Tips Belajar Indie dari Mawang (Buat Pak Jokowi)
Nuhinahinnuhinna hinnu iwyekh
Bagi saya, pekan ini tidak ada yang lebih menarik dari lagu Mawang berjudul Kasih Sayang Kepada Orang Tua. Pria Sunda berambut iklan ini berhasil mengupgrade sensitivitas kita sebagai insan yang dilahirkan dari hasil peraduan orang tua. Betapapun minor, dengan beragam kondisi, pengalaman empiris kita sebagai anak dapat diejawantahkan dengan sempurna melalui lagu nirlirik ini.
Sebagian orang mungkin tidak paham apa yang dikatakan Maw dan Wang yang solo tapi ngeband ini. Tapi, justru inilah estetikanya. Pendengar menjadi bebas dalam merekontruksi makna dari nuhinahinnuhinnahinnu itu. Sekali lagi, apapun kondisi dan hubungan kita dengan orang tua lirik ini menjadi ekspresi itu. Kadang bisa sedih, bisa sekaligus gembira pula. Tapi, inilah indie, kebebasan berekspresi dengan hati.
Untung saja ada Mawang, kalau tidak habislah kita ini. Plus, saran saya dengarkan lagu Mawang setidaknya sekali tiap pagi hari. Gunanya merangsang pikiran kita agar lebih sensi. Wabilkhusus Pak Jokowi. Supaya jadi presiden yang indie. Tidak asal jeblos sana sini.
Oh, gawat jika saya sempat lupa mendengar lagu Mawang pagi hari. Di telinga saya terjadi semacam empat gangguan pendengaran yang ditimbulkan dari lingkaran Pak Jokowi. Satu, kebakaran hutan dan ladang (Karhutla) yang semakin menegaskan bahwa negeri ini semakin terancam bencana ekologi. Kedua, revisi UU KPK yang kian hari makin tak masuk akal, apalagi hati. Ketiga, oh revitalisasi ekonomi yang kini tinggal janji. Keempat, penyelesaian konflik Papua yang kini telah berlalu sampai sekian hari.
Baik, berdasarkan tafsir bebas sebebas-bebasnya dari lagu Mawang, saya mencoba merangkum beberapa tips buat Pak Jokowi untuk mendinginkan hati atas semua kekacauan yang terjadi:
1. Seperti setiap musisi indie, tentukan prioritas!
Siapa yang kira Mawang yang berambut panjang dulunya itu cepak ABRI? Kita mesti belajar banyak darinya bagaimana menentukan prioritas melalui citra diri. Mulanya ia mengurus rambut, kemudian sedikit demi sedikit membeli gitar dari hasil membintangi iklan sampo mandi. Modal tersebut kemudian dipersembahkan untuk kedua orang tua dengan jalan membuat album sendiri.
Lihat Pak Jokowi, betapa kita harus belajar dari Mawang soal bagaimana menentukan prioritas. Dalam pepatah Sunda, ulah ngarawu ku siku, atau Bahasa Indonesianya jangan meraup dengan sikut. Semua persoalan bisa diselesaikan, dengan jalan menentukan yang mana yang mesti diselesaikan lebih dahulu. Sebaiknya Pak Jokowi mendaftar permasalahan urgent yang mesti diselesaikan duluan, ketimbang memutar solusi hingga masalah tak kunjung usai. Seperti apa yang dilakukan Pak Jokowi yang malah gerusah-gerusuh memberikan surpres terkait revisi UU KPK pada DPR.
Saya tidak jadi masalah ketika UU KPK memang akan direvisi. Toh, saya yang missqueen ini tidak bakal terpengaruh signifikan sama aktifitas korupsi. Tapi, alangkah baiknya jika Pak Jokowi menuntaskan masalah Karhutla lebih dulu. Sebab, permasalahan ini bukan hanya berdampak serius pada ekologi tapi juga kesehatan masyarakat di daerah yang terkena dampak asap.
Kemudian, konflik Papua yang sebenarnya mereka hanya minta satu hal: diundang ke istana, makan-makan, kemudian didengar aspirasinya. Tanpa intervensi praktis dan politis. Sudah tok itu saja.
