Entah sampai berapa Kamis ingatan ini mampu memutar ulang kejadian hari itu. Detik-detik rasanya sangat berharga. Membayangkan hembusan nafasnya yang terengah kala itu selalu menciptakan harapan meski akhirnya terhenti di perjalanan.
Di sebuah ruang dingin bernama IGD tak ada sorak-sorai, sesekali hanya terdengar teriakan tim medis mencoba menyusun strategi terbaik agar bisa menciptakan peluang hidup lebih lama. Sebuah upaya terakhir pertaruhan antara menang dalam perlawanan atau kalah karena kelelahan.
Tak ada epic comeback atau remontada berjilid-jilid sebab trofi kehidupan tak direngkuh dua kali. Ibu berpulang tanpa babak tambahan. Peluit akhir bernama sirine ambulan menjadi penanda permainan dunia telah selesai.














