BELAJAR MENCINTAI
Jatuh cinta. Pada pandangan pertama atau pertemuan ke sekian kali, pembicaraan ke sekian kali, perdebatan ke sekian kali. Jatuh cinta bisa kapan saja. Tidak bisa diprediksi.
Tetapi mencintai, sebuah kata kerja. Ya, memang perlu dikerjakan.
Butuh keterampilan. Perlu dipelajari.
Dengan membangun kemampuan mencintai, siapa pun orangnya, bagaimana pun latar belakangnya, di mana pun dirinya sekarang, kita punya modal yang kuat dan mendasar untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia. - Azhar Nurun Ala
Kisah kakek nenek kita terdahulu. Coba kita tanya bagaimana mereka bisa menikah? Apakah perlu pacaran lama, apakah butuh surar-suratan? Mereka jawab dengan tersenyum atau tertawa "terjadi begitu saja" Tetapi mengapa cinta mereka bertahan lama? Apa rahasianya?
Mencintai. Akan membuat kita berusaha memberikan terbaik untuk orang-orang atau hal-hal yang kita cintai. Layaknya seseorang yang naksir kepada gebetannya. PeDeKaTe adalah masa-masa indahnya. Apapun dilakukan yang penting membuat si dia senang dan bersedia untuk berjumpa atau berkomunikasi.
Mencintai, bisa dipelajari, bisa diusahakan. Seperti kakek nenek kita terdahulu. Mereka tidak tahu kapan jatuh cinta. Mereka hanya berusaha memberikan yang terbaik dari diri mereka sendiri untuk seseorang. Terus menerus dilatih diusahakan tak disangka cinta itu tumbuh subur dan kekal. Meski tidak tau kapan jatuh cinta.
Detik terakhir lebih penting dibanding detik pertama.
Begitulah mencintai.
Kisah lain,
Saya banyak menyaksikan kisah-kisah proses belajar mencintai dari orang-orang di sekitar saya. Tidak ada yang tidak mungkin. Perlahan cinta mereka bersemi dan semakin merekah setiap harinya. Sampai hari ini saya menyaksikan mereka proses belajar saling mencintai masih berjalan.
Semisal, kakak saya yang ta'aruf. Niat mereka menikah untuk ibadah. Perkara cinta? Berjalan seiring. Lalu bagaimana proses mereka saling mencintai? Saya tidak tau detailnya bagaimana, yang saya tau mereka saling berusaha memberikan yang terbaik, melayani dengan sebaik-baiknya, berusaha sebaik-baiknya, saling ingin memberikan cinta yang besar.
Dicintai saja tidak cukup.
"Saya belum pernah jatuh cinta" Pasti akan.
"Saya sulit jatuh cinta" Pasti bisa
"Saya tidak layak dicintai" Siapa kamu? Memvonis dirimu sendiri
"Saat ini saya belum ingin" Berarti ada kemungkinan di lain hari
Pada ujungnya kita butuh persiapan. Kita tidak pernah tau kapan, dimana, kepada siapa cinta kita akan berlabuh. Maka sebelum waktunya tiba. Buatlah persiapan. Belajar lah. Agar ketika waktu dan takdir bertemu kita adalah orang-orang yang siap mencintai dengan sepenuh hati. Bukan cinta dicintai mencintai yang tiba-tiba tetapi sudah menjadi 'diri kita' sendiri.
Ada doa menarik yang saya temukan di sebuah majalah anak-anak. Doa itu menakjubkan.
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّكَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى وَأَهْلِى وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin.”
Jika cinta kepada Makhluk-Nya saja kita butuh persiapan apalagi dengan mencintai-Nya?
Sudah sejauh mana persiapan, pembelajaran kita untuk mencintai Allah Ta'ala? Sudah memberikan apa untuk membalas cinta-Nya. Ya, cinta kita kepada Allah tidak akan pernah tertolak dan tidak akan pernah sia-sia.
Semoga kita adalah diantara hamba-hamba-Nya yang sedang berproses untuk saling mencintai kepada Allah Ta'ala. Aamiin.
Tangerang 21 Mei 2019 - 16 Ramadhan 1440 H












