Ya Allah,
"Jika aku pernah menjadi alasan sakit seseorang. Tolong sembuhkan dia dan ampuni diriku."
trying on a metaphor

❣ Chile in a Photography ❣
One Nice Bug Per Day

JBB: An Artblog!
Sweet Seals For You, Always

★
wallacepolsom

@theartofmadeline
🪼

Origami Around
Cosmic Funnies
styofa doing anything

No title available
No title available
TVSTRANGERTHINGS
AnasAbdin
todays bird

Kiana Khansmith

if i look back, i am lost

祝日 / Permanent Vacation

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Switzerland
seen from United Kingdom
seen from Romania

seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Lithuania
seen from Norway

seen from South Africa
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from United States
@om-staff
Ya Allah,
"Jika aku pernah menjadi alasan sakit seseorang. Tolong sembuhkan dia dan ampuni diriku."
Untukmu yang (benar-benar) tak sempat ku miliki, aku pernah menyiapkan banyak hal kecil dalam diam waktu yang ingin ku luangkan, ribuan kata ceritamu yang ingin ku dengarkan, dan perasaan yang seakan-akan tak pernah benar menemukan rumahnya.
"Kita hanya sebatas "hampir", namun rasanya mampu meninggalkan luka yang utuh, Lucu ya."
Ada yang datang hanya untuk mengajarkan bagaimana cara mencintai tanpa sempat dipeluk oleh takdir.
Mungkin itu sebabnya kisah-kisah klasik tak pernah benar-benar usang. Sebab di balik halaman tua dan tokoh-tokoh lampau, kita masih menemukan diri sendiri di sana.
Ada yang mencintai seperti Rahwana rela terluka meski tak memiliki. Ada yang bertahan seperti Zainuddin mencintai dengan sabar walau tak dipilih dunia. Dan ada pula yang diam-diam menjadi seperti Heathcliff membiarkan cinta berubah menjadi luka yang panjang.
"Kisah klasik hari ini bukan lagi tentang kerajaan atau peperangan. Melainkan tentang orang-orang yang berpura-pura kuat, namun diam-diam kalah oleh sepi ketika malam tiba."
Dan barangkali, kita semua hanyalah tokoh lama yang hidup kembali di zaman baru,
"Asem Tenan" kataku.
Dan waktu akhirnya mengerti, bahwa sebagian cinta memang diciptakan bukan untuk bersatu, melainkan untuk mengajarkan manusia betapa hati bisa tetap utuh meski berkali-kali patah karenanya.
"Katanya cinta akan menemukan jalannya sendiri, namun Layla & Majnun justru tersesat di jalan yang dibuat manusia bernama “restu” dan “status.”
Lucu ya, Sedang mereka yang pandai berpura-pura, justru dipanggil dewasa.
| Sporsi Nasi Kotak Sebelum Menuju Pelaminan
Bolehkah, aku menyebutnya "suka" ?
Kadang, perasaan paling jujur justru yang paling hati-hati untuk diucapkan. Aku ingin dekat, tapi juga takut melangkah terlalu jauh dari tempat kita berdiri saat ini.
"Ada yang berubah, sejak aku mengenalmu hal-hal kecil jadi terasa lebih berarti, bahkan tanpa alasan yang jelas".
Taman Kota, 03/05/2026
174
Subjektif; Pernikahan itu Berat
Beberapa waktu lalu, muncul di timeline sosial media, video kenyataan-kenyataan dari kehidupan pernikahan.
Gambaran kebebasan yang berkurang, banyaknya hal yang harus dikompromikan, masalah finansial hingga parenting.
Lalu orang-orang yang berkomentar merasa ketakutan sendiri. ‘Bagaimana kalau—’ mulai memenuhi isi kepala.
Dalam video tersebut, si istri menunjukkan betapa pontang-pantingnya dia mengurus rumah. Ditambah ‘beban’ mengurus anak.
Maksudnya, orang-orang berpikir pernikahan itu harusnya kerja sama. Ada yang melontarkan pendapat “istri tidak seharusnya keberatan sendirian mengurus rumah, mendidik anak, dan lain-lain. Istri seharusnya diratukan. Segala pekerjaan rumah adalah tugas suami.”
Sayangnya, tidak semua hal berjalan sesuai ekspektasi. Tidak semua finansial rumah tangga berlimpah.
Sayangnya tidak semua pernikahan itu berjalan dalam dan dengan kondisi ideal.
Tidak ada yang bilang menikah itu mudah. Menikah memang berat.
Tapi akan jadi berkali lipat berat, saat manusia-manusia diluar rumah mereka dengan nyalangnya menyalahkan keputusan atas pilihan-pilihan yang mereka saja tidak tahu.
Menjadi berat saat lelah dan bukannya beristirahat namun justru mendongakkan kepala dan mulai membandingkan dengan yang sedang longgar.
