Dari darahku yang mengalir
Kutahu ku hanya anak selir
seen from China
seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Sweden

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Italy
seen from United States

seen from Singapore
seen from Canada
seen from India
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from China

seen from Netherlands
seen from China
seen from Singapore

seen from United Kingdom
Dari darahku yang mengalir
Kutahu ku hanya anak selir
Aku ingin menyerah, tapi menyerah bukanlah pilihan. Bahkan memilih untuk berhenti dari semua kekacauanpun tak bisa, harus berlari namun tak temukan tempat untuk bernaung, mencoba menerima namun isi kepala tak mau berdamai, terlalu penuh, terlalu ramai.
“Seni kehidupan adalah ketika kamu bisa tetap melangkah ketika rasa menyerah sudah membakar semua semangatmu.”
___
“Seni perasaan adalah ketika kamu bisa menguasai dirimu, tertawa saat berduka, menutupi segala nestapa dan berusaha terlihat baik-baik saja.”
___
“Seni pikiran adalah ketika kamu bisa mengendalikannya mana prioritas mana bukan, kapan harus bersikap bodoamat kapan harus berpikir keras. Tetap tenang saat pikiran sedang kacau-kacaunya.”
___
Bersambung..
Jashujanmu
malam ini entah mengapa tak bisa ku pejamkan mata
kepalaku pusing dan hatiku dipenuhi kesepian
cemas, gelisah memikirkan diriku sendiri yang begitu kacau, sangat kacau, remuk
sesak, ingin menangis malam ini
mataku mulai berkaca-kaca penuh dengan air mata
kuhela nafas, kuusap air mata yang kini terlanjur menetes
....
selasa, 9 juli 2019 ; 00:36
akuyangselalukesepian
KACAU
Lama tak bersimbah gurau
sedikit tersinggung meracau
inginnya kubuat pulau
tak ada siapa, hanya beberapa bangau
agar tak ada yang halau.
Namun ada juga engkau
yang binar ranumnya menyilau
yang lekuk tubuhnya memukau
lambai tangan tak dihirau
habis suara sampai parau
tak sedikitpun kau berkicau.
Aku semakin kemarau
berdoa suntuk di surau
minta kau mau dihimbau
karena kini aku sakau
sendiri tak berarti bagai tungau.
— Bandung, A.
Kau egois. Kau biarkan dunia kita berada diujung. Tanpa ada tujuan. Tanpa kepastian.
Sungguh.
Aku tak pernah mengira kata-kata itu terucap dari bibirmu.
Tak pernah ku bayangkan kita sampai sejauh ini.
Bahwa dunia kita adalah sama.
Dan ironinya,
Ternyata kau merasa terombang-ambing,
Tenggelam, mengalir deras bersama waktu.
Kata-katamu menusukku.
Membawa pikiranku liar.
Melebur dalam sukma.
Sangat dalam tak terdeskripsi.
Malam semakin meninggi.
Di luar senyap,
Di dalam kacau balau,
Di sinilah aku,
Mempertanyakan bagaimana semesta bekerja..
Sudah hari ke 2 aku tak dapat pesan darimu pun kabarmu. Terakhir, aku kirim pesan ingin tau kabarmu dengan dalih menanyakan sesuatu pun kamu tak jawab. Aku tau kamu menerima pesanku dan kamu pasti baca. Ah kamu selalu saja begitu, mas. Ya, mungkin waktumu dengan keluargamu sedang tak ingin di ganggu, terlebih oleh ku yang hanya sebutir debu, Aku yang sedang coba berpikir positif. Mungkin jika nanti kamu butuh atau sedang bosan, kamu akan mencoba menghubungiku lagi, dan aku selalu menerimanya. Atau mungkin km akan mencari yang lain, karena aku terlalu membosankan, itu bisa saja. Ah, pikirku sudah meracau kemana-mana tak karuan. Aku mencoba tenang tapi tak bisa. Apa kamu memang sedang ingin mencoba sabarku, ah pikirku semakin tak karuan. Ah kenapa sih mas, selalu saja buat hati dan pikiran ku tak karuan.
-hati dan pikirku sedang kacau dibuatmu
Day 2 Telling My Reason Starting This
