INHAL BLOK REPRODUKSI
RESUME JURNAL KEHAMILAN KEMBAR/GEMELI
Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes
Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines
Nathan S. Fox, MD, Andrei Rebarber, MD, Ashley S. Roman, MD, MPH, Chad K. Klauser, MD,
Danielle Peress, MA, and Daniel H. Saltzman, MD
&
Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies
David Danon, MD, Nir Melamed, MD, Ron Bardin, MD, and Israel Meizner, MD
Meskipun angka kejadian kasus kehamilan kembar di Amerika Serikat mencapai 3% dari seluruh kelahiran hidup, proporsinya lebih besar dari morbiditas dan mortalitas neonatal. Hampir 60% bayi kembar lahir prematur, dan kurang lebih satu dari empat bayi kembar lahir dalam kondisi berat badan lahir (BBLR) yang rendah, yaitu kurang dari 1500 g, selain itu, satu dari enam bayi kembar yang lahir meninggal dalam waktu satu bulan setelah kelahiran.
Pada tahun 1990, Institute of Medicine (IOM) menetapkan berat badan ideal untuk kehamilan kembar berkisar dari 35 hingga 45 pon pada masa kehamilan kembar. Setelah munculnya rekomendasi tersebut, banyak penelitian yang membuktikan bahwa seperti kehamilan tunggal, berat badan gestasional dalam kehamilan kembar benar berhubungan dengan berat lahir. Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa seperti kehamilan tunggal, berat badan normal dalam kehamilan kembar dipengaruhi oleh berat badan maternal ibu atau Body Mass Index (BMI) ibu. Berat badan bayi kembar yang ideal dipengaruhi oleh Body Mass Index (BMI) ibu yang mengandungnya.
Berdasarkan bertambahnya pengetahuan tentang pengaruh Body Mass Index (BMI) ibu mengandung dengan berat badan lahir yang ideal pada kehamilan kembar, Institute of Medicine (IOM) merevisi rekomendasi mereka untuk berat badan opyimal pada kehamilan kembar. Pada tahun 2009, Institute of Medicine (IOM) mengeluarkan guidelines baru yang lebih spesifik untuk kehamilan kembar berdasarkan Body Mass Index (BMI), yaitu untuk wanita normal (BMI 18.5 – 24.9 kg/m2), 17–25 kg (37–54 lbs), wanita yang overweight (BMI 25–29.9) 14–23 kg (31–50 lbs), dan wanita yang mengalami obesitas (BMI 30 atau lebih besar) 11–19 kg (25–42 lbs). Meskipun rekomendasi dari Institute of Medicine (IOM) ini masih bersifat sementara, namun rekomendasi ini masih tetap digunakan sebagai bahan rujukan berbagai studi terkait nutrisi pada kehamilan kembar hingga saat ini.
Jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” memaparkan tentang studi yang bertujuan untuk menilai apakah rekomendasi berat badan berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines seperti yang sudah dijelaskan sebelumnyaberhubungan dengan peningkatan hasil perinatal.
Dalam jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” ini, penelitian dilakukan dengan metode penelitian kohort. Sebuah kohort dari 297 kehamilan kembar diidentifikasi dari praktik tunggal dengan pengukuran Body Mass Index (BMI) sebelum kehamilan dengan Body Mass Index (BMI) selama kehamilan. Rekomendasi berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines diaplikasikan pada studi kohort untuk kategori Body Mass Index (BMI) sebelum kehamilan, yaitu berat badan normal, overweight, dan obesitas. Hasil kehamilan dibandingkan antara pasien dengan berat badan normal atau berlebih sesuai rekomendasi pada Institute of Medicine (IOM) Guidelines dengan pasien yang berat badannya masih kurang dari batas sesuai rekomendasi Institute of Medicine (IOM) Guidelines.
Hasil yang didapatkan dari studi kohort yang dipaparkan dalam jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” yaitu pasien dengan Body Mass Index (BMI) sebelum kehamilan yang normal sesuai dengan rekomendasi berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines secara signifikan meningkatkan hasil perinatal dibandingkan dengan pasien dengan Body Mass Index (BMI) yang kurang dari batas seuai rekomendasi berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines. Sedikit dari mereka cenderung mendapati kelahiran premature sebelum minggku ke-32 (5,0% dibandingkan dengan 13,8%) dan kelahiran prematur spontan sebelum 32 minggu (3,4% dibandingkan dengan 11,5%). Mereka juga dilaporkan secara signifikan mendapati kelahiran dengan berat badan yang lebih besar (kelahiran kembar lebih besar ; berat 2,582.1 493,4 g dibandingkan dengan 2,370.3 586,0 g ; berat lahir kembar kecil 2,277.0? 512,1 g dibandingkan dengan 2,109.3 ; 560,9 g) dan secara signifikan lebih mungkin untuk memiliki keduanya neonatus berat lebih dari 2.500 g (38,8% dibandingkan dengan 22,5%) dan lebih dari 1.000 g (97,5% dibandingkan dengan 91,2%) dan kurang mungkin untuk memberikan setiap kembar dengan berat lahir rendah dari persentil kelima untuk usia kehamilan (21,5% dibandingkan dengan 35,0%).
