17 Purnama
Lembar kertas itu begitu cantik. Ia terlipat rapi. Terikat pita emas dengan bentuk asimetris yang membuatnya tampak artistik.
Undangan pernikahan. Adalah representasi sempurna untuk kertas itu. Sebuah pemberitahuan mengenai kabar bahagia dua insan yang akan terhimpun mulia di hadapan Allah lewat perjanjian agung yang setara dengan perjanjian para Nabi.
Ijab Qabul. Barangkali ia hanya sebuah kalimat yang dibaca di hadapan wali dan para saksi. Tetapi, ia memiliki makna maha dasyat yang membuat setiap orang yang memahaminya akan bergetar jiwanya.
Dengan kata, “Aku terima nikahnya” yang menyiratkan sebuah pernyataan bahwa akan ditanggung seluruh dosanya dari ibu dan ayahnya, dosa apapun yang telah ia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan shalat. Semua yang berhubungan dengannya, akan ditanggung dan bukan lagi tanggung jawab orang tuanya, hingga calon anak-anaknya.
Lantas, bagaimana jika gagal?
Maka ia yang mengucapkannya adalah seorang yang fasik, ingkar dan mau tidak mau rela masuk neraka hingga rela malaikat menyiksanya.
Tentu saja kita tidak bisa membantahnya. Hal itu telah termaktub dalam kumpulan kata-kata indah yang telah disampaikan oleh Muhammad, sang Nabi kita.
Begitulah ikrar di hadapan Allah. Begitulah perjanjian agung yang setara dengan perjanjian para nabi dan peristiwa besar. Maka begitu dalam makna ikrar itu. Begitu berat seorang suami harus berkorban untuk seorang istri setelah kalimat tersebut terucap secara nyata.
Maka, terberkatilah mereka yang mengetahui makna agung ini. Sehingga, akan tercapai segala tujuan dari pembersatuan mereka di hadapan Illahi.
Barakallahu laka wa baraka’alaika wa jama’a bainakuma fii khair.
***
Kepada kita yang telah melewati 17 purnama dalam ikatan suci pernikahan. Allah senantiasa mengasihi dan menyayangi kita dengan menjawab satu persatu bilangan asa yang kita peluk erat dalam doa. Dia terus mencintai kita dengan mencukupkan apa-apa yang terkadang tak logis dalam skenario hidup kita. Sekalipun iman kita terkadang hanya setebal kulit bawang, namun cintaNya tak pernah berkurang.
Pernah suatu ketika kita berada pada kondisi yang teramat fakir. Lalu Allah memeluk kita dengan menghadirkan orang-orang baik yang berbaik hati berbagi rejeki pada kita.
Ada masa di mana kita begitu pusing memikirkan ini itu demi masa depan keluarga. Kembali Allah menghibur kita dengan janin yang bertumbuh sehat di rahimku. Kamu bertambah sayang padaku dan semakin bersemangat menghimpun rupiah demi rupiah untuk menyambut kedatangan buah hati kita. Allah pun tak tinggal diam. Dia selalu membersamai setiap ikhtiar kita, hingga cinta mungil itu terlahir dengan rejekinya sendiri. Kenapa kubilang rejekinya sendiri? Karena semenjak ia hadir di rahimku hingga sekarang sudah bisa merangkak dan berdiri, kita tidak pernah kekurangan sesuatupun meski bertambah jumlah anggota keluarga.
Apa-apa yang sekarang dititipkan Allah pada kita, adalah bentuk cinta dan kasih sayangNya. Yang begitu tulus dan tak pernah terputus. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah juga setulus dan semenerus itu dalam mencintai, mengasihi, juga menyayangi Dia?
17 purnama ini, juga purnama-purnama berikutnya, akan menjadi saksi setia, betapa kita saling mencinta, juga kepada Dia Yang Maha.
Cikarang, 140218
#oneweekonepost
#week3 #kasihsayang
#wifiregionjakarta
#temanberkarya










