ketika seorang anak memberi kepada orangtua itu menjadi suatu kewajiban bukan suatu reward saat anak ini menerima upah gaji yang besar sehingga ada keinginan untuk memberi ke orangtua serta generasi di bawahnya (anak atau adik-adik). Bukan yang tanpa kita memberi orangtua atau adik-adik, hidup mereka akan terus berjalan karena mereka punya penghasilan (kalau anak, sudah pasti tanggung jawab kita untuk memberi karena mereka ya memang belum berdaya). Orangtuaku dan orangtua suami bukanlah pensiunan sesuatu yang setiap bulannya akan dikirimi uang oleh suatu instansi, bukan juga pengusaha yang diam saja mungkin uang akan datang. Sehingga kami pasti memang harus memberi. Kalau aku, punya adik yang juga sudah berpenghasilan, jadi kami memang berbagi dalam "memberi". Sedangkan suami, dia adalah anak tunggal yang memang saat ini tanggung jawab untuk mamah ya hanya di dia. Untuk urusan seberapa banyak dia memberi ke orangtuanya aku tidak pernah ikut campur, karena menurutku itu hak dia, dan seberapa banyak dia memberiku pun aku tidak complain karena aku masih punya penghasilan. Alhamdulillah-nya kami masih bisa bersyukur dengan kondisi ini karena Allah masih memberikan nikmat rezeki dan tenaga untuk bekerja. Sebenernya ya bisa saja kan, kita lepas saja tanggung jawab memberi ke orangtua. Karena, seperti pada tulisanku sebelumnya (tulisan beberapa tahun lalu yang aku baca kembali). Kita memang tidak boleh menganggap anak itu suatu investasi masa depan, anak adalah tanggung jawab kita dari sandang pangan papan sampai pendidikan hingga umur tertentu kita bisa melepasnya saat ia sudah bisa berdiri sendiri. Justru kita yang harus berinvestasi untuk anak akan kebutuhannya kelak. Sehingga berbakti kepada orangtua dalam bentuk memberi setelah kita mampu berdiri sendiri, menurutku dari sudut pandang orangtua itu bukan suatu kewajiban. Sedangkan dari sudut pandang anak ya memang perlu. Apa mungkin kita sebagai anak yang sudah dibesarkan dengan susah payah ini tega menelantarkan orangtua saat mereka kesulitan?
Dalam konteks lain, maka aku mengerti mengapa Nadung memiliki rasa belum siap untuk memiliki anak dari segi financial ketika ia juga mengkategorikan dirinya sandwich generation seperti kami.
Akupun menyadari itu, tapi kami memilih untuk memiliki anak. Aku pernah membaca bahwa sektor pendidikan adalah sektor yang paling tinggi kenaikan inflasi setiap tahunnya, bisa mencapai 5-15%. Kami memang tidak membuat perhitungan dengan rinci, jika anak kami lahir 2024, dia akan butuh biaya sebesar apa hingga besar. Tapi kami sedang mengusahakan agar kebutuhannya tetap terpenuhi.
Kembali pada tulisan ini, apa yang relate dengan tulisan Nadung (distraksinya terlalu panjang hehe). Aku merasa relate ketika Nadung membahas soal intervensi orang lain terhadap rumah tangga kita. Dalam konteks Nadung, intervensinya ketika orang-orang membicarakan kok belum punya anak dll. Dalam konteks diriku adalah intervensi orang-orang hingga orangtua dalam proses menuju persalinan ini. Aku ikut berkomentar pada tulisan Nadung dengan bilang, sesungguhnya ketika intervensi datang dari orang lain aku bisa bersikap bodo amat, namun ketika datangnya dari orangtua dan cukup sering rasanya lelah dan sedih.
Baru saja aku juga melihat postingan dari akun instagram ibunda yang menuliskan monolog kurang lebih seperti ini:
"Apa sih yang membuatmu benci dengan orangtua?" "Aku gak benci dengan orangtua. Mereka mendidik dan menafkahiku. Tapi aku benci kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Itu yang membuatku kecewa."
Oke, mungkin kalau untukku, kata-katanya sedikit berlebihan. Tapi aku bisa mengerti. Lagi-lagi sedih melihat komentarnya yang menganggap kata-kata seperti itu tidak pantas. Seburuk-buruknya orangtua, mereka mungkin melakukan hal seperti itu karena menganggap itu yang terbaik untuk anaknya. Kemudian ada balasan yang aku cukup setuju, seorang yang berkomentar demikian mungkin tidak merasakan dan nyaman-nyaman saja kehidupan bersama orangtuanya, jangan menormalisasi trauma setiap anak yang memang benar adanya, hargai inner child setiap orang.
