Di antara semua tujuan yang ingin kita capai, apakah semuanya akan bermuara pada kebahagiaan?
Nah, bagaimana caranya untuk memantapkan langkah yang kebingungan ini bahwa semua hal yang terjadi di depan mata adalah salah satu upaya untuk mencapai tujuan yang sudah kita bangun kemarin-kemarin itu? Aku pikir sulit untuk mengartikannya sebagai batu loncatan, halangan, ataukah sebuah tanda bahwa kita harus berhenti di titik itu juga? Seperti pertanda, seperti jawaban yang tersirat bagi orang-orang yang tersesat.
Aku hanya perlu kembali menarik napas dan menghela. Menangis tidak perlu alasan, kataku dulu. Jadi aku sudah terlalu sering menangis tanpa alasan.
Kemarin, aku menangis hanya karena terlalu banyak makan di saat aku merasa kesal. Hingga seluruh tubuhku terasa sakit. Kemarin, aku menangis terlalu kencang sampai rasanya aku hanya ingin menghilang saja dari bumi, atau aku ingin orang-orang yang menyakiti aku menghilang saja.
Jika ada satu alasan di dunia ini yang membuatku sangat bangga pada diri sendiri adalah aku berani meminta tolong salah satu temanku dan menangis padanya. Aku meminta tolong dan dia mendengarkan aku.
Rasanya mengharukan, dan aku merasa jahat jika harus meninggalkannya karena dia sudah begitu baik. Di lain sisi, aku merasa semuanya semakin abu-abu. Karena ternyata, pertemanan yang sudah aku akhiri kemarin adalah salah satu hal yang membuatku tidak merasa bahagia. Kenyataan bahwa aku merasa amat begitu bahagia dan lega ketika terlepas dari pertemanan semu itu membuat segala hal di depan mataku tidak sejernih yang aku pikir.
Dan aku mulai merasa khawatir. Aku mulai melihat segala sisi, dan berpikir apakah hal-hal di seklilingku kini juga akan menyakiti aku. Aku tidak suka abu-abu, hal-hal yang membingungkan, yang tidak bisa diartikan dengan jelas.
Maka, hal pertama yang aku lakukan adalah memutuskan semua kontak yang bagiku “abu-abu”. Aku memutus rantai itu di dalam kepalaku dan mulai menonaktifkan akun instagram, kemudian menikmati masa liburanku.
Aku melihat begitu banyak warna hijau, hijau dari daun-daun pohon yang tinggi dan lapangan sawah-sawah yang subur. Aku mendengar cuitan burung begitu sering, tiap pagi hingga menjelang tidur. Aku mendengar di dalam sunyi, sayup-sayup suara angin yang menabrak jendela rumah di saat hujan sambil berpikir bahwa aku sangat beruntung untuk bisa tidur nyenyak tanpa harus kedinginan dan khawatir karena hujan. Aku juga mengamati tiap bayangan yang jatuh di tanah, bagaimana mereka membentuk tiap gerakan ranting pohon yang bergerak tak berirama ketika aku mengunjungi makam nenek dan kakek. Aku membayangkan sekelibat masa depan yang damai dan tenang saat melihat ombak yang menyapu bersih bibir pantai di saat malam sebelumnya melihat lautan yang amat begitu berisik dan menyeramkan karena diserbu kilat petir yang nyaris tak berhenti semalaman penuh. Aku mengingat hal-hal baik, dan hal-hal luar biasa yang terjadi di dalam hidupku.
Hal-hal yang tidak aku dapatkan ketika hidup di tengah kota yang ramai, yang bergerak cepat. Saat itu, aku bisa melambatkan langkah ketika bibiku bilang “kamu mengejar apa? kamu melangkah terlalu cepat.”
Benar. Apa yang aku kejar, sebenarnya? Saat itu aku hanya melangkah seperti yang sudah sering aku lakukan sepanjang hidupku. Tapi akhirnya aku melangkah bersisian dengan bibiku dan kami mengobrol.
Ketika kembali ke kota, aku akhirnya mencoba bicara dengan beberapa temanku. Meminta saran mereka. Beberapa yang tidak aku anggap abu-abu. Aku pergi dengan temanku ke sebuah kafe di Gondangdia, Membicarakan “life-update” katanya, kemudian kami berjalan kaki menuju Sarinah, dan menyadari bahwa berjalan kaki seperti itu adalah hal yang menyenangkan dan dia setuju. Jadi kami hanya berjalan kaki sampai di tujuan. Aku sesekali melihat pohon-pohon besar di pinggir jalan mengingatkanku pada masa liburanku. Tuhan begitu baik untuk memberikan sekelebat kenangan itu ketika aku berjalan kaki di Kota.
