sudahlah, jangan kau coba mengambil rinduku yang tak pernah hilang ini
untuk kamu

ellievsbear
One Nice Bug Per Day

Origami Around
almost home

#extradirty

pixel skylines
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

gracie abrams
The Stonewall Inn
Interview Vampire Daily
Claire Keane
sheepfilms
Doug Jones
$LAYYYTER
KIROKAZE

Discoholic 🪩

No title available
cherry valley forever

Game Changer & Make Some Noise
No title available

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Maldives

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Ecuador
seen from United States

seen from T1

seen from Saudi Arabia

seen from South Africa

seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Japan
@panggilakunetnet
sudahlah, jangan kau coba mengambil rinduku yang tak pernah hilang ini
untuk kamu
Dear you again, Apakah mencintaimu dibutuhkan perpanjangan waktu? •
#dearyouagain • Backsound: Permisi by Emka, OST. Novel I DO #ido 📖☕️😘
dear you again (kamu yang kusebut n*****)
eh eh eh kok video 😂😂
ketika kau merasa ditinggalkan ada banyak rasa gundah yang kau simpan, rasa rindu yang tidak karuan rasa dari berbgai rasa yang mungkin baru kau rasakan, tak perlu kau mengelak dan merasa tidak apa-apa, karena aku tahu rasanya seperti kamu yang dulu kau tinggalkan
Kreatif dalam bersedekah.
#sebarkanmanfaat #Mphotosharing #imuslimshop #sedekah #kreatifbersedekah
If you were happy with the wrong person, imagine how happy you’ll be with the right one.
(via picsandquotes)
aku di balik layar tak banyak yang aku lakukan hanya membaca kata perkata yang kau tuliskan tak banyak yang aku lakukan hanya tersenyum memandang wajahmu tak banyak yang aku lakukan hanya tersedu ketika bukan kamu dilayar itu tak banyak yang aku lakukan hanya do'a kupanjatkan semoga Tuhan melindungimu Tuan ~salam dari negeri kupat tahu
Kisah Nyata : Telat Nikah
Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.
Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.
Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.
Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.
Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.
Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.
Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?
Aku menjawab: Benar.
Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?!
Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.
Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja. Usiamu sudah lewat 30 tahun. Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis. Sementara aku ingin sekali menimang cucu.
Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya.
Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.
Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka'bah. Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.
Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur'an dengan suara yang sangat merdu. Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:
“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar”.
(An Nisa’: 113)
Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu.
Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya. Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”.
(Adh Dhuha: 5)
Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.
Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo. Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.
Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun. Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.
Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara? Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.
Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi.
Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…..
Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelphonku. Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku. Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.
Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.
Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu. Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya. Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.
Akhirnya…..aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu.
Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi. Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri. Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.
Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan. Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku. Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.
Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.
Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.
Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman. Dia minta kepadaku untuk cek darah.
Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas. Langsung saja ia mengucapkan “Selamat, anda hamil!”
Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya. Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.
Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.
Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab: Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.
Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan.
Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar. Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan. Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah. Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.
Aku dikagetkan dengan pernyataannya:
“Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?
Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan. Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?
Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.
Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.
Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.
Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah:
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami…” (Ath Thur: 48)
Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.
#sampenangisbacaini😢 #betapaAllahsangatmenyayangihambanya🙈👼
Hey, birunii ada cerita buat kamu Ni… XD
makasih avhka semoga enteng jodoh ya aamiin… :’)
butuh tapi gengsi
terlalu nyaman di zona aman, hingga tak tahu kini berada di zona yang mana
kembali kemudian pergi, tinggalkan luka yang kupendam sendiri
oh mau pamer kalau udah punya gandengan baru ya, cukup tau deh
Sebanyak-banyaknya teman yang kalian miliki, hanya segelintir yang mampu bertahan dalam keadaan apapun
“The sun doesn’t lose it’s beauty when covered by the clouds. The same way your beauty doesn’t fade when being covered by a Hijab.” – Angelina Jolie
Dan mereka akhirnya berjilbab ☺️
Cantik ya cantik aja. :’))
11 stages of love in arabic.
1. الْهَوَى (hawa) = Attraction The beginning of love. This love can arise suddenly, but is transient, not yet firm in the heart. 2. الْعَلاقَةُ (‘alaqah) = Attachment Love that becomes attached to the heart, and loses the transitory property of hawa. 3. الْكَلَفُ (kalaf) = Infatuation Love that begins to intensify and have a physical affect on the lover. 4. الْعِشْقُ (‘ishq) = Desire Love that engulfs the heart of the lover entirely, and takes it as its residence, such that love and the heart in which it resides become intimately familiar with one-another. This love blinds the lover to any faults in the beloved. 5. الشّعَفُ / اللَّوْعَةُ / اللعَاج (sha’af, law’ah, li’aj) = Passion Love that starts to burn, but at this stage, the love is still pleasurable in the heart. 6. الشّغَفُ (shaghaf) = Affliction Destructive, all-consuming love. The heart begins to be devoured by the love. 7. اَلْجَوَى (jawaa)= Grief Love that started with the outer covering of the heart. It takes over the entire heart, and results in an inner grief and sorrow. 8. التّيْمُ (taym) = Enslavement Love to the point where the heart is enslaved to the beloved. 9. التَّبْل (tabl) = Malady Love, which was once living pleasurably in the heart, having made it its home, now turns against the heart, and so overwhelms, confounds and bewilders it, that it is as though it were its enemy. 10. التَّدْلِيْه (tadleeh) = Disorder Love when the heart is thus being destroyed from within, and begins to lose all sense of balance and reason, it goes into a state of chaos and disorder. 11. الْهُيُوْمُ (huyum) = Insanity Love that comes to its conclusion.
shiningneko