Sebenarnya aku pun tidak sepenuhnya tidak setuju dengan argumen pertama tersebut. Kadang aku berpikir, kondisiku dengan ibu mungkin saja bisa terulang padaku dan anakku suatu saat nanti. Aku dan ibu berbeda dua generasi (ibu baby boomers, aku milenial), aku dan anakku pun nanti berbeda dua generasi (anakku gen alpha). Aku dan ibu sama-sama hamil di usia penghujung 20 tahunan (menjelang 30). Sekalipun aku dan suami berkomitmen bersama akan belajar mengikuti perkembangan zaman dan akan menjaga komunikasi dengan anak, mengajaknya diskusi dua arah (hal yang jarang orangtua kami lakukan yaitu diskusinya dua arah, mendengarkan anak-anaknya). Rasanya aku pikir akan tetap ada bentrok apa itu sesuatu yang menurutku baik dan buruk serta apa yang menurutnya baik dan buruk. Semua karena perbedaan generasi ini.
Well, kembali lagi soal menuju dan persiapan persalinan. Aku berencana melahirkan di Purwakarta, cuti dari kantor sudah sejak akhir Oktober, namun sengaja pulang ke Purwakarta seminggu setelahnya. Mengapa? Karena mempersiapkan diri, bukan mempersiapkan diri mempelajari ilmu-ilmu parenting atau ikut kelas-kelas prenatal. Tapi mempersiapkan diri dari intervensi orangtua terutama ibu.
Awalnya memang dilema saat memutuskan lahiran di Jakarta atau Purwakarta. Tapi suami meyakinkan lebih baik di Purwakarta saja. Karena kalau di Jakarta, jika emergency tidak ada siapa-siapa yang bisa dimintai bantuan. Suami bekerja dan butuh waktu untuk pulang mengantar ke rumah sakit, apalagi dia masih bekerja di Cikarang walau berangkatnya dari Mega Kuningan. Kalau di Purwakarta, jika sewaktu-waktu ada emergency, banyak yang bisa membantu, ada Ibu, Bapak, dan Mamah.
Ya, intervensi dari ibu sering membuatku overthinking dan khawatir cenderung ke stres. Ibu yang masih sangat konvensional ini bertabrakan dengan apa yang selama ini aku pelajari. Dan yang aku khawatirkan memicu stres adalah aku tidak bisa mendebat. Banyak alasan mengapa aku tidak bisa mendebat. Pertama, aku typical anak yang merasa mendebat itu berarti melawan orangtua dan itu dosa. Kedua, ingin mendebat dengan alasan logis tapi kadang banyak yang rasanya hanya dari kekhawatiranku saja. Aku baru pertama kali akan memiliki anak, belum pernah handling bayi manusia sebelumnya. Sehingga tanpa ilmu yang kuat, aku khawatir apakah intervensi ibu itu memang buruk untuk diterapkan pada bayi di zaman sekarang, atau memang baiknya seperti itu. Aku takut, karena risikonya di anakku, kalau risikonya di aku, aku masih bisa terima. Ketiga, sekalipun aku mendebat dengan alasan yang logis, ibu adalah typical baby boomers (yang aku rasa ini juga dimiliki oleh Bapak dan Mamah mertua), tidak mendengarkan apa pendapatku dan merasa pendapatnya yang paling baik.
Jujur, minggu-minggu awal di Purwakarta, aku stres sendiri. Ibu bilang, nanti pakai gurita ya, nanti biar ga bodong dikasih koin ya udelnya, nanti dijemurnya di matahari langsung ya. Aku sudah pernah menjelaskan ke ibu, pakai gurita sekarang ga disarankan bu, terlau kencang, bayi bernapasnya pakai perut, kasihan. Pakai koin juga jangan bu, nanti normal sendiri, takut malah infeksi. Dijemur sekarang jangan kena matahari langsung bu, di Indonesia sekarang panasnya nggak masuk akal, jemur dari jendela aja, takut kulitnya malah merah terbakar. Ada beberapa hal yang ibu terima pendapatku, ada yang tidak. Kadang, overthinking-nya adalah saat nanti aku masih recovery, justru Ibu atau Bapak menerapkan apa-apa yang mereka anggap benar itu tanpa se-izinku. Sehingga aku komunikasikan hal ini pada suami, agar dia selalu stand by bersama dedek saat aku memang tidak berdaya. Sedih sekali, kadang rasanya aku kok tidak berdaya ya sebagai ibu untuk anakku, jika memikirkan intervensi-intervensi ini dan aku tidak bisa mendebat.
Sebenarnya aku senang karena Ibu dan Bapak sangat antusias menyambut kelahiran dedek, tapi aku sedih karena ada rasa tidak berdaya ini.
Sampai seringnya, untuk menghindari konflik karena obrolan rencana-rencana konvensional ibu itu, akhirnya aku lebih banyak menyendiri saja di kamar. Ibu selalu ingin menemani tapi alasanku kenapa nggak ke kamar depan adalah aku sering bulak-balik toilet, kalau di depan toilet duduknya jauh, kadang aku suka ngompol sebelum duduk di closet, jadi sering ganti celana. Sampai suatu hari, aku menangis sendiri di kamar, memikirkan semua overthinking ini dan belum lagi aku berpikir apa aku siap menghadapi persalinan nanti? Apa aku kuat untuk lahiran normal? Dedek di perut sudah sangat pintar sekali. Aku hanya yoga sedikit dan ngajak ngobrol dedek mengarahkan bagaimana ia harus menuju jalan lahirnya. Kemudian saat kontrol 35 minggu, kata dokter, kepala dedek sudah 1/3-nya masuk panggul, persyaratan normalnya sudah terpenuhi.