Prompt: "Waktu aku pertama kali coba KONTAK DOI DAN UJIAN ANALYSIS BASED, hasilnya benar-benar kacau,".
Story: Kacau kubilang, karena akhirnya kemarin nilai ujian itu dibagikan. Tetapi, bukan itu saja, hati semakin kacau ketika kembali memikirkan permulaan obrolan dengan si dia tentang ujian ini.
Pertama kali aku menghubunginya via WhatsApp, setelah sebelum-sebelumnya biasa aku menghubungi via Instagram. Kayak eksklusif betul, tetapi justru terasa spesial -- somehow. Jadi, saat mau memulai obrolan baru di platform baru, ada aja yang dikhawatirkan.
Khawatir apa? Diserang sama ekspektasi sendiri aja.
Mulanya, aku belajar untuk satu mata kuliah yang baru kali itu juga aku menjalani praktikum sedemikian rupa. Aku bertemu dengan temannya satu angkatan, dan dia menawarkan aku catatan dia dari tahun sebelumnya. Tanpa kuminta, maka aku simpulkan dia baik, dong?
Dari situ lah, ekspektasi-ekspektasi pada manusia yang serba tak terduga bermunculan di kepala. Aku mulai punya ekspektasi, temannya baik, maka dia juga baik. Tetapi, aku sendiri takut dipatahkan ekspektasi sendiri. Bagaimana jika ternyata tidak?
Seharian aku memikirkan bagaimana pesan harus kutuliskan, sampai bertama pada sahabatku, 'adakah tampak ketidaknaturalan dalam pesan yang kutulis?'. Di sisi lain juga mengkhawatirkan terbacanya upaya pendekatan pada dirinya, ups.
Langsung aku matikan daya setelah mengirimkan pesan terkait referensi ujian yang kubutuhkan dalam waktu dekat. Sambil sesekali menyalakan kembali, hingga akhirnya mendapatkan balasan yang tak terduga. Betul 'kan? Namanya juga manusia.
Dia bilang tidak punya jejak digital yang aku minta. Dia bilang punya berkas fisik yang bisa dia bantu carikan. Dia mencarikan berkas yang aku mau dan dia mengambil foto untuk setiap halaman yang kuminta. Lalu, mengirimkannya padaku? Jadi, dia baik, dong?
Atau aku sudah mulai berlebihan dengan perasaan?
Lantas, aku mendapatkan sedikit gambaran dari apa yang mungkin akan aku hadapi di ujian kali ini. Dengan melihat nilai dia yang nyaris sempurna, aku menargetkan seminimal mungkin di 'yah bisa lah, 9-12 gitu,'. Kalau dilihat-lihat, beberapa jawaban sederhana ditoleransi dengan cukup tinggi juga.
Tapi ternyata, sakitnya cinta, buat aku menangis...
Setelah belajar sepekan hampir penuh, setelah sekian lama tidak meneteskan air mata. Thanks to my professor, thanks to him, juga temanku yang mendorong air mata sampai ke pipi dengan pengingatnya. Pikiran dan hati kacau karena nilai setelah sekian lama.
Aku mencoba tenang, hanya berujar 'makin apalah aku, disandingnya,'. Hampir separuh dari nilai yang doi dapatkan sebelumnya, membuatku berpikir macam-macam. Tetapi, ternyata ujaran kerisauan ini tidak cukup sampai di situ.
'Bagaimana lah kalau supervisor-ku tahu aku begini,', khawatir tak sampai aku pada standar di pikiran dia. 'Doakan aku lulus, jangan aja sampai kena drop-off,' ketikku pada sahabatku yang kemudian memicu air mengalir dari pelupuk mata.
Ini pertama kalinya aku mengontak dia, ingin berterima kasih atas bantuannya, tetapi kacau balau juga hasilnya; mana bisa? Kata sahabatku, 'ingat, tugas kita berusaha, di jalanNya, untuk agamaNya, menuntut ilmu sampai akhir hayat; urusan hasil serah padaNya,' menohokku.
Sudahlah aku kacau dengan ekspektasi sendiri, imbuhan gejolak asumsi, serta kemurnian niat yang tercemari. Setidaknya, aku belajar. Mengerti tipe soalnya saja, sudah terhitung belajar 'kan? Karena lagi, ini kali pertama aku mengambil mata uji ini #pembelaan.