Prompt: Kadang yang kita butuhin bukan motivasi, tapi keberanian untuk ngomong, mulai. Besar motivasiku untuk menyapanya, tetapi tidak ada keberanian buat apa?
Story: Kalau kalian ingat, betapa aku betul-betul memikirkan, bagaimana memulai percakapan dengan dia lewat WhatsApp. Kali ini di luar dugaan ada kesempatan berkali-kali, aku dan dia berpapasan.
Ceritanya, di kampus ini sudah masuk periode pekan sibuk, sebelum pekan berikutnya betul-betul menjadi akhir. Beberapa sudut perpustakaan menjadi lebih ramai karena tugas bersama banyak diberikan.
Tapi siapa yang menyangka, begitu katanya; yang tidak sedang dipikirkan, dicari, justru dihadirkan di atap yang sama. Aku masuk lewat lorong perpustakaan dan ekor mataku menangkap sosoknya duduk di sudut ruangan.
Lompat satu baris ke belakang dari tempat dudukku dan teman-temanku, ia duduk bersama temannya -- yang juga rekan kerjaku satu grup riset. Pikiran agak liar, tetapi bahagia.
Hari berikutnya, hampir sama tetapi kali ini dia di dalam cubicle bersama rekanku itu. Lalu, temanku yang kemarin, rupanya sedang duduk menanti dia keluar dari cubicle karena waktu bookingnya sebentar lagi. Aku? Hanya curi pandang selagi lewat.
Sampai temanku mendukungku untuk memulai obrolan dengan dia, dengan -- ada-ada saja lah-- mengembalikan kertas yang tertinggal. Padahal aku tau bagaimana rupa tulisannya lebih cantik daripada yang tertera di kertas itu.
Sementara di pikiranku, lagi liar. Aku takut akan sangat kecewa jika mendapati kewajiban utama dia terlewat karena satu tugas bersamayang dia kerjakan sedari tadi. Aku berceloteh lah ke temanku, "Dia apa tidak keluar sedari tadi kamu menunggu?"
Syukurlah, insyaaAllah, dia bukan green-flag lagi menurut temanku; lebih dari itu jadi green-field:)
Esoknya lagi, masih dalam rangka memupuk motivasi belajar. Aku mendekatkan diri pada cubicle-cubicle yang tersedia di perpustakaan, sampai nampak lah bayang dirinya di balik layar kaca salah satu cubicle. Hanya tangan yang aku lambaikan, tapi setidaknya, lebih dari acungan jempol lampau.
Aku? Berakhir duduk di dalam salah satu cubicle berjarak satu cubicle lain dengan dirinya. "Begini rasanya berjarak dan berbatas tembok, ya" aku meromantisasi momen. Hingga panggilanNya tiba, bertanya-tanya lagi dalam pikiranku soal kebiasaannya.
Ya Rabb, aku tidak tau sejauh apa aku salah. Tetapi, ketika aku tertular baik, aku merasa ini tidak apa. Aku keluar ruang menuju tempat panggilan dikumandangkan cukup awal. Sementara itu, aku melewati ruangan tempat dia duduk. Belum beranjak.
Gejolak pikiran lain yang muncul, yaitu "Hmm, tapi ya mungkin ini cara Allah menjaga atau sekaligus menguji aku," membela, denial macam apa ini? Tetapi setelah rutinan diselesaikan, dia pun tampak dari kaca lantai atas. Dia tetap yang bergegas, kan?
Memang kalau sudah jatuh begitu, ya?
Aku yang bergegas turun, memikirkan harus menyapa bagaimana. Atau mungkin sebaiknya lain kali tidak begitu bergegas agar lebih tertata apa yang ingin aku ungkapkan. Yang keluar? Mixed language, random topics.
Padahal jawabannya aku sedikitnya sudah tau dari grup. Padahal ada pertanyaan yang bisa mengarahkan aku pada titipan kebaikan, misalnya. Namun, yang keluar?
Me: Minggu depan udah selo ya, Mas?
....
Me: Eh, maksudnya udah longgaran?
Him: Oh, iya. Kamu udah project-nya?
(sayup-sayup ketutup dugun-dugun hati terdengarnya)
Me: Hmm, aku no project, all exams.
(mungkin sayup juga terdengar karena angin dari pergerakanku yang selaras sama gemuruh hati)
Lalu terbilas cepat jejak obrolan kita di jalan masuk maskam ini oleh jejak lalu-lalang jamaah yang lain. Pikiranku jadi, 'obrolan macam apa itu tadi'.
Namun, setidaknya, yang mungkin terpupuk sejak hari-hari sebelumnya, dari menata diri, niat, memupuk motivasi, sudah tumbuh menjadi satu keberanian hari itu. Memulai percakapan, berbuah apa-lah yang hanya aku yang mengerti.
Meskipun tidak jelas juga, ya. Wish us luck.