Sebenarnya aku memang mengusahakan normal, tapi kalau memang dekat hari H ada penyulit, caesar pun tidak masalah. Aku bukan berpikir, oh normal tuh ibu seutuhnya, caesar mah bukan. Tapi aku memikirkan rasa sakitnya. Normal, akan sesakit apa ya yang aku hadapi dari pembukaan 1-10? Apa aku akan kuat mengejan? Caesar, akan berapa lama ya recovery-nya sedangkan aku masih ingin bekerja? Apa benar kalau hamil anak kedua, akan lebih sakit membuka luka bekas caesar? Normal atau caesar pun ini diinterupsi oleh Ibu dari awal. Ibu bilang dari trimester awal, kamu nanti caesar aja udah, kamu nafasnya pendek, ibu paling tahu kamu, takut kamu nggak kuat. Sedangkan selama kontrol di Jakarta atau ikut kelas dengan bidan, mereka selalu bilang, kenapa mau sc? nggak ada penyulit apa-apa loh.
Lagi-lagi disitu aku merasa tidak berdaya atas keputusanku sendiri. Awalnya pilihan caesar dari ibu aku terima, karena aku belum tahu risiko normal dan caesar masing-masing apa. Tapi setelah banyak ikut kelas, kok sepertinya lebih ingin normal ya? Sehingga sebelum akhirnya bijak yang cenderung ke pasrah mau normal atau caesar, banyak sekali ketakutan menghadapi keduanya.
Tapi, hari dimana aku menangis karena semua overtinking ini, sejujurnya aku lega setelahnya. Tidak sengaja, ibu memergokiku menangis (sebenarnya sudah tdak menangis, tapi masih sembab). Ibu menghampiri dan bertanya, kenapa nangis? Aku hanya menggelengkan kepala. Ibu terus memaksa bertanya apa alasan aku menangis sampai menyimpulkan sendiri. Kenapa? Kangen sama Nicko? Berantem sama Nicko? Apa ada omongan ibu atau bapak yang salah? Ternyata ibu juga ikut menangis padahal aku masih menggeleng. Karena terus ditanya, aku hanya menjawab, "Pengen pulang,,". Ibu bilang lagi, "Pulang kemana? Ini kan rumahmu." Aku diam saja dan masih menggeleng. Sebenarnya kadang aku berpikir, apa lebih baik ya rasanya kalau aku di Jakarta berdua saja dengan suami, dibanding banyak orang disini. Hanya saja, dari sini aku berpikir, ketika Ibu tanya, "Apa ada omongan ibu atau bapak yang salah?" Itu sebenarnya aku nangis lagi sambil terisak. Ternyata ibu juga memikirkan loh agar aku baik-baik saja disini. Atau ibu tuh sebenarnya mengerti loh tidak semua ilmu parenting dari ibu bisa aku terima mungkin di setiap kali aku sedikit mendebat. Setelah itu, kami jarang lagi mengobrol soal nanti dedek harus ini harus itu nggak boleh ini nggak boleh itu. Ibu lebih banyak mengelus perutku dan coba mengobrol dengan dedek yang dipanggilnya Nunik.
Desember, hari ini sudah masuk bulannya dedek akan lahir. Satu rasa sesak di dada sudah mulai pudar. Tapi sesunguhnya rasa takut bagaimana yang terjadi di hari H persalinan itu masih ada. Sabtu kemarin, aku dan Nicko coba mendatangi klinik bidan di Purwakarta rekomendasi seorang teman. Kadang rasanya kurang puas dengan penjelasan dari dokter. Dan setiap ikut kelas prenatal, rasanya lebih lega ketika narasumbernya adalah bidan dibanding dokter. Kami konsultasi banyak disana, dan rasanya kembali jauh lebih lega. Saking lamanya kami diberi konsultasi dan cukup menyentuh, Nicko sampai bilang, "Kenapa nangis, jangan nangis." Karena ada air mata keluar dari sudut mata kiri. Agak malu, tapi kurasa bidannya pun bisa menangkap ketakutanku menghadapi hari H, walau aku menutupi dengan tetap mendengarkan dan banyak bertanya. Bidannya bilang, yang perlu dipersiapkan untuk lahiran normal itu adalah fisik, mental, dan nutrisi. Fisik, insyaAllah ceklis, walaupun nggak ikut kelas rutin tapi selama ini tetap yoga dan jalan kaki setiap pagi. Nutrisi, insyaAllah juga ceklis, selama ini hasil evaluasi setiap kontrol selalu bagus untuk semua parameter. Mental, ini yang kadang suka down. Akhirnya kami membuat jadwal lagi di minggu depan untuk hypnobirthing di klinik tersebut. Aku cukup senang karena kali ini Nicko yang skeptis soal hypno, akhirnya justru dia yang menyarankan aku untuk ikut bersama di minggu depan.
InsyaAllah, memasuki bulan lahir dedek, aku sudah siap menghadapi semuanya karena aku baru menyadari support system di sekelilngku sangat banyak dan sangat berarti.