Menjadi berat saat kita berhenti mencari ilmu, berhenti belajar, berhenti bersandar pada Allah.
Menjadi berat saat terlena bahwa siklus hidup itu ya kalau tidak senang ya susah. Kalau jelas-jelas dalam Al-Quran menyatakan dunia hanya permainan, senda gurau, cobaan.
Menjadi berat kalau tidak bersiap dan dibarengi dengan ilmu. Ilmu kalau Allah itu Maha Kaya, Maha Pendengar, Maha Penyayang, Maha Mengetahui, Maha dari segala Maha dengan 99 nama-Nya.
Barangkali menjadi berat karena ya ibadahnya panjang, hadiahnya surga.
Maka, untuk kita-kita yang sedang berjalan menuju pernikahan, tentukan standar beratmu sendiri. Karena setiap kita, memiliki batasnya masing-masing.
Kira-kira di titik mana aku siap membuka diri, bekerja sama selamanya dalam ikatan pernikahan? Sebenarnya apa yang menjadi tujuan pernikahan? Sejauh mana aku mengartikan kata ‘berkorban’ dalam pernikahan?
Semoga ketakutanmu, ketakutanku menjadi pengingat bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong setelah segalanya direncanakan dan dipersiapkan.
Dan untuk aku di masa depan, kalau-kalau sudah menikah dan sedang berat menjalani pernikahan; tolong jangan berhenti meluruskan niat dan mengingat tujuan. Jangan berhenti bersandar pada Allah. Selamanya itu tidak lama, hanya sampai waktunya kita harus pulang.
Sekian.
@ffahraa
Semua hanya pelajaran. Cari buku baru, dan mulai membaca lembaran yang lebih baik.
"Sebab hidup tidak berhenti pada satu cerita, selalu ada halaman baru untuk dimengerti, dan selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya."
Buat tawa sebahagia mungkin, seperti tawa anak-anak yang sedang asik bermain namun lupa akan sesuatu hal lain, padahal iya telah melakukan apa yang ia inginkan.
Sederhana bukan?
Lampung, 8/3/2026
Momentum paling berat dalam mengikhlaskan adalah ketika kita memilih untuk tidak lagi mengungkit dosa-dosa masa lalu baik milik diri sendiri maupun orang lain.
"buatlah sesenang mungkin hidup ini, kemudian bersyukur masih berada di lingkungan bersama orang-orang baik."
Aku masih sama, seorang insan yang begitu mengagumi senja.
Yang selalu ingin bahagia saat langit mulai jingga, sebab di sanalah harapan belajar bernapas.
Yang selalu berusaha kuat ketika langit mulai gelap, karena aku tahu, malam pun tak pernah datang tanpa janji fajar.
Aku masih sama, belajar tersenyum di peralihan, belajar bertahan di keheningan, dan percaya setiap gelap hanyalah jeda menuju terang yang lebih jujur.
| Lampung, 22/02/2026
"Yaa Tuhan, jika dia bukan takdirku kenapa engkau hadikan ia dalam bait - bait do'aku"
Jika ini ujian, ajariku cara bertahan tanpa membenci takdir, ajariku cara melepaskan tanpa kehilangan iman.
Dan jika bukan untuk dimiliki, kuatkan aku untuk menerima bahwa tidak semua yang singgah ditakdirkan untuk tinggal.
| Lampung, 16/02/2026
Bukan enggan membaca,
aku hanya belum menemukan buku bacaan yang tepat.
Pernah kutemukan satu buku. Baru kubaca bagian depan dan beberapa halaman awal. Lalu di halaman setelahnya, ada hal-hal yang membuatku terpaksa berhenti.
"Bukan karena bukunya, mungkin saja karena Tuhan tahu aku belum siap menerima isi di tiap-tiap halamannya. Jadi aku memilih mencari buku lain sampai bertemu yang benar-benar berbicara," tapi ntah kapan.
Entah kapan aku mencari dan kembali membuka lembaran baru, karena ini bukan soal menamatkan sebuah buku, melainkan menemukan bacaan yang tepat, jauh lebih baik.
| Lampung, 15/02/2026
Apa yang telah berlalu baik suka maupun duka tak pernah benar-benar hilang. Semuanya meninggalkan jejak, memberi makna, dan menyimpan pelajaran. Ia akan tetap berguna bila kita menjadikannya cermin, bukan beban. Dari sana kita belajar mengenali diri, memahami batas, serta menata kembali arah langkah.
Sering kali manusia sibuk menimbang: siapa yang paling bahagia, siapa yang paling terluka. Padahal, tak semua rasa perlu diperdebatkan, dan tak semua cerita perlu dibandingkan. Sebab yang mampu menilai secara adil tentang kadar duka dan suka hanyalah Tuhan. Dia yang Maha Mengetahui isi hati, luka yang tersembunyi, dan syukur yang tak terucap.
