seen from Sweden
seen from China
seen from United States
seen from Germany

seen from Austria
seen from United States
seen from Singapore
seen from China
seen from Germany
seen from China
seen from Macao SAR China
seen from Greece
seen from Germany

seen from Italy

seen from Austria

seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from China
What are people meaning when they say "b-side"? Sorry if this is a dumb question haha x
Look at here!
♥ Questions Tag ♥
10 QUESTIONS TAG
rule 1: always post the rules rule 2: answer the questions the person who tagged you asked and then write your own 10 questions rule 3: tag 6 people and link them to the post rule 4: actually tell the people you tagged that you tagged them
we were tagged by this fab girl: aungelic
our questions:
hows your day going? Char: okay i guess :))
Megan: okaay, i've done nothing haha
whats your favorite store? Char: uhmhmmh probably aa or zara
Megan: zara even though i can't afford it haha
do you want a tattoo? if so, what kind? Char: a meaningful quote or a trail or small birds//stars on the instep of my foot
Megan: yes, something small that would mean a lot to me
favorite fruit? Char: Raspberries yummmmm
Megan: either grapefruits or blueberries
do you have a favorite quote or lyric? Char: they're all here but lyricswise i'd say the smiths lyrics or matty's lyrics are really powerful to me
Megan: i really like "He liked her with long hair so she cut it short." idk why it's just makes me go "dayum" (I SOUND SO INCREDIBLY STUPID IK)
whats your middle name? Char: Lucy :)
Megan: Noël :))
favorite fashion trend atm? Char: I'm really liking the chunky shoes tbh :))
Megan: birks and fur
wheres your favorite place to go? Char: The river near where i live is pretty magic hahah or a little fishing village in portugal where we go in the summer
Megan: there's this church that overlooks the river and idk it's so calming
something you really like about yourself? Char: ummmmmmm i got my braces of a while ago so i'm going to say my teeth sorrrryry if thats boring haha
Megan: um i like my eye color??? does that count
where would you like to be in 5 years? Char: Somewhere happy
Megan: as long as i'm enjoying myself, i don't mind :))) (i sound cheesy lol)
We're tagging: heroine-not-heroin, fckurs, intriguery, inhal, 112yrs, unmeths
Questions:
Favourite band?
Favourite lyric?
Top 5 favourite songs?
Tag your 5 favourite blogs
Favourite flower/plant
Your Starbucks/coffee order
Do you have any pets?
What plans do you have for this summer?
Favorite book?
Favorite TV show?
have fun answering! ♥
~your fave babes megan & char
INHAL BLOK REPRODUKSI
RESUME JURNAL KEHAMILAN KEMBAR/GEMELI
Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes
Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines
Nathan S. Fox, MD, Andrei Rebarber, MD, Ashley S. Roman, MD, MPH, Chad K. Klauser, MD,
Danielle Peress, MA, and Daniel H. Saltzman, MD
&
Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies
David Danon, MD, Nir Melamed, MD, Ron Bardin, MD, and Israel Meizner, MD
Meskipun angka kejadian kasus kehamilan kembar di Amerika Serikat mencapai 3% dari seluruh kelahiran hidup, proporsinya lebih besar dari morbiditas dan mortalitas neonatal. Hampir 60% bayi kembar lahir prematur, dan kurang lebih satu dari empat bayi kembar lahir dalam kondisi berat badan lahir (BBLR) yang rendah, yaitu kurang dari 1500 g, selain itu, satu dari enam bayi kembar yang lahir meninggal dalam waktu satu bulan setelah kelahiran.
Pada tahun 1990, Institute of Medicine (IOM) menetapkan berat badan ideal untuk kehamilan kembar berkisar dari 35 hingga 45 pon pada masa kehamilan kembar. Setelah munculnya rekomendasi tersebut, banyak penelitian yang membuktikan bahwa seperti kehamilan tunggal, berat badan gestasional dalam kehamilan kembar benar berhubungan dengan berat lahir. Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa seperti kehamilan tunggal, berat badan normal dalam kehamilan kembar dipengaruhi oleh berat badan maternal ibu atau Body Mass Index (BMI) ibu. Berat badan bayi kembar yang ideal dipengaruhi oleh Body Mass Index (BMI) ibu yang mengandungnya.