Dari studi kohort yang dipaparkan dalam jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” , disimpulkan bahwa pada wanita dengan kehamilan kembar yang memiliki Body Mass Index (BMI) yang normal, berate badan selama kehamilan secara signifikan berhubungan dengan peningkatan hasil perinatal, yang termasuk penurunan resiko terjadinya prematuritas serta dapat mendapatkan bayi dengan berat badan lahir yang lebih besar.
Sementara itu, jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” membahas tentang keakuratan ultrasonografi dalam menilai berat badan janin. Tujuan dari studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” ini adalah untuk membandingkan kekauratan estimasi berat badan janin antara yang normal dengan pertumbuhan bayi yang terbatas akibat kehamilan kembar, serta kehamilan tunggal pada sebuah pusat tersier tunggal.
Metode yang digunakan dalam studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” yaitu menggunakan komputerisasi database ultrasonografi yang terpusat pada kebutuhan tersier untuk menentukan berat badan janin pada kehamilan kembar yang terjadi dari tahun 2001 hingga tahun 2006, dimana studi tersebut dilakukan hingga tiga hari sebelum pengiriman. Kekauratannya dibandingan dengan kelompok control yaitu kehamilan tunggal dalam rasio 3:1. Penilain berat badan janin dihitung dengan formula Hadlock. Analisis dilakukan pada seluruh kelompok dan untuk kehamilan yang berkaitan dengan keterbatasan pertumbuhan pada janin yang kembar serta kejanggalan lain.
Hasil yang didapatkan dari studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” yaitu studi dilakukan pada kelompok penelitian yang termasuk 278 kehamilan kembar dan 834 kehamilan tunggal. Kelompok kehamilan kembar ditandai oleh kesalahan rata-rata persentase absolute yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kehamilan tunggal, yaitu 8.9% berbanding 6.8%. Keakuratannya lebih rendah untuk kehamilan kembar yang kedua dibandingkan untuk kehamilan kembar yang pertama. Ketika dibandingkan dengan sub kelompok dari keterbatasan pertumbuhan pada janin, didapatkan perbedaan utuk sensifitas dan spesifitas yang kecil untuk kehamilan tunggal dibanding dengan kehamilan kembar secara keseluruhan, yaitu 47.5% dibanding dengan 48.9% dan 97.7% dibandingkan dengan 95.7%, secara respektif. Secara keseluruhan keakuratan lebih baik pada kelompok kehamilan tunggal yaitu sebesar 95% dibandingkan dengan 88%, hal ini terutama diakibatkan oleh keakuratan yang relative rendah pada kehamilan kembar yang kedua yaitu sebesar 86%. Untuk deteksi terhadap adanya kejanggalan, estimasi berat badan janin memiliki sensitifitas sebesar 52%, spesifitas sebesar 88%, serta didaptkan keakuratan secara keseluruhan yaitu sebesar 81%.
Kesimpulan yang dapat diambil dari studi yang telah dipaparkan dengan begitu jelas pada jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” yaitu keakuratan dari ultrasonografi dalam menilai berat badan janin terbukti lebih rendah pada kehamilan kembar dibandingkan untuk deteksi pada kehamilan tunggal, terutama untuk kehamilan kembar yang terjadi untuk kedua kalinya. Data yang didapatkan dari hasil studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” ini harus dipertimbangkan oleh klinisi dalam membuat suatu keputusan yang berdasarkan karakteristik dari ultasonografi.
Dari pemaparan tentang jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” oleh Nathan S. Fox, MD, Andrei Rebarber, MD, Ashley S. Roman, MD, MPH, Chad K. Klauser, MD,Danielle Peress, MA, and Daniel H. Saltzman, MD serta jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” oleh David Danon, MD, Nir Melamed, MD, Ron Bardin, MD, and Israel Meizner, MD, diketahui kedua jurnal tersebut memaparkan studi mengenai berat badan janin pada kehamilan kembar, namun dalam fokus yang berbeda. Dimana studi yang dipaparkan dalam jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” lebih fokus dalam menilai apakah rekomendasi berat badan berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines seperti yang sudah dijelaskan sebelumnyaberhubungan dengan peningkatan hasil perinatal. Dan hasil yang didapatkan dari studi tersebut yaitu disimpulkan bahwa pada wanita dengan kehamilan kembar yang memiliki Body Mass Index (BMI) yang normal, berate badan selama kehamilan secara signifikan berhubungan dengan peningkatan hasil perinatal, yang termasuk penurunan resiko terjadinya prematuritas serta dapat mendapatkan bayi dengan berat badan lahir yang lebih besar. Sedangkan studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” memberikan fokus pada perbandingan kekauratan estimasi berat badan janin antara yang normal dengan pertumbuhan bayi yang terbatas akibat kehamilan kembar, serta kehamilan tunggal pada sebuah pusat tersier tunggal. Serta kesimpualn yang didaptkan dari studi tersebut yaitu keakuratan dari ultrasonografi dalam menilai berat badan janin terbukti lebih rendah pada kehamilan kembar dibandingkan untuk deteksi pada kehamilan tunggal, terutama untuk kehamilan kembar yang terjadi untuk kedua kalinya. Hasil dari studi yang dipaparkan dalam kedua jurnal tersebut dapat menjadi bahan peryimbangan untuk para klinisi dalam memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan kembar terutama yang berhubungan dengan berat badan janin.













