beha runcing madonna
Ia adalah perawan suci Madonna. Mengundi nasib ke kota besar dengan berbekal wajah manis dan kemampuan menarinya. Seperti Bimbi dalam lagu pujaannya, Titiek Puspa.
Perjalanannya tidak mulus. Bekalnya yang tidak seberapa membuat ia dengan cepat kehabisan uang. Ia bekerja di toko donat, menjadi penari paruh waktu, model telanjang. Namun dia tetap seorang Madonna, perawan suci.
Hubungan asmaranya dengan beberapa musisi, mengantarnya masuk ke dalam dunia musik. Ia berada di dalam satu grup musik dengan pacarnya. Lalu keluar band saat putus. Lalu membentuk band lain dengan pacar barunya. Namun dia masih seorang Madonna, perawan suci.
Bintang-bintang berbaris, keberuntungan menimpanya. Ia masuk ke dalam perusahaan rekaman besar, dan debut sebagai penyanyi dan penari. Seperti lagu dalam album debutnya, ia adalah Lucky Star. Karirnya menanjak dengan cepat. Pada album keduanya, hits besar lahir. Lagu abadi dirinya, Like A Virgin, Madonna, seorang perawan suci.
Ia adalah ikon fesyen. Semua gadis mengikuti gaya berbusananya. Bahkan beha runcingnya.
Namun gerakan pemuda hijrah dan hipokrisi kebenaran moral yang melanda negeri ini membuatnya sebagai kontroversi.
Madonna adalah perawan suci dengan kerudung menutup kepalanya. Dengan beha runcingnya, ia bukanlah Madonna, sang perawan suci. Pakaiannya bukan Madonna. Ia melecehkan nama Madonna!
Persekusi!
Boikot konsernya!
Betapa malu dan hancurnya Madonna. Ia menangis di tengah panggung konser. Sedangkan di bawah panggung, massa mengamuk. Mereka melemparinya dengan apa yang bisa dilempar: sandal swallow dan botol aqua. Diantara mereka ada yang melemparinya dengan uang saweran seraya mengumpat marah.
Namun tiba-tiba beha runcing yang ia pakai berbicara di tengah konser, “Siapa kalian yang menghakimi kesucian seseorang dari pakaiannya?”
Tangis Madonna berhenti. Semua orang terpana.