Berdasarkan bertambahnya pengetahuan tentang pengaruh Body Mass Index (BMI) ibu mengandung dengan berat badan lahir yang ideal pada kehamilan kembar, Institute of Medicine (IOM) merevisi rekomendasi mereka untuk berat badan opyimal pada kehamilan kembar. Pada tahun 2009, Institute of Medicine (IOM) mengeluarkan guidelines baru yang lebih spesifik untuk kehamilan kembar berdasarkan Body Mass Index (BMI), yaitu untuk wanita normal (BMI 18.5 – 24.9 kg/m2), 17–25 kg (37–54 lbs), wanita yang overweight (BMI 25–29.9) 14–23 kg (31–50 lbs), dan wanita yang mengalami obesitas (BMI 30 atau lebih besar) 11–19 kg (25–42 lbs). Meskipun rekomendasi dari Institute of Medicine (IOM) ini masih bersifat sementara, namun rekomendasi ini masih tetap digunakan sebagai bahan rujukan berbagai studi terkait nutrisi pada kehamilan kembar hingga saat ini.
Jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” memaparkan tentang studi yang bertujuan untuk menilai apakah rekomendasi berat badan berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines seperti yang sudah dijelaskan sebelumnyaberhubungan dengan peningkatan hasil perinatal.
Dalam jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” ini, penelitian dilakukan dengan metode penelitian kohort. Sebuah kohort dari 297 kehamilan kembar diidentifikasi dari praktik tunggal dengan pengukuran Body Mass Index (BMI) sebelum kehamilan dengan Body Mass Index (BMI) selama kehamilan. Rekomendasi berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines diaplikasikan pada studi kohort untuk kategori Body Mass Index (BMI) sebelum kehamilan, yaitu berat badan normal, overweight, dan obesitas. Hasil kehamilan dibandingkan antara pasien dengan berat badan normal atau berlebih sesuai rekomendasi pada Institute of Medicine (IOM) Guidelines dengan pasien yang berat badannya masih kurang dari batas sesuai rekomendasi Institute of Medicine (IOM) Guidelines.
Hasil yang didapatkan dari studi kohort yang dipaparkan dalam jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” yaitu pasien dengan Body Mass Index (BMI) sebelum kehamilan yang normal sesuai dengan rekomendasi berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines secara signifikan meningkatkan hasil perinatal dibandingkan dengan pasien dengan Body Mass Index (BMI) yang kurang dari batas seuai rekomendasi berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines. Sedikit dari mereka cenderung mendapati kelahiran premature sebelum minggku ke-32 (5,0% dibandingkan dengan 13,8%) dan kelahiran prematur spontan sebelum 32 minggu (3,4% dibandingkan dengan 11,5%). Mereka juga dilaporkan secara signifikan mendapati kelahiran dengan berat badan yang lebih besar (kelahiran kembar lebih besar ; berat 2,582.1 493,4 g dibandingkan dengan 2,370.3 586,0 g ; berat lahir kembar kecil 2,277.0? 512,1 g dibandingkan dengan 2,109.3 ; 560,9 g) dan secara signifikan lebih mungkin untuk memiliki keduanya neonatus berat lebih dari 2.500 g (38,8% dibandingkan dengan 22,5%) dan lebih dari 1.000 g (97,5% dibandingkan dengan 91,2%) dan kurang mungkin untuk memberikan setiap kembar dengan berat lahir rendah dari persentil kelima untuk usia kehamilan (21,5% dibandingkan dengan 35,0%).
