Orang baik itu sangat banyak. Tapi di antara yang sangat banyak itu, akan ada satu orang yang tepat.
Satu orang yang cukup luas hatinya untuk tempat kita tinggal. Satu orang yang dengannya kita tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk mempertahankannya.
Kemudian aku sadar bahwa membangun asumsi terlalu banyak, justru sangat melelahkan.
Ketika kepalaku dengan kencangnya berkata bahwa aku menjadi satu-satunya yang paling dekat dengan hatinya, justru kenyataan membawaku pada kesadaran bahwa rumusnya tidak selalu begitu.
Yang dekat tidak selalu menjadi satu-satunya. Karena terkadang, bagi seseorang kita tidak cukup untuknya. Dan tentu, itu bukanlah suatu kesalahan atau kekurangan kita.
Hanya saja memang, dia tidak memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal besar di dalam diri kita, yang mungkin sudah teramat cukup untuk dia punya.
Bukan salah kita. Karena sekeras apa pun usaha yang dikerahkan untuk menyayanginya, kita tidak akan pernah cukup untuk memenuhi ekspektasinya.
Lantas apa yang dapat dilakukan? Tidak ada.
Karena kita tidak perlu mengubah apa-apa yang sudah kita punya hanya untuk membuat seseorang tetap ada.
Kita hanya belum bertemu dengan seseorang yang tepat saja.
Seseorang yang hatinya cukup luas untuk dijadikan tempat pulang.
Seseorang yang dengannya semua mimpi-mimpi kita terasa mudah untuk diwujudkan.
Seseorang yang mendukung dan menjadi support system atas semua hal yang telah kita rangkai di hari sebelumnya.
Seseorang yang menghargai kita sebagai pasangan. Ia menjaga dalam banyak keadaan.
Seseorang yang bahkan hanya dengan melihat kita tersenyum, hatinya sudah begitu bahagia tersebab baginya itu cukup.
11:51 a.m || 04 Desember 2021