Cinta kepada Allah عزوجل (Dalil Pertama)
Kitab Al-Mulakhkhash Fii Syarhi Kitabit Tauhid, karya: Syaikh Al-'Allamah Prof. Dr. Shalih Al-Fauzan حفظه الله | oleh: Ustadz Sofyan Chalid حفظه الله
(Lanjutan)
Begitu pula mencintai perbuatan kekufuran dan kesyirikan mereka, seperti peribadahan mereka kepada selain Allah. Kalau ada seorang muslim yang menyukai perbuatan tersebut maka islamnya batal. Maka islamnya batal, dia bukan lagi seorang muslim, karena meridhoi kekufuran adalah kekufuran.
Dan Allah telah mengingatkan kita untuk berlepas diri dari orang-orang musyrik dan perbuatan dosa mereka.
Pertama, dalam surah Al-Maidah ayat 51, Allah سبحانه وتعالى berfirman:
۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai wali-wali kalian, sebagai orang yang kalian cintai atau kalian jadikan kawan dekat, atau kalian angkat mereka, tinggikan mereka menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali (yang dia cintai, yang dia jadikan teman dekan, yang dia muliakan, yang dia angkat derjatnya) maka dia bagian dari mereka.
Maka bagian dari mereka artinya kafir.
Hanya saja ada hadits, Hatib bin Abi Baltaah radhiyallahu 'anhu, kisah beliau. Ketika beliau menjadikan orang-orang musyrik Makkah sebagai wali yaitu dengan cara menolong mereka dalam memerangi kaum muslimin. Beliau membocorkan rahasia penyerangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada orang-orang kafir. Maka beliau dihadapkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyalahkannya tapi tidak mengkafirkannya. Kenapa? Karena alasan beliau, bersikap loyal kepada orang-orang musyrik untuk tujuan duniawi, yaitu urusan keluarga bukan karena mencintai/meridhai/menyetujui agama mereka bukan pula benci kepada Islam.
Mencintai orang kafir terbagi dalam dua tingkatan, inilah yang kita urutkan dalam tingkatan yang keempat dan kelima, tingkatan dosa besar dan kekkufuran.
Dosa besar, kalau seseorang mencintai mereka atau bersikap loyal kepada mereka, termasuk mengidolakan mereka karena dunia, dan
Kekufuran, apabila seorang muslim mencintai mereka karena ajaran kekufuran mereka
Kedua, begitu pula dalam surah An-Nisa ayat 140, tentang orang-orang yang meridhai perbuatan dosa kekufuran, maka Allah tegaskan:
.... إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ....
“…tentulah kamu serupa dengan mereka…”
Apa maknanya? Orang yang meridhai kekafiran sama dengan orang-orang kafir, tidak ada bedanya. Jadi ini bentuk-bentuk kecintaan yang syirik dan kufur.
Pelajaran yang ke dua
Bahwasanya diantara orang musyrik itu ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang besar. Namun, itu tidak memberi manfaat kepadanya, dia tidak mendapatkan pahala karena itu, dan Allah pun tidak mencintainya walaupun dia mencintai Allah dengan kecintaan yang besar. Kecuali dengan memurnikan cinta ibadahnya hanya untuk Allah semata-mata, barulah cinta itu bermanfaat.
Banyak orang-orang musyrik terutama orang musyirikin Arab itu masih cinta kepada Allah subhanahu wa ta'ala, tapi bersamaan dengan itu Allah pun murka kepada mereka, karena dosa syirik yang mereka lakukan. Jadi, nggak ada gunanya kita memiliki rasa cinta kepada Allah walaupun cinta itu sangat kuat tapi kita masih melakukan dosa syirik maka itu tidak ada gunanya, dan ini terjadi kepada orang-orang musyrik dahulu. Termasuk kesyirikan mereka adalah syirik dalam cinta itu sendiri. Ayat yang mulia ini menceritakan kepada kita salah satu bentuk kesyirikan mereka saja, apalagi faktanya kesyirikan mereka banyak.
Orang-orang musyrikin Arab itu juga memuliakan Allah. Makanya Allah berfirman dalam ayat yang lain:
“Mereka tidak memuliakan Allah dengan sebenar-benar pemuliaan.”
Kenapa? Karena mereka berbuat syirik. Padahal mereka mengira dan meniatkan perbuatan mereka itu untuk memuliakan Allah سبحانه وتعالى
Menjadi penjaga Ka'bah itu mereka anggap sebagai sebuah kemulia, kalau ada satu suku yang dipercaya memegang kunci Ka'bah maka suku itu akan dimuliakan. Itulah sebabnya suku Quraisy, begitu pula Bani Hasyim dimuliakan oleh orang arab, karena mereka yang mengurus Ka'bah, sebab Ka'bah mulia di mata mereka, Ka'bah adalah rumah Allah. Karena mereka tahu itu rumah Allah maka mereka muliakan, tapi mereka muliakan dengan cara mereka, yaitu Mereka menyembah kepada selain Allah di Ka'bah, bahkan mereka letakkan patung di situ sebanyak 360. Belum lagi di dalam Ka'bahnya, masuk ada gambar Nabi Ibrahim dan Ismail. Di hati mereka ada pemuliaan kepada Allah, tapi cara mereka memuliakan Allah dengan berbuat dosa syirik, maka Allah tidak menerima pemuliaan mereka, sama dengan cinta mereka kepada Allah maka Allah tidak menerima cinta mereka sebab mereka mempersekutukan Allah dalam cinta. Oleh karena itu, disini juga tercabang pelajar. Bahwa ibadah yang Allah inginkan adalah sesuai dengan syariat yang Allah tetapkan, tidak boleh kita buat-buat sendiri.
Kemudian, ayat ini (Q.S Al-Baqarah: 165) juga mengandung pelajaran penting, bahwa orang-orang yang beriman, mentauhidkan Allah dalam cinta dan cintanya orang beriman itu lebih kuat daripada orang musyrik. Sebagaimana dalam lanjutan ayat, Allah عزوجل menegaskan (Q.S Al-Baqarah 165)
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman lebih kuat cinta mereka kepada Allah yaitu lebih kuat dari pada orang musyrik tersebut.”
Kemudian Allah memberi peringatan keras (Q.S Al-Baqarah 165)
وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
"Andaikan orang-orang yang zhalim itu menyaksikan, tak kala mereka melihat azab kelak, mereka pun menyadari bahwasanya kekuatan seluruhnya milik Allah سبحانه وتعالى dan bahwasanya Allah sangat keras azabnya"
Ini juga isi pendalilan yang menunjukkan bahwa perbuatan mereka Allah syirik besar, karena Allah mengatakan mereka adalah orang yang zhalim yang pasti mendapatkan azab. Dan di surah Luqman ayat ke-13, Allah mengatakan,
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya syirik itu adalah kezhaliman yan besar.”
Oleh karena itu mereka disebut orang-orang yang zhalim.
(Bersambung)












