Day after Daydreaming
Hi! Long time no see me and I, right? Jadi, kita coba lanjutkan cerita gejolak hatinya -- di kondisi tak lagi ada gejolak.
Setelah awal bulan Desember kejadian itu, yang terakhir, tidak banyak yang bisa diingat terkait dengan drama roman dan picisan. Yang ada, seiring hari berganti hari, kesibukan dan target banyak berkejaran; termasuk mengejar kembali Yang Maha Kuasa.
Sibuk dengan dunia, banyak permohonan, tetapi sedikit mendekat dan bermunajat untuk akhirat. Akhirnya, di satu hari yang mendung, kembali aku merenung sambil menanti jadwal 'setoran'. Jeleknya, masih juga sambil menunggu doi, yang barangkali lewat di seberang atau depan jalanan.
Semakin ke sini, bukan lah doi yang sering berpapasan dengan aku. Tetapi dia, kawannya, yang bekerja di satu gedung yang sama denganku.
Hari berganti hari, dan tiba lah masa ujian akhir semester di kampus. Bersamaan dengan sudah direncanakannya liburan semester akan kemana, akan mengakhiri semester dengan pagelaran apa, tetapi tidak dengan rencana patah segera.
Melainkan Allah punya rencana lain untuk hamba-Nya. Seperti memang Allah atur aja; pelan-pelan diajak kembali pada pengejaran akhirat lewat 'setoran', lalu puasa untuk menahan dan menjaga diri dari maksiat. Agar siap menghadapi takdir di depan soal hati ini.
Hati ini, kala itu, tidak begitu mencari dan menanti lagi kemunculannya di Masjid seolah memang sudah tahu saja; ya, dia ada di sini, sesuai waktunya. Lalu, hari itu, keluar aku dari pintu putri dan melihat dia dari belakang berjarak satu jamaah lain.
Yang kusapa orang lain lagi, yang baru datang dari arah berkebalikan. Dengan suara lirih menyapa, sok kepedean, khawatir yang berjalan berjarak dua denganku akan ikut kedengaran. Padahal kalau iya, juga kenapa? Tinggal disapa kalau menengok:)
Tetapi rupanya, jalannya memang tidak ke sana. Tidak sama literally secara perkataan, keadaan, perkataan takdir. Doi melangkah ke arah berlawanan denganku setelah persimpangan di depan perpustakaan; dia ke kiri, sementara aku ke kanan. Berjalan terus sebelum akhirnya aku terdiam dan berbalik badan.
Aku hanya melihat ke arahnya, memikirkan apa yang mungkin tidak seharusnya dipikirkan, dikhawatirkan. "Oh, begini," batinku, "iya kayaknya gini kalau harus berpisah dan berjalan beda arah, rasanya.." Padahal karena memang beda gedung aja, kenapa sih?
Buyar.
Bukan hanya pikiran kubuyarkan saat itu, ternyata hari itu memang harus buyar; persis ketika esoknya juga final dari semester examination week. Persis malam itu, padahal, aku masih berjuang untuk dua ujian yang bisa kukatakan tidak mudah. Tidak lagi ada bantuan gambaran dari dia, tidak.
Tidak pula boleh ada dia di pikiran. Tepat malam itu, dia siarkan kabar bahagia atas pernikahannya yang akan disegerakan berlangsung. Malam itu, tanpa aku membuka grup, firasat sudah ke sana karena pertanyaan "Ka, kamu nggak papa?".
Meski bercampur aduk, antara marah dan kecewa karena pertanyaan itu datang di saat yang tidak tepat, tidak menyangka juga harus kandas secepat ini -- dengan rencana menyapa 'gila' di tahun baru. Ternyata, Allah lebih cepat datang menyelamatkan aku.
Selamat dari dan/atau telah melalui such a daydreaming, let's put it that way..

















