Ada beberapa alasan untuk tetap berbuka puasa di rumah
Dari A-Z
Dan semuanya mengacu ke kamu

Kiana Khansmith
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

blake kathryn

❣ Chile in a Photography ❣
NASA

Origami Around

Discoholic 🪩
Cosimo Galluzzi

#extradirty

Jar Jar Binks Fan Club
Fai_Ryy
Keni

Love Begins

ellievsbear

PR's Tumblrdome
d e v o n
𓃗
hello vonnie
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
taylor price

seen from United States
seen from Uzbekistan
seen from Iraq

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United Arab Emirates

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Canada

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Ukraine
seen from Singapore
seen from Ukraine

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from South Korea
@offowordmbs
Ada beberapa alasan untuk tetap berbuka puasa di rumah
Dari A-Z
Dan semuanya mengacu ke kamu
Sudah 2 tahun,
Waktu yang cukup untuk move on,
Namun tak semudah itu,
Dimataku seakan ada dirimu,
Dimimpiku ada kamu,
Kamu kembali mengetuk hati ini,
Seakan tau semua tidak dalam keadaan baik,
Senyummu, selalu manis,
Oh sayang, apa kau bisa datang dan temani tidurku kembali
Maaf,
Tidak ada maksudku menyakiti hatimu,
Semua terucap dan kurasa itu hal wajar,
Kita manusia penuh dengan kejadian spontanitas,
Namun,
Aku rasa aku memang salah,
Aku harap kau memaafkanku,
Seperti yang ku mau
Terkadang ada beberapa hal yang tidak seperti pikiranmu,
Karena memang tidak mengalami bukan bearti kamu bisa seenaknya menjabarkan dan mengkomen semaumu,
Ada beberapa hal yang bisa kita tolerir dan tidak,
Untuk hal sensitif, sepertinya tidak bisa di buat candaan
Juli : Sebuah surat untuk dirimu tersayang. Hay, Apa kabarmu ? Semoga kau baik baik saja, Aku mengirimkan surat ini sebagai tanda rinduku kepadamu, Sudah begitu banyak malam terlewati tanpamu, Dan jawabanku masih sama, Aku belum terbiasa dengan semua ini, Sayangku, Aku sangat merindukanmu, Aku sangat ingin bercerita denganmu, Berbagi semua hal yang kulalui hari ini, Bagiku, hanya kau yang pantas mendengarkan itu, Curahan hatiku, sesuatu rutinitas yang kita lakukan sebelum kita melangkah ke alam mimpi, Aku merindukan tutur manismu yang akan menyakinkan setiap raguku. Cintaku, Kini rumah kita terasa sangat besar, Kasur kita pun seakan melebar, Kamar kita yang dulu menjadi tempat rahasia kita, Sekarang hanya menjadi tempat ku membayangkan dirimu bercerita, Membayangkan senyum terukir disetiap kisahmu, Kadang dengan itu, Aku terlelap sendiri. Terlelap dengan kelelahanku sendiri. Kekasihku, Dimimpiku aku berharap ada kamu, Sekarang, aku tak bisa memandangmu secara dekat, Tak bisa menatap mata indahmu lagi, Tak bisa melihat senyum manismu kembali, Hanya di mimpi saja, Aku bisa menikmatinya, Tentu tak sama, namun setidaknya melepaskan rindu sementara. Permaisuriku, Disetiap malam, Aku selalu mencoba menggapaimu, Aku paham kita bisa terhubung melalui doa, Cara kita menyayangi sekarang agak berbeda, Tapi tujuannya tetep sama, Dimana aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu Dan aku akan melakukan sebisaku untuk buat kau bahagia. Sayangku, Sekarang tujuan ku telah tiada, Hidupku hanya melanjutkan saja, Aku tak tertarik terhadap apapun, Bagiku yang menarik hanyalah dirimu, Dan ketika kau tiada ku tak berminat dengan itu. Terimakasih sayang, sudah menemani hidupku, sudah menjadi takdir cintaku, menjadi teman dalam suka dan duka, sekarang aku akan menjaga harta kita tersayang, sesuatu yang tak pernah luput dari doamu sepanjang malam. Kita akan bersama kembali sayang, Diwaktu yang tepat. Kutunggu itu, dimana kuyakin kaupun sama. 29 Juli 2022 https://www.instagram.com/p/CgnZnFQP-733ldCdHU6UUdvlqq5ymExkrubOww0/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Mei : Sekarang aku