Dari studi kohort yang dipaparkan dalam jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” , disimpulkan bahwa pada wanita dengan kehamilan kembar yang memiliki Body Mass Index (BMI) yang normal, berate badan selama kehamilan secara signifikan berhubungan dengan peningkatan hasil perinatal, yang termasuk penurunan resiko terjadinya prematuritas serta dapat mendapatkan bayi dengan berat badan lahir yang lebih besar.
Sementara itu, jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” membahas tentang keakuratan ultrasonografi dalam menilai berat badan janin. Tujuan dari studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” ini adalah untuk membandingkan kekauratan estimasi berat badan janin antara yang normal dengan pertumbuhan bayi yang terbatas akibat kehamilan kembar, serta kehamilan tunggal pada sebuah pusat tersier tunggal.
Metode yang digunakan dalam studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” yaitu menggunakan komputerisasi database ultrasonografi yang terpusat pada kebutuhan tersier untuk menentukan berat badan janin pada kehamilan kembar yang terjadi dari tahun 2001 hingga tahun 2006, dimana studi tersebut dilakukan hingga tiga hari sebelum pengiriman. Kekauratannya dibandingan dengan kelompok control yaitu kehamilan tunggal dalam rasio 3:1. Penilain berat badan janin dihitung dengan formula Hadlock. Analisis dilakukan pada seluruh kelompok dan untuk kehamilan yang berkaitan dengan keterbatasan pertumbuhan pada janin yang kembar serta kejanggalan lain.
Hasil yang didapatkan dari studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” yaitu studi dilakukan pada kelompok penelitian yang termasuk 278 kehamilan kembar dan 834 kehamilan tunggal. Kelompok kehamilan kembar ditandai oleh kesalahan rata-rata persentase absolute yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kehamilan tunggal, yaitu 8.9% berbanding 6.8%. Keakuratannya lebih rendah untuk kehamilan kembar yang kedua dibandingkan untuk kehamilan kembar yang pertama. Ketika dibandingkan dengan sub kelompok dari keterbatasan pertumbuhan pada janin, didapatkan perbedaan utuk sensifitas dan spesifitas yang kecil untuk kehamilan tunggal dibanding dengan kehamilan kembar secara keseluruhan, yaitu 47.5% dibanding dengan 48.9% dan 97.7% dibandingkan dengan 95.7%, secara respektif. Secara keseluruhan keakuratan lebih baik pada kelompok kehamilan tunggal yaitu sebesar 95% dibandingkan dengan 88%, hal ini terutama diakibatkan oleh keakuratan yang relative rendah pada kehamilan kembar yang kedua yaitu sebesar 86%. Untuk deteksi terhadap adanya kejanggalan, estimasi berat badan janin memiliki sensitifitas sebesar 52%, spesifitas sebesar 88%, serta didaptkan keakuratan secara keseluruhan yaitu sebesar 81%.
Kesimpulan yang dapat diambil dari studi yang telah dipaparkan dengan begitu jelas pada jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” yaitu keakuratan dari ultrasonografi dalam menilai berat badan janin terbukti lebih rendah pada kehamilan kembar dibandingkan untuk deteksi pada kehamilan tunggal, terutama untuk kehamilan kembar yang terjadi untuk kedua kalinya. Data yang didapatkan dari hasil studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” ini harus dipertimbangkan oleh klinisi dalam membuat suatu keputusan yang berdasarkan karakteristik dari ultasonografi.
