Kau tau apa yang paling menyakitkan? Ketika kedua orang tuamu tak pernah membelamu, bahkan ketika kau dihancurkan secara terang-terangan di depan mereka pun, tetap bungkam seribu bahasa.
Yang mereka ingin dengar hanyalah permintaan maaf atas kesalahan-kesalahan yang mereka klaim sepihak. Lalu apa? Aku sudah memberi makan ego mereka dengan bersimpuh di bawah lantai saat itu, bersama anakku yang masih berumur tujuh bulan. Bahkan menyuruh kami naik ke atas sofa pun tidak ada. Anak lelaki kesayangannya dengan muka mencibir tampak puas, sepertinya. Tak ada sedikitpun rasa segan atau hormat kepada kakak tertua dan ipar tertuanya ini. Malah menghardik dan cibiran mengesalkan. Ya, ia berhasil merebut kedua orang tuaku. Satu-satunya yang ku punya di dunia ini telah tak menyayangiku lagi, termasuk cucu pertamanya ini.
Ku kira, malam itu adalah hari penghakiman kami yang terakhir, nyatanya tidak. Permohonan maaf dariku, meskipun tak satupun itu merupakan salahku, adalah sia-sia semuanya.
Ibu selalu mengajarkan pada kami ketika masih kecil, untuk saling meminta maaf ketika usai bertengkar. Dan itu harus saling meminta maaf, terutama ketika ada yang mengawali. Jika tidak, salah satu dari kami akan dimarahi. Namun ajaran itu tidak berlaku di usiaku yang ke 30 tahun ini. Aku telah meminta maaf atas kesalahan yang tidak ku perbuat, hanya demi kebaikan psikologis bapakku yang telah renta. Namun apa yang ku dapat? Jangankan membalas "iya kak, aku minta maaf juga", yang ada hanyalah lanjutan komplain-komplain mereka berikutnya. Tak ada satu pun yang membela. Bahkan ketika aku membalas cibiran anak lelaki kesayangannya pun, ibuku malah memarahiku. Aku seperti di bully di keluargaku sendiri saat itu, di depan suami dan anak lelakiku yang masih kecil. Satu-satunya yang membelaku saat itu hanyalah suamiku.
Terlalu banyak perkataan menyakitkan saat itu, namun yang paling membekas adalah dia mengatakan anakku "beban" bagi ibu bapak. Aku tidak terima, lalu ingin dengar jawaban dari ibuku sendiri.
"Ibu capek, ibu dan bapak ingin egois jadi orang tua"
Seperti petir yang menghentikan jantungku seketika. Apakah ini jawaban dari semua pengabaian dan kepergian mereka?
Di saat aku tak mampu memenuhi harapan mereka, lalu aku dilupakan dan tak pernah dianggap ada. Hanya aku yang selalu bertanya kabar tentang mereka. Satu persatu ku tanyakan dan doakan untuk mereka. Namun ketika aku diam, apa yang ku dapat? Pengabaian.
Ya, aku telah berdamai dengan hal itu. Meskipun sakit sekali, dan ada kalanya di malam tertentu aku menangis sesenggukan sendiri. Seperti tak menyangka akan jadi seperti ini menimpaku. Seperti aku anak pungut yang selalu dipilih kasih. Aku sangat membutuhkan kedua orang tuaku saat itu, sangat sangat butuh. Tetapi mereka dengan sadar meninggalkanku. Tak menanyakan sedikitpun kabarku. Hanya sesekali mereka tanya kabar anakku saja, ya hanya anakku saja. Bukan kabarku, bukan kabar suamiku. Itu pun hanya bertanya tanpa ingin mengunjungi. Sebegitunya kah kalian dilarang untuk menemuiku dan keluarga kecilku?
Apalagi yang ingin kau minta dariku? Semuanya telah kuberikan dari materi hingga egomu pun telah kupenuhi, harga diriku telah ku letakkan serendah-rendahnya yang kau ingin. Nyatanya hubungan kekeluargaan ini masih belum membaik. Hanya formalitas sepertinya. Lalu lanjut mengenyahkan ku dari kebahagiaan hidup mereka. Ya semoga bahagia kalian semua, sehat selalu dan saling bercanda hangat satu sama lain. Dan semoga pula suatu saat nanti Allah mampu menyadarkan hati kecil mereka bahwa ketidakadilan ini sangat menyakitiku dan keluargaku.