Karena itu, tugas kita bukan menghakimi masa lalu, melainkan memaknainya. Muhasabah hari ini adalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri mengakui kekurangan, mensyukuri nikmat, dan memperbaiki niat. Dari muhasabah itulah lahir kebijaksanaan, ketenangan, dan tekad untuk melangkah lebih baik.
Hari esok tak dibangun dari penyesalan semata, tetapi dari kesadaran. Dan setiap kesadaran yang lahir hari ini adalah jalan menuju pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih dekat pada kebaikan.
| Lampung, 23/01/26
Tenang saja, tidak semua proses harus dimengerti hari ini. Cukup jalani dengan jujur, ikhlas, dan terus melangkah Allah tahu ke mana arah lelahmu akan bermuara.
| 21/01/26
Usia Dua Puluh Sembilan
Di usia dua puluh sembilan,
aku belajar bahwa tumbuh bukan soal cepat,
melainkan tentang menjadi utuh dalam setiap langkah yang sempat.
Aku tak lagi mengejar tepuk tangan,
cukup hati yang tenang sebagai kemenangan.
Tak semua rencana harus tiba tepat waktu,
yang penting aku terus maju, sekalipun pelan dan tak selalu mulus jalannya waktu.
Dua puluh sembilan mengajarkanku,
bahwa kehilangan bukan akhir,
melainkan ruang untuk menata diri dan memilih yang lebih hadir.
Bahwa luka tak selalu pahit,
kadang justru menjadi pintu menuju versi diri yang lebih baik.
Hari ini, aku berjanji pada diriku sendiri:
untuk memaafkan yang lalu,
menghargai yang kini,
dan menyambut yang akan datang dengan hati yang lebih berani.
Jika dunia bertanya apa pencapaianku tahun ini,
cukup kujawab:
“Aku tidak menyerah pada diriku sendiri.”
Selamat bertumbuh, wahai jiwa yang masih belajar namun tak lagi sama.
Semoga tahun ini membawa terang pada setiap doa yang diam-diam kusimpan dalam sukma.
Madrasah Ketabahan
Ada ruang² di dunia ini yang tidak kupilih untuk kudatangi, namun di sanalah Allah mengajarkanku arti tabah yang sebenarnya. Tempat di mana kebenaran diuji bukan dengan pujian, melainkan dengan tekanan.
Aku boleh dipaksa mengaku, tapi aku tak akan berbohong pada nurani. Martabatku berdiri pada kebenaran, bukan pada takut. Karena ketakutan bisa menundukkan kepala, tapi tidak akan pernah menenangkan hati.
Di balik itu, aku belajar melihat wajah² lelah,,, para manusia yang pernah dicap, dihakimi, dilupakan. Ketidakadilan bukan sekadar cerita; ia punya nama, lapar, dan keluarga yang menunggu. Empati mengajarkanku untuk melihat manusia, bukan label. Bahwa sebelum ia bersalah atau benar, ia adalah makhluk yang sama² ingin dipahami.
Sabar bukan pasrah yang putus asa; ia tali yang mengikatku pada Allah saat logika kehabisan pintu. Kadang, bukan jawaban yang kubutuhkan, tapi keheningan yang membuatku lebih dekat dengan-Nya.
Ketika dunia sibuk mencari kambing hitam, aku memilih mencari jalan pulang. Energi yang kuberi pada dendam takkan pernah mengantar pada keadilan. Karena balas dendam mungkin menenangkan sesaat, tapi hanya memindahkan luka dari satu hati ke hati lain.
Aku juga belajar bahwa kabar baik pun bisa celaka jika disebar tanpa hikmah. Satu kata yang tergesa bisa menjatuhkan nama, bisa mengubah kebenaran menjadi kebisingan. Maka aku menimbang kata sebelum melemparkannya ke dunia.
Dan harapan,,, aku tak lagi menganggapnya sekadar perasaan. Ia adalah keputusan untuk tetap menolong, hari ini juga. Meskipun kecil, meskipun tak dilihat siapa². Karena tabah bukan berarti diam, tapi tetap berbuat baik ketika dunia sedang tidak baik.
“Ketabahan adalah cara menjaga martabat,,, menolak dusta, merawat empati, dan memilih harapan yang bekerja.”
Madrasah ini tidak punya gedung, tidak pula ijazah. Tapi setiap luka yang kulewati, setiap sabar yang kupeluk, adalah pelajaran yang tak bisa dicetak di kertas. Inilah madrasah ketabahan,,, tempat di mana hati diuji, dan martabat diselamatkan.
Dalam setiap langkah, ada do'a yang tak pernah padam.
Dalam setiap tawa, terdapat sesuatu yang harus disyukuri. bukan hanya tentang berbagi…
tapi menanam harapan, menyiram keyakinan, dan menumbuhkan cita.
Karena
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” — (HR. Ahmad)
| Lampung, 19/10/2025
Sebab tugas kita bukan hanya memahami kebenaran,
tapi juga menyampaikannya dengan keikhlasan...
Dan setiap ucapan adalah Amanah
| Lampung, 18/10/25