Dari pemaparan tentang jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” oleh Nathan S. Fox, MD, Andrei Rebarber, MD, Ashley S. Roman, MD, MPH, Chad K. Klauser, MD,Danielle Peress, MA, and Daniel H. Saltzman, MD serta jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” oleh David Danon, MD, Nir Melamed, MD, Ron Bardin, MD, and Israel Meizner, MD, diketahui kedua jurnal tersebut memaparkan studi mengenai berat badan janin pada kehamilan kembar, namun dalam fokus yang berbeda. Dimana studi yang dipaparkan dalam jurnal “Weight Gain in Twin Pregnancies and Adverse Outcomes Examining the 2009 Institute of Medicine Guidelines” lebih fokus dalam menilai apakah rekomendasi berat badan berdasarkan Institute of Medicine (IOM) Guidelines seperti yang sudah dijelaskan sebelumnyaberhubungan dengan peningkatan hasil perinatal. Dan hasil yang didapatkan dari studi tersebut yaitu disimpulkan bahwa pada wanita dengan kehamilan kembar yang memiliki Body Mass Index (BMI) yang normal, berate badan selama kehamilan secara signifikan berhubungan dengan peningkatan hasil perinatal, yang termasuk penurunan resiko terjadinya prematuritas serta dapat mendapatkan bayi dengan berat badan lahir yang lebih besar. Sedangkan studi yang dipaparkan dalam jurnal “Accuracy of Ultrasonographic Fetal Weight Estimation in Twin Pregnancies” memberikan fokus pada perbandingan kekauratan estimasi berat badan janin antara yang normal dengan pertumbuhan bayi yang terbatas akibat kehamilan kembar, serta kehamilan tunggal pada sebuah pusat tersier tunggal. Serta kesimpualn yang didaptkan dari studi tersebut yaitu keakuratan dari ultrasonografi dalam menilai berat badan janin terbukti lebih rendah pada kehamilan kembar dibandingkan untuk deteksi pada kehamilan tunggal, terutama untuk kehamilan kembar yang terjadi untuk kedua kalinya. Hasil dari studi yang dipaparkan dalam kedua jurnal tersebut dapat menjadi bahan peryimbangan untuk para klinisi dalam memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan kembar terutama yang berhubungan dengan berat badan janin.
Just share, resume jurnal muskuloskeletal
RESUME JURNAL RHEUMATOID ARTHRITIS
Adenosine and Adenosine Receptors in Rheumatoid Arthritis
Melissa Padovan, Fabrizio Vincenzi, Marcello Govoni, Alessandra Bortoluzzi, Pier Andrea Borea, Katia Varani
&
Tofacitinib or Adalimumab versus Placebo
in Rheumatoid Arthritis
Ronald F. van Vollenhoven, M.D., Roy Fleischmann, M.D.,
Stanley Cohen, M.D., Eun Bong Lee, M.D., Ph.D., Juan A. García Meijide, M.D.,
Sylke Wagner, M.D., Sarka Forejtova, M.D., Samuel H. Zwillich, M.D.,
David Gruben, Ph.D., Tamas Koncz, M.D., Gene V. Wallenstein, Ph.D.,
Sriram Krishnaswami, Ph.D., John D. Bradley, M.D.,
and Bethanie Wilkinson, Ph.D., for the ORAL Standard Investigators
Rheumatoid arthritis adalah salah satu penyakit kronis progresif yang terpenting, ditandai dengan proses kerusakan sendi yang berhubungan dengan proliferasi sinovial dan sekresi mediator proinflamasi yang berlebihan seperti sitokin, metalloprotease dan faktor pertumbuhan.
Rheumatoid arthritis biasanya ditandai polyarthritis dan mengenai kira-kira 0,5-1% populasi dunia. Seperti penyakit rheumatic lainnya, patofisiologi dari rheumatoid arthritis belum diketahui sepenuhnya. Salah satu hipotesis dari data yang tersedia mengenai patogenesis dari rheumatoid artritis menyatakan bahwa rheumatoid arthritis berhubungan dengan aktivasi dari imunitas bawaan dan penyimpangan genetik, hal ini merupakan awal dari fase induksi yang menyebabkan datangnya sel imun dan substansi inflamasi. Mediator proinflamasi menghasilkan aksi yang berbeda pada populasi sel seperti limfosit, neutrofil, sel endotel, sinoviosit, osteoclas, dan kondrosit yang menginduksi pengaturan inflamasi Th1 dengan angiogenesis dan kemotaksis. Banyaknya sel Th1 dan sitokin menyebabkan sinovium menyerupai Th1 seperti reaksi hipersensitifitas yang tertunda. Sitokin Th2 dan respon seluler yang normalnya menekan aktivasi Th1 hampir tidak ada, menyebabkan kemungkinan terjadinya kekurangan aktivasi sel T melalui jalur th2 pada rheumatoid arthritis sehingga menyebabkan penyakit bertahan lama. Beberapa studi menyatakan bahwa sirkulasi sel Th17 dan Th17/Th1 berbeda pada pasien rheumatoid arthritis, dan inilah yang berperan pada patogenesis rheumatoid arthritis.
