Saya heran dengan tubuh yang begitu inginnya abadi dengan dunia yang menjijikan ini. Sungguh saya heran. Kematian itu nyata, waktu terus berkurang. Nikmati saja apa yang ada di depan kenapa harus saling meludah demi dunia yang sungguh jijik ini? kenapa harus memaksa jika keadaan belum siap?
Banyak kelamin yang minta diberi makan kelamin lain hanya ingin dianggap oleh kelamin lain. Perut pun enggan mengalah, ia terus-terusan minta diberi masukan oleh mulut, walau sebenarnya ia tidak mampu lagi memasukan benda-benda mewah ke dalamnya. Heran. Memaksa!
Berlomba-lomba menyakiti hati orang lain, ia lupa bahwa kematian adalah kawan baiknya. Seperti contoh cerita tentang sebuah keluarga sederhana ini. Bayangkan ini adalah kisah nyata.
------------------------------
Hiduplah 4 orang anggota keluarga, dimana terdiri dari Ibu, ayah, anak perempuan dan anak laki-laki yang diberi peran oleh Tuhan sebagai kakak.
Pada awalnya hanya ada Ibu dan ayah. "Ibu" dengan huruf kapital didepannya yang menandakan betapa tinggi derajatnya dan "ayah" tanpa huruf kapital yang menandakan bahwa ia tidak penting.Ia menjadi tidak penting dan sangat menjijikan ketika ia diamanahi gelar ayah. Sekali lagi ini hanya gelar. Gelar fungsinya hanya sebagai pelengkap dan hiasan bukan sebagai aktor. Si ayah tidak berperan ayah melainkan hanya bergelar ayah.
Sampai ketika anak pertama lahir. Laki-laki. Anak yang diharapkan dapat tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, bermanfaat untuk negara dan bangsa. ayah besarkan dengan penuh cekik, hinaan, dan sumpah serapah. Sampai anak keduanya lahir. Perempuan. Siksa batin terhadap anak tidak berkurang justru bertambah.
Anak perempuan pun tumbuh besar. Ia pun tak jarang mendapat sumpah berkunjung ke neraka, diserapahi menjadi durhaka, disiram ludah, dan dicekik ketika perbuatannya membuatnya murka.
Si Ibu yang bagai bidadari pun juga tak luput dari sumpah serapah ke neraka dan tudingan atas usahanya yang nol dalam mendidik anak.
ayah bekerja setiap hari pagi hingga malam dan lupa bahwa setiap hari ia harus berkomunikasi dengan keluarganya. ayah lupa bahwa menghargai orang lain itu penting, ayah hanya ingin dihargai tanpa mau menghargai. ayah hanya mau dimintai maaf tanpa mau minta maaf. ayah hanya mau tahu hasil tanpa tahu proses. ayah lupa bahwa pendidikan penting. ayah lupa bahwa sikap orang tua akan menular ke anaknya. Ia menganggap bahwa pujian dan membeli barang mewah adalah prestasi. ayah terlalu sering lupa.
Ramadhan? sama saja seperti hari neraka lainnya ketika ayah di rumah. Setiap hari si ayah selalu membuang sumpah serapah terhadap keluarganya. Otomatis...keluarganya menjauh.
Si anak lelaki menghamili anak dari keluarga lain. Ia membuat aib yang besar pada wajah ayah. Bercerai dan menjadi pencuri di rumah sendiri.
Si anak perempuan hidup sesuai dengan harapan selalu men dapatkan tempat di hati masyarakat dan durhaka sesuai dengan doa ayah terhadapnya setiap hari.
Si Ibu setiap hari selalu mendoakan hal baik untuk ayah, anak lelaki dan perempuannya. Memperbaiki kesalahan ayah, mendidik anak perempuannya agar mau menikah, menyambung silaturahmi yang baik pada setiap orang, bekerja setiap hari, mengurus anak, memasak dan masakannya selalu dibilang tidak enak dan ayah lebih memilih untuk membeli makanan lain.
Si anak perempuan menyimak semuanya, merekam kejadian demi kejadian yang dimatanya begitu menjijikan! Ia melihat di depan mata kepalanya sendiri...sebegitu menjijikan lelaki di rumahnya. Lelaki seenaknya, melimpahkan kesalahan mereka terhadap perempuan, menyiram mani seenak kelaminnya, tanpa adanya pendidikan karakter!
Siksa batin setiap kali ayah ada di rumah, begitu yang dirasakan anak perempuan. Setiap hari si anak hanya berdoa semoga ayahnya masuk surga, menyumpahi si ayah agar mati di tengah perjalanan pulang agar masuk surga, dan atau menyumpahi ayah agar mendapat balasan yang besar di tanah suci agar ia masuk surga karena sudah dibalas di dunia.
Pernah suatu hari si ayah bertanya pada kawan si anak perempuan, "kenapa anakku menjauh dariku?aku setiap hari bekerja untuknya, menghawatirkan dirinya, kenapa ia tidak menganggapku?" tapi sayang dialog itu tidak mampir langsung ke telinga anaknya, kenapa ayah sepengecut itu? kenapa ayah tidak sepeka itu? padahal di setiap perkelahian dengan si anak perempuan, si anak sering berkata "HARGAI ORANG LAIN JIKA INGIN DIHARGAI! LO GA PERNAH ADA WAKTU UNTUK GUE KENAPA GUE KASIH WAKTU GUE BUAT LO?! Bisanya cuma nuntut tapi dituntut ga mau!". Dialog itu lenyap entah kemana dari benak ayah. Setiap selesai berkelahi ayah selalu meminta maaf, dan diulang kembali.
Si anak lelaki tumbuh menjadi anak yang pengecut, ia tidak berani mengambil keputusan apapun karena terlalu takut dengan murka ayah, tidak bersembayang seperti perintah ayah, tidak menjadi harapan ayah, membawa aib. ayah semakin geram dengan sikapnya, ayah melabeli si anak dengan label kafir. KAFIR. Menyumpahinya "KAMU TIDAK AKAN SUKSES SEUMUR HIDUPMU!!",
Si Ibu pernah sekali mencoba bunuh diri melihat kelakuan ayah yang tak jauh bedanya dengan setan. Ia mangambil segenggam obat untuk ia coba minum, namun hal itu dicegah oleh ayah. Si Ibu pun minta maaf atas kejadian tersebut. Si Ibu, Malaikat rumah tangga, menjaga keseimbangan keluarga ini. Setiap orang hanya ingin berbicara dengan Ibu. ayah, anak perempuan, dan anak lelaki bisa dihitung berapa kali saling bicara selama seminggu. Seandainya Ibu mati entah apa yang terjadi. Mungkin si anak perempuan bunuh diri.
ayah lupa...bahwa surga tidak datang sendiri, bahwa pendidikan anak adalah hal yang penting, bahwa harta dan pujian yang dicari selama ini tidak berguna, bahwa keluarga bisa menjadi perhiasan dan petaka, bahwa kata adalah doa, bahwa kematian adalah kawan dekatnya, dan apa yang didapatnya sekarang adalah buah dari usahanya.
-----------------------------
Heran? mengherankan. Apa yang lebih penting mendidik anak agar bisa mandiri dengan mendengarnya atau membenarkan pendapat dan keinginan diri? Sayang banyak yang memilih opsi kedua.