Jangan begitu,
Jangan memandang tinggi diriku,
Takutku kau akan kecewa dengan harapanmu,
Walaupun itu bukan salahku,
Namun ku bisa memberitahu dirimu sebelum itu.
Aku akan menceritakan diriku kepadamu,
Aku hanyalah seutas buaian yang sudah terbang jauh ditiup angin,
Aku bukanlah apa- apa.
Raga ku sudah setengah mati,
Lepas kepergian kekasihku,
Aku merasa tak tau bagaimana cara menikmati hidup,
Aku hanya hidup.
Jangan merasa kasihan kepadaku,
Aku tak perlu empatimu,
Bagiku biarkan begini,
Berjalan apa adanya,
Menikmati detik demi detik menuju menit,
Mensyukuri apa yang telah kita petik.
Karena Sekarang, hanyalah aku.
Ya, aku.
Mei : Selamat Jalan, Kekasih.
Perpisahan bukan lah suatu akhir,
Perpisahan bisa jadi akan membuat sesuatu hal yang baru,
Sesuatu yang kita sendiri tak pernah memikirkan hal tersebut,
Perpisahan bisa menjadi hal terbaik.
Lelaki itu terduduk kaku tepat di kursi depan rumahnya,
Wajahnya mendadak memucat sendiri,
Dia tak kuasa untuk menceritakan apa yang terjadi hari ini,
Baginya ini hanyalah sebuah mimpi buruk,
Dan berharap semua akan kembali ketika dia terbangun,
Dia mengingat ingat tentang apa yang terjadi,
Ketika orang menanyakan kepadanya,
Dia tetap bingung,
" Saya tak menyangka "
Sepatah kata yang keluar dari mulutnya,
Cukup memberikan sebuah jawaban.
Dia kehilangan,
Orang yang dia sayang telah pergi meninggalkan sejuta kenangan,
Air mata yang tak mau turun menandakan dia cukup lelah menahan semuanya,
Matanya sayu,
Dia tak perlu menceritakan dengan mulutnya,
Hanya cukup lihat dan tatap wajahnya,
Kehilangan yang cukup mendalam dia rasakan.
Pagi itu,
Belahan jiwanya menutup usia,
58 tahun,
Tepat 2 tahun menuju angka keramat baginya,
Kepergian mendadak membuat dia tak kuasa sendiri,
Keceriaan yang semalam masih melingkar di wajah berubah menjadi kesedihan.
Separuh jiwanya berpulang,
Tujuan hidupnya pun tampak sudah tidak ada,
Motivasi hidup kini hanya menjalani sisanya sebaik baiknya,
Dia paham,
Permaisurinya masih di dekat dirinya,
Dia tak ingin membuatnya sedih,
Namun belum bisa melawan keadaan.
"Berilah Aku waktu sebentar"
Ucapnya sambil menangis dan mengelus nisan permaisurinya.
Mei : Selamat Hari Raya !
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Ma
Minal aidin wal faizin,
Saya mau meminta ampun kepadamu, atas segala perilaku saya selama 25 tahun kita bersama terlebih tahun ini,
Saya mau meminta ampun kepadamu,
Apabila sering membuatmu kecewa,
Kepergianmu membawa sedikit luka,
Apalagi mendengar cerita orang tentang diriku untukmu,
Saya merasa bersalah tak dapat memenuhi ekspetasimu,
Saya tak dapat mengungkapkan melalui kata²,
Disini,
Semua perasaan saya akan saya ceritakan,
Pertama,
Saya menyayangimu, diseluruh hidup saya sampai umur sekarang, kamu memang terbaik, anugrah terindah yang tuhan berikan untukku, kamu sempurna, tempat untuk bercanda terbaik, curhat ketika ada kesusahan, dan nasehatmu baik, tenang, pemilihan katamu, itu yang saya suka, kamu pintar memilih dari sebagian kata di rangkai menjadi kalimat dan membuat saya terpikat, ya memang tidak diragukan karena kamu memang pandai memikat orang dengan itu.
Kedua,
Saya tak menyangka akan terjadi tahun ini, Memang kematian adalah suatu fase yang akan kita lalui. Namun untuk tahun ini, saya tak menyangka akan menjadi tahun terakhir kita bersama, kita sudah memiliki rencana indah, tentang apa yang kita lakukan ketika saya pulang dan merayakan lebaran bersama untuk pertama kali sejak saya bekerja. Namun ada rencana tuhan di balik semuanya, di saat kepergianmu, kusadar, bahwa kematian tidak menunggu kita, tapi kita yang menunggu dia.