Di antara mediator inflamasi, IL- 1β, TNF - α dan IL - 6 adalah sitokin yang penting dalam physiopathology dari inflamasi synovial yang mengaktifkan beberapa jenis sel termasuk limfosit, neutrofil, sel-sel endotel, osteoklas, kondrosit dan synoviocytes, dan berfungsi menaikkan regulasi sejumlah jalur terkait dengan peradangan. Erosi tulang selanjutnya disebabkan oleh osteoklas, sedangkan penghancuran tulang rawan disebabkan enzim proteolitik yang dihasilkan oleh synoviocytes dalam cairan sinovial atau pannus neutrofil.
Dari beberapa hal tersebut dilaporkan bahwa immunoreaktivitas dapat diidentifikasi sebelum penyakit klinis dan diwujudkan oleh produksi rheumatoid factor (RF) dan antibodi peptida anticitrullinated (ACPA) yang memberikan kontribusi untuk menentukan tingkat erosi tulang dan tingkat keparahan penyakit.
Selain itu, dapat pula dideteksi secara genetik karena gen memainkan peran kunci dalam kerentanan terhadap rheumatoid arthritis dan tingkat keparahan penyakit. Gen MHC kelas II, terutama gen yang mengandung urutan asam amino tertentu seperti HLA - DR4 memiliki hubungan genetik yang menonjol termasuk polimorfisme di PTPN22 dan PADI 4 gen, dan banyak sitokin promotor polimorfisme, gen populasi spesifik dan gen terdefinisi lainnya dilaporkan sebagai penanda genetik untuk diagnosis dan prognosis.
Oleh karena itu, intervensi terapi awal merupakan langkah efektif untuk meningkatkan hasil klinis dan mengurangi kerusakan sendi serta kecacatan. Penggunaan terapi lama dan obat baru yang dioptimalkan dapat secara dramatis meningkatkan kesuksesan manajemen rheumatoid arthritis. Baru-baru ini, kelompok dari ACR dan European League Against Rheumatism (EULAR) merevisi kriteria klasifikasi rheumatoid arthritis yang lama dan mengembangkannya. Kriteria baru ini lebih difokuskan untuk pencarian yang memfasilitasi pengenalan lebih awal terhadap rheumatoid arthritis dan prediksi keberadaannya.
Saat ini, manajemen rheumatoid arthritis yang optimal sangat dibutuhkan, dalam waktu 3-6 bulan setelah timbulnya penyakit, karena sempitnya “periode jendela” dari penyakit ini, maka waktu tersebut dianggap cocok untuk mencapai remisi. Penilaian prognostik awal untuk menetapkan risiko penyakit agresif sangat penting untuk memandu pendekatan terapi. Sebuah respon awal yang baik untuk pengobatan diprediksi memiliki respon lebih baik dan berjangka panjang selama kurang lebih 5 tahun berikutnya. Ada peningkatan penerimaan paradigma terapi disesuaikan untuk mencapai standar. Tujuan terapi tersebut seperti aktivitas remisi atau memperlakukan target penyakit dengan monitoring dan penyesuaian strategi, dan jika perlu mengontrol secara ketat sampai target tercapai.