“Kita harus sering-sering jalan kaki seperti ini,” kataku.
Dan kami mengobrol sebelum akhirnya sampai di Sarinah, kemudian melanjutkan perjalanan ke Senayan City. Aku melihat bangunan tinggi yang terlewat dengan perasaan senang, aku hanya merasa senang saat itu. Kemudian di Senayan City, ketika aku menceritakan hal-hal yang menggangguku kemarin, temanku hanya bilang.
“Aku seneng kamu kasih life updates kamu ke aku, karena aku seneng dengerinnya. Kamu jangan merasa sungkan hanya karena aku nggak ngasih kamu life updates, karena life updates aku tuh ya begini.” Katanya sebelum melanjutkan. “Sebelumnya, aku cuman mau bilang kalau kamu harus coba berhenti untuk menceritakan semuanya ke orang yang kamu anggap teman, karena kayak yang kamu bilang, kamu nggak tahu apakah mereka benaran teman atau bukan. Aku ngerasanya, itu cuman cara kamu melampiaskan kebingungan kamu, dan kamu udah tau kalau itu nggak baik untuk diri kamu sendiri. Kayak kamu makan saat ngerasa kesal. Mungkin kamu bisa cari cara lain untuk ngelampiasin itu, contohnya kamu udah tau teman-teman mana yang akan dengerin kamu, mungkin ke mereka aja kamu ceritanya.”
“Karena, aku rasa ada batasnya antara teman masa kecil dan teman kamu beneran. Menurutku, pertemanan masa kecil kamu udah sampai di situ aja, masanya udah abis.
Aku awalnya cukup kaget sampai mengulang-ngulang kalimat itu di dalam kepalaku, Dulu, aku pernah menulis itu berulang kali, bahwa sesuatu pasti ada jangka waktunya, dan ketika masanya sudah habis maka memang berhenti sampai di sana.
Aku bersyukur dia mengatakan itu dengan sangat tenang dan tidak tergesa-gesa. Bahkan dia meminta maaf terlebih dulu, itulah yang membuatku tersentuh. Karena tidak ada yang benar-benar meminta maaf padaku sebelum aku melakukannya duluan.
Hari berikutnya, aku pergi dengan teman yang berbeda. Kami berbelanja dan berkeliling mall, kemudian berakhir di cafe. Kami membicarakan banyak hal. Kemudian di satu titik dia menanyakan kenapa aku menghilang dari instagram.
Aku bilang saja punya beberapa masalah, dan kami punya kekhawatiran yang sama tentang masa depan sehingga sulit bagiku untuk menambah beban pikirannya. Sampai pada akhirnya, dia bilang bahwa tidak masalah jika menceritakan sesuatu padanya, dan berhenti beranggapan bahwa aku mengganggu.
“Mungkin kalau kamu merasa kamu mengganggu, kamu bisa bertanya dulu ke aku nanti sebelum bercerita. Tapi lebih baik untuk bercerita aja dibanding dipendam sendiri.” Dan dia bilang dia akan melakukan hal yang sama ke depannya.
Nah kemarin, aku menangis lagi. Di bangku pinggir jalan raya. Rasanya memalukan jika mengingatnya sekarang, tapi untungnya saat itu ada dua orang temanku. Mereka bilang jangan terlalu dipikirkan. Mereka juga bilang kalau aku bukan orang yang gagal. Mereka menyebutkan rentetan pencapaian yang telah aku gapai; lulus tepat waktu, berkerja di perusahaan baik, ikut pameran arsitektur, juara favorit sayembara arsitektur, dan lain sebagainya. Mereka juga bilang bahwa mereka juga sama tidak tahunya tentang masa depan, maka mereka juga ada di posisi yang sama denganku, melantur dan merancang bagaimana kehidupan di hari besok bisa baik-baik saja.
Entahlah, tapi aku hanya merasa senang bahwa hal-hal yang menakutkan ternyata hanya ada di dalam kepalaku. Bahwa sebenarnya, aku tidak sendirian. Bahwa ketika aku melepaskan sesuatu, maka sesuatu yang baik juga akan datang padaku.
Aku hanya merasa Tuhan lagi-lagi begitu baik padaku. Dan aku masih belum cukup mampu untuk berterima kasih dengan benar, maka aku hanya terus berdoa pada Tuhan untuk agar tidak pernah lelah padaku.
Aku kembali berhasil mencintai diriku sendiri lagi.