Selanjutnya,
Saya mencoba untuk melanjutkan hidup tanpamu kedepannya, berat, seperempat jiwa saya sudah terbang bersama denganmu, kenangan indah selalu terbayang, suara candumu selalu terngiang, bahkan wajahmu selalu ada di ingatan kepala. Saya membutuhkan waktu, dan itu akan memakan waktu yang lama.
Lalu,
Ketahuilah, saya tak ingin membuatmu bersedih, saya paham dirimu masih ada di sisi saya namun kau takkan bisa memberikan saya saran tentang buruk hal yang akan terjadi, saya hanya berharap tak melakukan sesuatu yang buruk untuk harta terakhir kita.
Dan,
Untuk harta terakhir kita, ABAH.
Saya mengakui abah cukup berat kehilanganmu,Masih syok dengan kondisi terakhirmu, Kondisi dimana dia menyalahkan keadaan kenapa itu bisa terjadi, dia masih menangis tepat di tempat peristirahatanmu, sesekali berkunjunglah kemimpinya, belahan jiwamu butuh dirimu sebentar. Kami juga akan membantu menguatkannya, sepertiku bilang, kami butuh waktu, namun dia lebih membutuh waktu yang lama untuk itu, tak apa, selama kami hidup, kami akan menjaganya selalu. Kita akan saling menjaga sampai tuhan menyatukan kita kembali.
Sudah terlalu panjang, Semua keresahanku sudah ku tuliskan, Lebaran tahun ini akan berbeda, Namun Saya akan selalu bercerita kepadamu tentang kondisi keluarga kita Setiap tahun selama saya hidup.
Selamat Hari Raya Ma,
Uta, Adis, Abah sayang pian.
Aku : Hanyalah objek kesalahanmu
Aku boleh berkata sesuatu,
Aku benci mendengar kau membandingkanku dengan masa lalumu,
Aku benci mendengar nama dia keluar dari mulutmu,
Setiap masalah yang kau hadapi,
Semua hal yang kau lakukan,
Dan ketika semua tak berjalan baik,
Kau marah,
Amarahmu menggebu,
Menyalahkan keadaan menjadi fokus utamamu,
Kenapa ?
Bagaimana bisa ?
Semua kalimat tanya keluar,
Mengarah ke satu orang di hadapanmu,
Dan memulai perang dingin antara kita.
Lalu, kau selalu membandingkan ku dengan masa lalumu,
Seburuk itukah aku,
Setiada berarti kah keberadaanku disini,
Sehingga kau harus menyinggungnya,
Tapi, apalah daya,
Melawan hanya akan menyiksa diri,
Ku sadar keberadaanku di matamu hanyalah seperti kertas kecil,
Tak begitu berarti,
Dan kau bisa buang ketika kau mau.
Jadi, Jawabanku akan amarahmu hanyalah diamku sendiri,
Ku akan menunggu sampai kau lelah sendiri,
Dan mulai menerima kenyataannya,
Berdamai dengan itu,
Dan tak menyalahkan orang atas masalahmu.
Teruntuk kamu,
Setelah mendengar kabarmu,
Jujur, aku mengkhawtirkan dirimu,
Aku membenci waktu sekarang,
Terlalu jauh, sehingga kita tak dapat saling menghangatkan, ucapakan singkat via surat tentu tak sama rasanya seperti halnya berjumpa.
Kekhawatiranku bukan tentang apa yang kamu lakukan, tapi lebih kepada bagaimana dirimu, Terlebih di tengah kondisi yang seperti ini,
Kamu tau,
Sekarang, dunia sedang berantakan, cerita terlalu banyak di karang,
Membuat ketakutan menjadi jadi.
Seolah momok baru yang kita tak tau secara pasti.
Cerita yg datang pun tak bisa kita di pilah dan di olah dengan baik, kita terlalu lelah untuk memikirkan yang baik dan buruk, dan bersikap acuh dan mengiyakan semuakan, terlebih kita memang terlalu gampang untuk percaya.
Untuk itu,
Jaga dirimu untukmu selalu,
Sekarang ini,
Orang yang bisa kita selamatkan adalah diri kita sendiri,
Terlebih dahulu.
Feb, 22
Tak terasa memang sudah lebih dari 7 bulan saya menapakkan kaki saya disini,
Tempat yang akan selalu saya ingat sebagai tempat belajar dan bermain saya,
Bukan waktu yang lama untuk meninggalkan satu kenangan,
Namun bukan tidak ada kenangan yang tersisa,
Kalian adalah kenangan itu,
Sebuah keluarga baru yang saya temukan dan membuat saya nyaman disini,
Sebenarnya, saya berharap untuk dapat lebih lama di sini,