Dalam jurnal Adenosine and Adenosine Receptors in Rheumatoid Arthritis, dipaparkan sebuah terapi rheumatoid arthritis yang berhubungan dengan adenosine adan adenosine reseptor. Adenosine adalah nukleosida purin yang diidentifikasi sebagai regulator molekul endogen dan jaringan yang berbeda serta fungsi sel. Adenosin dihasilkan di ruang ekstraselular oleh rusaknya ATP melalui serangkaian ectoenzymes, termasuk apyrase dan ecto-5'-nucleotidase. Adenosin difosforilasi untuk AMP kinase oleh adenosin untuk inosin atau terdegradasi oleh. deaminase adenosin. Adenosin diproduksi dari hidrolisis AMP yang dimediasi oleh sitosol 5'-nucleotidase atau oleh hidrolisis S-adenosylhomocysteine. Tingkat adenosin dalam cairan interstitial berada di kisaran 20-200 nM. Dalam kondisi berlebihan justru dapat meningkatkan metabolism. Sedangkan adenosine reseptor yang terdistribusi di berbagai sel dan jaringan dapat terlibat secara potensial dalam berbagai keadaan patologis dan dimungkinkan dapat digunakan untuk target farmakologik yang selektif. Disebutkan bahwa adenosine dan reseptor adenosine berperan dalam mengontrol inflamasi.
Peran adenosin dalam modulasi peradangan kronis telah dihargai dalam beberapa tahun terakhir. Menariknya, ekspresi berlebihan endogen anti-inflamasi dapat menjadi terapi target potensial di RA. Sehingga, agonis A2A dan A3ARs merupakan pengobatan farmakologis baru sendiri atau dalam kombinasi dengan terapi tradisional, seperti MTX. Untuk selanjutnya, lebih banyak studi praklinis dan klinis masa depan diperlukan untuk menyelidiki efek A2A selektif dan agonis A3Ars pada rheumatoid arthritis untuk menerjemahkan temuan penting tersebut agar bermanfaat bagi pasien rheumatoid arthritis. Modulasi jalur Adenosin mungkin suatu hari menemukan tempatnya dalam pengaturan terapeutik, terutama pada pasien yang tidak sepenuhnya responsif, pada awalnya sebagai terapi kombinasi untuk mendapatkan efek anti-inflamasi yang lebih lengkap, dan juga untuk mendapatkan efek atheroprotective.
Sedangkan dalam jurnal lain yaitu Tofacitinib or Adalimumab versus Placebo in Rheumatoid Arthritis, dilakukan penelitian lain yang berhubungan dengan terapi untuk rheumatoid arthritis. Dalam jurnal ini dipaparkan hasil dari pengamatan dan perbandingan antara pemberian tofacitinib atau adalimumab terhadap placebo sebagai terapi pada rheumatoid arthritis.
