Penjelajah Waktu, Susur Djawa
Sebuah perjalanan dari realita wajah dan tanah baru akan mengahadirkan nostalgia yang akan mewarnai hari-hari di masa depan. Berpacu liar di atas kuda besi sejauh 660 km lebih kurang, mengarungi tanah pasundan hingga daerah istimewa Jogjakarta.
Kerinduan dengan suasana tenang di Batu Karas menjadikan tempat ini sebagai destinasi pertama yang dikunjungi. Perang psikologis selama 12 jam berada di jalanan mengendarai, mengamati, menerawangi hiruk pikuk jalanan dari terang menuju gelap hingga terang kembali muncul. Kemudian di pagi hari, aku berada di sebuah warung menikmati kopi hitam dan sebatang rokok dengan bias matahari yang terpantul di lautan luas memandikan kedua mata yang kusut. Di Batu Karas kutemukan kedamaian, keramahan dan kenyamanan. Situasi yang membuat sekujur tubuh orgasmik dengan keindahan alam sekitarnya. Sungguh bahagia itu sederhana, bertemu teman dan mendapatkan teman baru di sisi pantai ini. Berbagai cerita tentang ombak, buku dan kesadaran manusia. Bunyi deru ombak menemani malam sunyi ditinggali para penghuni yang terlelap karena aktifitasnya, dalam alam bawah sadar mereka sedang memimpikan kenyataan esok hari, menunggu mereka untuk kembali meluncur ke dalam ombak-ombak kebahagiaan.
Batu Karas menuju Cilacap menjadi jalur terberat, jalanan berlubang membuat perjalanan terasa lama dan membosankan. Lagi-lagi psikologis seseorang pasti akan terganggu untuk mengendarai rute ini, apalagi bila dihadapkan dengan sedikitnya uang yang ada di dompet. Untuk membeli secangkir kopi hitam pun terasa sesak, apalagi rokok sebungkus. Ketika gelap datang, aku baru saja berada diluar Pangandaran, berdasarkan estimasi yang diambil dari Google Maps masih ada 3 jam lagi menuju Cilacap, berarti sekitar 5-6 jam dalam kalkulasi seorang pengendara kuda besi, terutama di medan yang tidak dikenal sebelumnya. Melewati tepian perkebunan di malam hari adalah sungguh mencekam, khawatir dengan adanya kerusakan pada motor karena ratusan kilometer ditempuh melalui jalanan berlubang, khawatir pula dengan kondisi badan yang turun karena kurangnya suplemen dan vitamin yang masuk. Namun dibalik semua perasaan suram itu, aku mendapatkan perasaan tenang di bawah cahaya bulan purnama dan Rolling Stones, di daerah yang belum pernah kukunjungi sebelumnya dan bertemu dengan keramahan warga sekitar yang sudah berbahasa jawa membuatku cukup terhibur. Larut malam akhirnya aku sampai di Cilacap, kota industri di pesisir pantai yang sepintas terlihat seperti Cikarang dalam versi minimalis. Aku sempat berputar-putar di Cilacap karena sudah terlalu malam, kota ini menjadi sepi, tak satupun ada warung yang buka. Hingga kuputuskan untuk beristirahat di depan bengkel yang tutup, disisi jalan aku terbaring memandangi langit dan bintangnya, berpikir bahwa hidup ini sangat singkat sehingga sayang sekali bila tidak digunakan sebaik-baiknya seperti pergi melihat halaman kita sendiri, dalam sekejap aku sudah lelap tertidur ditemani suara truk-truk kontainer yang lalu lalang melewati jalanan Cilacap.
Esok harinya aku terbangun awal, menikmati embun dan udara dingin pagi hari, kumasuki sebuah mini market hanya untuk menumpang membersihkan badan. Kulihat muka-muka ceria di pagi hari, ada warga yang cukup baik menawarkanku rokok, kami berbincang-bincang mengenai jalur yang akan dilewati dan telah dilewati. Kupacu kuda besi kembali setelah perbincangan hangat kami, menuju Jogjakarta melalui jalur susur pantai di Cilacap Utara. Setelah 1 jam berkendara, sudah tercium wangi pantai nan alami tidak berpenghuni, suara knalpot motor dan ombak memberikan harmony ke dalam pikiranku, di pantai yang tidak berpenghuni ini aku bisu terdiam tenang tanpa memikirkan apa-apa. Sebuah moment tak terlupakan menjelajahi tempat ini, walaupun tidak memegang rupiah sama sekali aku masih bisa merasakan bahagia. Kombinasi yang telah lama kunantikan 150cc, pantai, ombak, dan asap ganja memasuki paru-paruku. Semakin dalam aku terbawa ke bumi dengan pola pikir absurd menyusuri pantai luas, terlalu liar terbebaskan dari segala tekanan sehingga aku hilang melihat panorama kemenangan dari atas puncak gunung.
Hantaran sawah yang luas, langit biru menari-nari di atas kepalaku mendengarkan Bob Dylan mengalun sendu di telinga kiri dan kananku. Di Kebumen aku temukan ketenangan luar biasa, secangkir kopi hitam hangat dari termos kutegak di pinggiran sawah, melihat senyum para petani dengan hasil panen yang mereka raih musim ini, sangatlah menyegarkan rohani. Suara serangga-serangga memadati cakrawala saat senja menuju waktunya, tak sadar bahwa petualangan ini membawaku ke tempat dimana ketenangan dan kedamaian bisa didapatkan dengan sangat mudah, semua ini akan kembali lagi pada tempatnya, kembali ke tanah, manusia hanya perlu menyesuaikan hidup sesuai dengan takdir yang dijalaninya lega dan bersahaja.
Jalan lurus yang tidak ada ujungnya, tiba-tiba aku berada di Jogjakarta, tanah tempatku berasal. Walaupun aku lahir dan dibesarkan di Bandung, Jogjakarta selalu memberikan kesan mendalam bagiku, mungkin karena keluargaku berasal dari tanah itu, tepatnya di Wijilan. Niat awal perjalanan ini adalah merayakan Waisak di candi 1001 malam, Borobudur, namun saat memasuki Jogjakarta aku sudah disambut dengan hujan lebat yang instan membuatku basah lengkap dengan perangkat-perangkatnya. Sehinga dengan berat hati aku tidak bisa datang ke perayaan Waisak yang konon katanya dimeriahkan oleh biksu-biksu berdoa dan lampion berterbangan di atas Borobudur malam itu. Jogjakarta ramai dan padat oleh turis, menjadi sulit sekali mendapatkan secangkir kopi jos hangat lengkap dengan pemandangan Jogjakarta. Tetapi hal tersebut tidak terjadi pada hari-hari selanjutnya di Jogjakarta, ketika para turis pulang membuat kota ini memperlihatkan daya tarik sesungguhnya di pandanganku. Keramahan warga disini dan kesadaran akan pola pikir sederhana itu membuat hati tersentuh, semakin waktu berlalu keakraban mulai memasuki obrolan-obrolan singkatku dengan warga lokal kota istemewa ini. Rasa kemenangan penjelajahan ini terasa di botol ciu yang berulang kali diteguk, panas membakar memasuki tenggorokan hingga perut lalu menendang ke otak membuatku tertawa bersama teman-teman. Moment indah hadir tak diduga, tetapi ada kekuatan di pola pikir setiap individu yang membuat moment indah itu hadir di setiap hari-harinya.