Berbagi bersama dan tertawa lagi,
Tapi, keputusan sudah ada,
Dengan surat yang saya terima,
Saya mengucapkan perpisahan untuk sementara.
Sampai bertemu di tempat lain dan tetaplah solid seperti biasa.
NOVEMBER, 8.
Bagiku,
Setiap trauma memerlukan obat untuk dapat sembuh,
Tak menutup kemungkinan memang obat yang di butuhkan adalah berdosis tinggi,
Karena yang di butuhkan adalah efek dari obat tersebut,
Setidaknya bisa melepas secara perlahan trauma yang ada,
Dan membuat luka menjadi bahagia untuk selamanya.
-OBAT-
131196
Diammu hanya membuat tanda tanya,
Tak berjawaban,
Tak membuat tenang,
Apakah aku masih ada dalam anganmu,
Atau hanya aku yang mengharapkan itu.
Aku kehilangan dirimu,
Dengan segala macam cara yang kulakukan,
Nyatanya tetap tak menarik perhatianmu,
Memang kebodohanku,
Dan kelalaianku,
Kuakui itu,
Sekarang, kurasakan..
Merindukanmu hanya akan menuai rasa sakit,
Mengikhlaskanmu adalah pilihan terbaik,
Hanya saja kutak tahu,
Sampai kapan aku bisa?
Dibalik senyumnya hari ini,
Terdapat kisah sedih yang tak terlupakan,
Dia anggap sebagai kebodohan,
Dia berharap perlahan dapat melupakan,
Tapi tak semudahan yang dia harapan,
Dia masih bergantung akan lukanya sendiri,
Dan membiarkan darah keluar secara perlahan,
Membunuh setengah akan dirinya,
Membiarkan setengah lainnya hidup,
Disetiap ibadah nya,
Dia selalu selipkan doa,
Untuk sekarang,
Yang paling dia harapkan adalah tuhan membantunya untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Kubaca setiap tulisanmu,
Sebetulnya ku tak mau memahami lebih dalam,
Tapi aku merasa,
Yang kau keluhkan adalah aku.
Apakah kau masih mengharapkanku?
Apakah semuanya masih mungkin terjadi?
Dibalik semua jawaban yang ingin ku terima,
Aku sadar,
Bahwa yang nyata mungkin tak sesempurna yang kita harapkan,
Akan ada yang tersakiti,
Dan ku tak mau itu terjadi.
Ketahuilah,
Kalau kau bertanya,
"Apakah aku masih mengharapkan mu"?
Aku akan menjawab "Ya"
Itulah alasan dimana aku sering memimpikanmu
Dimana kau masih sering ada di angan imajiku
Dan kita berperan bak sepasang kekasih.
Namun untuk sekarang,
Sepertinya tidak mungkin,
Kebersamaan kita hanya untuk memenuhi ego kita sendiri,
Dan pada akhirnya,
Kita menuju ke tempat yang sama,
Hubungan yang sama,
Dan jalan yang sama.
Dari ketidakmungkinan,
Aku tak berani memberi kau harapan lagi.
Tapi percayalah,
Sesuai janji yang pernah kukatakan padamu,
Aku takkan pernah membiarkanmu sendiri,
Aku akan menjagamu,
Akan membuat dirimu nyaman,
Tak selalu dekat,
Namun aku selalu ada.
Aku, pengakuanku..
Lepas larut hidup dalam 23 tahun,
Ku akui satu hal,
Aku bukan orang baik,
Aku terlahir baik namun menjauh secara perlahan menuju keburukan,
Separuh dari hidupku memang penuh dengan perjudian,
Ku bertaruh seluruh harta yang kupunya,
Hanya demi satu hal,
Nafsuku sendiri.
Bak primadona,
Laksana permaisuri,
Semua kulakukan hanya demi dia,
Meski ketika darah menuju akhir,
Dia akan pergi entah kemana,
Tetap saja ku agungkan dia.
Kembali ke definisi orang baik
Karena terlalu lama menjauh,
Ku berharap dapat mendekat lagi,
Namun ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan,
Setan memang masih menggoda,
Dan aku masih tergoda,
Tapi, menariknya dalam hidup,
Kita bisa memainkan peran palsu untuk menutupinya,
Dan ku perankan itu dengan sempurna,
Dengan sedikit cacat yang kumainkan,
Tak mengapa,
Toh manusia tak ada yang sempurna.
Lalu apakah ku harus terus begitu?
Aku tak tau,
Aku butuh sesuatu untuk mengakhirnya,
Sebuah cambukan keras untuk menyadarkanku sendiri,
Siapapun mereka,
Aku menantinya,
Untuk mereka,
Aku rela melakukan apapun.
Secepat apa mereka datang?
Kuberharap tepat sebelum tanggal kematianku.
-MBS