Tofacitinib (CP - 690, 550 ) adalah sebuah novel oral Janus kinase inhibitor yang sedang diselidiki untuk pengobatan rheumatoid arthritis. Tofacitinib (CP-690, 550) sedang diteliti sebagai sebuah imunomodulator targey dan untuk modifikasi penyakit pada derapi untuk rheumatoid arthritis. Tofacitinib adalah sebuah novel, molekul kecil, inhibitor selektif lisan Janus kinase (JAK) 1 dan JAK3 dan batas yang lebih rendah, JAK2. Jaks memediasi kegiatan sinyal transduksi dengan reseptor permukaan untuk beberapa sitokin, termasuk interleukin 2, 4, 6, 7, 9, 15, dan 21.8, 9 Sitokin ini merupakan bagian integral dari aktivasi limfosit, proliferasi, dan fungsinya; penghambatan dari sinyal mereka ini dapat menyebabkan modulasi beberapa aspek dari respon imun
Penelitian yang disebutkan dalam jurnal ini dilakukan dengan metode sebagai berikut. Dalam 12 bulan, dilakukan 3 fase percobaan. Sebanyak 717 pasien menerima dosis stabil metotreksat yang diberikan secara acak yaitu 5 mg tofacitinib dua kali sehari, 10mg tofacitinib dua kali sehari, 40 mg adalimumab setiap 2 minggu sekali, atau plasebo. Dalam 3 bulan, pasien pada kelompok plasebo yang tidak mengalami reduksi sebanyak 20% dari baseline mengalami bengkak dan sakit sendi, kemudian dialihkan dalam mode buta yaitu baik 5 mg atau 10 mg dua kali sehari tofacitinib. Hasilnya pada bulan ke-6, semua pasien yang masih menerima plasebo dialihkan ke tofacitinib secara buta. Hasil primer yang diukur didapatkan peningkatan 20 % pada bulan ke-6 di the American College of Rheumatology scale (ACR 20), perubahan dari awal sampai bulan 3 diskor pada Health Assessment Questionnaire–Disability Index ( HAQ - DI ) (yang berkisar 0-3, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan cacat yang lebih besar), dan persentase dari pasien pada 6 bulan yang memiliki Angka Aktivitas Penyakit untuk jumlah 28 – sendi berdasarkan tingkat sedimentasi eritrosit ( DAS28 - 4 [ ESR ] ) kurang dari 2,6 ( dengan skor berkisar dari 0 sampai 9.4 dan skor yang lebih tinggo menunjukkan aktivitas penyakit yang lebih besar).
Berdasarkan penelitian yang disebutkan dalam jurnal ini didapatklan hasil sebagai berikut. Pada bulan ke-6, pada ACR 20 didapatkan tingkat respons yang lebih tinggi di antara pasien yang menerima 5 mg atau 10 mg tofacitinib (51,5 % dan 52,6 % , masing-masing) dan di antara mereka yang menerima adalimumab (47,2 %) dibandingkan mereka yang menerima plasebo ( 28,3 % ) ( P <0.001 untuk semua perbandingan). Ada juga pengurangan yang lebih besar dalam skor HAQ - DI di bulan 3 dan persentase yang lebih tinggi dari pasien dengan DAS28 - 4 ( ESR ) di bawah 2,6 pada 6 bulan di kelompok - pengobatan aktif dibandingkan kelompok plasebo. Efek samping yang terjadi lebih sering mengenai kelompok dengan tofacitinib dibandingkan dengan kelompok dengan plasebo , dan TBC paru dikembangkan dalam dua pasien dalam kelompok 10 - mg tofacitinib. Tofacitinib dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol dengan densitas yang rendah dan high-density lipoprotein dan juga disertai dengan pengurangan jumlah neutrofil.
Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada pasien dengan rheumatoid arthritis yang menerima methotrexate dan tofacitinib, secara signifikan lebih unggul daripada plasebo dan secara numerik mirip dengan adalimumab dalam hal efikasi
Dua jurnal tersebut memaparkan berbagai penemuan baru yang dimaksudkan untuk kepentingan terapi pada rheumatoid arthritis, yaitu penelitian mengenai adenosine dan reseptor adenosine, serta penelitian tentang efek pemberian tofacitinib atau adalimumab dibandingkan dengan placebo sebagai terapi pada rheumatoid arthritis.