Untuk masalah UU KPK serahkan saja di lain hari. Wong, tugas DPR yang lalu-lalu juga belum kelar. UU P-KS misalnya.
2. Berkarya dengan hati, bukan atas intervensi
Idealisme Mawang terbukti pada jawaban tempo hari yang menyatakan ia menolak segala jenis label rekaman. "Tapi nggak tau kalau besok". Lanjut Mawang. Jawaban itu membuktikan bahwa sebagai musisi, ia memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri bahwa berkarya itu harusnya dari hati, bukan campur tangan label rekaman dan intervensi pada karyanya sendiri.
Begitulah kiranya Pak Jokowi, lagi-lagi Bapak mesti berkaca pada diri Mawang yang baik hati. Bapak semestinya memiliki keteguhan hati. Sebagai pemimpin yang followernya tersebar di penjuru instagram, yutub dan Indonesia hari ini, Bapak mestinya berteguh, bahwa Bapak adalah content creator pada setiap kebijakan yang Bapak buat. Bapak itu master mind bagi arah pemikiran negeri, kenapa harus tunduk pada intervensi anggota DPR dari partai yang justru adalah anak buah Bapak sendiri?
KPK itu ibarat musisi indie Pak. Biarkan dia bebas dengan keindie-annya. Jangan coba-coba siapapun intervensi dia. Seperti Mawang, tidak tahu kalo besok.
Sekali lagi, Pak Jokowi yang jauh lebih viral dari Mawang itu sendiri. Coba sekali-kali saat malam hari di kamar istana berkatalah tegas "I'm your president!" depan cermin. Kalau tidak bisa juga, nyanyilah nuhinnahinnuhinnahinnu iyewkh pasti tingkat kepedean Pak Jokowi naik beberapa strip. Percaya deh!
3. Jauhi barisan pemuja bernama Fans
Atau kalau bagi Pak Jokowi mungkin istilahnya buzzer. Pak, di negara kita ini banyak kali orang berpendidikan atau intelektual berkualitas. Kenapa arah kebijakan negeri ini malah dihandle oleh in-telek-tua semacam Benny Siregar, Moeldoko, dan Budi Gunawan sih?
Buzzer-buzzer yang katanya intelektual itu malah membikin jadi ruwet Pak. Masa netizen yang maha bener ini diakal-akali sama 61 orang masyarakat Papua bentukan BIN? Niatnya apa ya? Semacam prank mungkin ya dari Kepala BIN ini. Pas lagi makan di istana, enggak lucu kan kalo tiba-tiba 61 orang keselek dan mengaku bukan bagian apa-apa dari masyarakat Papua?
Atau hashtag #sawitbaik dari salah satu kementerian yang dikeluarkan lucunya, pas terjadi Karhutla. Hmmm prank jilid dua kayaknya ya. Kita tahu, wong di tv menyiarkan ada setidaknya beberapa orang dan korporasi yang membakar hutan dan ladang gambut itu. Dan kita sama-sama tahu kemana ladang gambut itu akan berakhir, kebun sawit. Tadaaa, jadi Bapak bisa bilang sawit itu baik?
Seperti beberapa musisi indie yang saya kenal. Contohnya, Jason Ranti, Mawang, Ibeng. Mereka memanjangkan rambut dengan alasan idealisme dan biar panjang ajah. Selain itu rambut panjang juga secara semi otomatis akan memanjangkan akal kita juga. Tidak percaya? Faktanya jika Bapak pikir orang berambut panjang hanya perawatan dengan sampo dan tonik saja, itu salah besar. Sebab bagi orang dengan rambut panjang, saat stok sampo di rumah habis maka ia akan menghalalkan apa saja yang masih berbentuk cairan. Sabun cuci piring, sabun mandi cair, atau odol pun diberi air sedikit bila perlu.
Begitulah Pak Jokowi, ada baiknya Bapak mengikuti saran saya ini. Berkacalah pada Mawang yang selalu rendah ini. Kalaupun tidak, mari kita bernyanyi :
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa i love yu mamah i love yu papah