JURNAL NEUROLOGI
RESUME JURNAL EPIDURAL HEMATOMA
Postoperative spinal epidural hematoma resulting in cauda equina syndrome: a case report and review of the literature
Tuncay Kaner1*, Mehdi Sasani2, Tunç Oktenoglu2, Bayram Cirak3 and Ali Fahir Ozer2
Spinal epidural hematoma (SEH) adalah komplikasi operasi tulang belakang yang cukup terkenal. Secara klinis, sedikit epidural hematoma berkembang pada kebanyakan operasi tulang belakang secara tidak signifikan, termasuk pada pasca laminectomy. Akan tetapi, secara klinis kejadian spinal epidural hematoma pada pasca operasiyang secara signifikan menghasilkan defisit neurologi jarang terjadi. Dalam laporan kasus pada jurnal ”Postoperative spinal epidural hematoma resulting in cauda equina syndrome: a case report and review of the literature” ini, dipresentasikan pasien wanita berusia 33 tahun yang telah menjalani operasi tulang belakang yang kemudian diikuti terjadinya spinal epidural hematoma pasca operasi. Pasien ini didiagnosa menderita lumbar disc disease yang kemudian menjalani hemipartial lumbar laminectomy serta discectomy. Setelah 12 jam pasca operasi, status neurologi pasien tersebut memburuk dan diidentifikasi adanya cauda equine syndrome dengan spinal epidural hematoma akut pada pasien tersebut. Kemudian pasien tersebut segera diberikan terapi surgical decompression dan evakuasi hematoma. Kejadian epidural hematoma setelah operasi tulang belakang seperti pada kasus ini jarang terjadi, namun kejadian seperti ini merupakan komplikasi yang sangat serius. Spinal epidural hematoma dapat menyebabkan penekanan atau compression yang signifikan pada korda spinalis dan cauda equina, dan jika hal tersebut terjadi, perlu dilakukan intervensi berupa pembedahan. Evaluasi klinis merupakan cara yang paling efisien pada diagnosis spinal epidural hematoma yang pertama kali. Pemeriksaan pasca operasi yang mendetail harus segera dilakukan setelah pasien sadar pasca operasi dan cukup kooperatif. Diagnosis dan penangan yang cepat merupakan hal yang penting pada kasus spinal epidural hematoma. Prognosis dari spinal epidural hematoma pasca operasi tergantung pada perkembangan dari gejala, waktu pembedahan, tingkat keterlibatan spina, serta derajat deficit neurologi. Hasil terbaik didapatkan pada intervensi pembedahan yang dilaksanakan g jam setelah adanya onset gejala. Saat didiagnosis pertama kali, pasien harus segera diintervensi dengan terapi pembedahan serta harus segera dilakukan evakuasi hematoma.
I WAS TAGGED BY hardcore-kitty-princess
Rules:
✰ post the rules ✰ answer the questions the person who tagged you asked ✰ write 11 new ones ✰ tag 11 people and link them to the post ✰ actually tell them you tagged them
Asked Questions:
1. If you were an inanimate object, what would you be and why?
a microphone, so hot singer babes can hold me and sing their sweet lyrics into me
2. Favorite bands?
oh so many: phoenix, metric, the 1975, arctic monkeys, paramore, p!atd, yeah yeah yeahs, the velvet underground and i cant think of many at the moment sry
3. What is one song to describe your life right now?
mm, teenage icon by the vaccines
4. Were you born in the city you’re living in now?
yes ma'm
5. Spirit animal?
a fawn i think...
6. If you could be a part of any television series, what would it be and why?
ahs because i want to be one of those sassy, independent witch bitches
7. What is one food you could eat forever?
ahh, popcorn! does that count as food?
8. Favorite type of candy?
ferrero rocher chocolates for the win, ooh and orange tic tacs!!
9. What is your favorite article of clothing?
oversized sweaters all day er'day
10. If you could be a celebrity, who would you be and why?
Alexa Chung bc she's one positively cool chick
11. If The Purge were real, what crime would you commit?
kidnap members of my fav bands...
My Questions:
1. What does your dream apt/house look like?
2. What's your fav bath & body works scent?
3. Are you happy?
4. Any upcoming concerts you're looking forward to?
5. Most inspirational quote you've heard?
6. Fav type of shoes?
7. Dream birthday present?
8. What does your dream vacation consist of?
9. If you could live anywhere in the world, where would it be?
10. Do you prefer winter or summer?
11. What's the first song on your music playlist?
I tagged:
ivoryglare
cactusily
inhal
tobaqo
azuhre
flihrty
mysticual
nudelyps
fairhy
peahrly
auraling