No title available
YOU ARE THE REASON
Stranger Things
Cosmic Funnies
official daine visual archive

tannertan36
ojovivo
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
🩵 avery cochrane 🩵

ellievsbear

pixel skylines

izzy's playlists!
Misplaced Lens Cap

Product Placement

JVL

shark vs the universe
occasionally subtle
Jules of Nature

bliss lane
todays bird
seen from Finland

seen from Greece
seen from United States

seen from South Africa

seen from Bangladesh
seen from United States

seen from United States

seen from Brazil
seen from Brazil

seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from China

seen from Israel
seen from United States

seen from Singapore
seen from Brazil

seen from Bangladesh

seen from Singapore

seen from Australia

seen from United Kingdom
@pemerhatihikmah
Setelah Sah
Mengingat sebuah nasihat bahwa pernikahan bukanlah solusi untuk keluar dari masalah, tapi pernikahan akan membuka ruang masalah baru diluar ekpektasi kita.
Dalam perjalanan, waktunya mungkin terhitung cukup lama , namun ternyata dalam pernikahan waktu bukanlah patokan utama untuk masuk dalam katagori pernikahan yang matang. Karna masih banyak sekali yang harus dibenahi di setiap bagian ceritanya.
Menikah mengajarkan tentang harapan dan kekecewaan. Dimana seringkali manusia itu reflek sekali dengan berharap pada manusia, terlebih setelah menikah dan memiliki pasangan. Berfikir bahwa sudah ada yang bisa diandalkan, dan kerap melupakan bahwa Allah yang sudah mulai ia duakan.
Menikah menuntut diri untuk memiliki sabar yang luas, dan hati yang mudah untuk ikhlas disetiap ketentuan. Karna yang terjadi nanti seringkali diluar nalar kita. Hati yang belum terbiasa untuk sabar dan ikhlas pasti akan merasa berat dan berakhir dengan menyalahkan sebuah keputusan.
Menikah itu melatih rasa syukur. Selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan. Adapun kita harus bisa faham bahwa tidak ada kehidupan yang sempurna dan selalu indah, tidak ada pula kehidupan yang selalu buruk, sial dan menyedihkan.
Semua tergantung bagaimana kita dalam mengambil sikap atas apa yang terjadi dan memandang setiap pencapaian dalam perjalanan. Menyempitkan hati sehingga sulit untuk besyukur atau mengusahakan hati yang luas dan lapang untuk lebih banyak menyadari segala kebaikan dan nikmat yang sudah Allah berikan, agar bisa lebih mudah untuk mencari celah syukur itu.
Menikah mengajarkan diri ini untuk mengatur ego, mengingat hidup bukan lagi tentang aku atau kamu. Ini tentang perjalanan panjang yang akan dilalui bersama, dengan segala tantangan yang ada.
Banyak sekali yang bisa dipetik dari beberapa tahun menjalani pernikahan ini, tapi pada akhirnya yang perlu disadari bahwa ketika kamu mengatakan “siap untuk menikah” , Tandanya kamu harus siap dengan apa yang terjadi setelahnya .
Siap menikah itu siap berkorban, karna setiap apa yang terjadi nantinya pasti menuntut sebuah pengorbanan.
Jangan pernah putuskan hubungan pada Allah, teruslah mendekat. Sebab air mata dan tawa itu sangat melekat sekali dalam setiap proses yang dilalui, butuh hati yang kuat dan kokoh dari yang Maha Kuat, dan sebaik baiknya pasangan , bukan karna kamu yang berhasil menakhlukkan hati dia , melainkan karna Allah yang menggerakkan hatinya untuk baik pada kita. Maknanya tetap Allah yang memegang kendali semuanya.
Karna sebaik baiknya kehidupan adalah yang menghantarkan kita bisa lebih dekat pada Rabb kita, dan sebaik baiknya pernikahan adalah yang menjadikan kita semakin dekat dengan Allah.
Nile dengan ceritanya
Sungai panjang ini bukan hanya tentang aliran , bukan hanya tentang sejarah. Lebih dari itu aliran ini adalah tempat cinta dijaga dan kepercayaan dibentuk, ada harapan yang mengalir sederas alirannya, dan ada kebahagiaan diakhirnya, tepat setelah melalui perjalanan panjang.
Tempat ini mengajarkan bahwa dalam rasa cinta ada harapan besar yang dititipkan lalu di serahkan, dan untuk akhir yang bahagia ada pengorbanan yang harus diterima.
Dalam hidup terkadang kita di ajarkan bersabar bukan dengan teori, melainkan dengan segala hal yang terjadi di luar bayangan dan harapan kita.
Itulah sebabnya ilmu kehidupan tidak akan didapatkan di bangku manapun , sebab ia lahir dari hikmah dan makna disetiap perjalanan.
Pada akhirnya langkah ini akan memaksakan diri untuk keluar dari zona nyaman.
Melihat kebelakang untuk menyelami makna, menghadapi kenyataan didepan untuk mencari hikmah.
Berproses kearah yang lebih tenang untuk ketahap yang lebih menantang
“Karna menjadi tua itu pasti , tapi menjadi dewasa adalah pilhan”
“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya …”
Itulah kesempurnaan islam dalam membagi tanggung jawab yang dibebankan di pundak seluruh manusia tapa terkecuali, terlepas dari peran apa yang sedang ia jalani.
Meskipun dengan takaran yang berbeda, tapi semua akan diminta pertanggung jawabannya di kemudian hari tapa pembeda.
Aku suka bgt sama suami klo lagi kerja. YaAllah beri lah pekerjaan yg tepat untuk nya. Agar kami bisa memberikan rezeki kami ke orang tua, orang sekitar dan orang yg membutuhkan.
Terjebak dalam perasangka
Ku kira aku sudah bersabar, ternyata aku hanya malas untuk mencari jalan keluar dan memilih tidak peduli dengan keadaan. Ku kira aku sudah berserah, rupanya aku masih terbelenggu dalam harapan yang melahirkan kekecewaan tak berujung. Ku kira aku sudah ikhlas, rupanya aku hanya berusaha untuk tidak terlihat lemah dalam keramaian, lalu kembali mengharapkan dalam kesepian. Ku kira aku sudah memaafkan, rupanya aku hanya mencoba untuk melupakan dan membiarkan setiap luka itu tersimpan rapih.
Ternyata selama ini kita sudah terlalu banyak memanipulasi kehidupan kita dengan banyak perasangka yang kita ciptakan sendiri.
Pantas saja, hal kecil seringkali memancing keadaan yang tak diinginkan. Fikiran yang sulit di arahkan mudah sekali memperkeruh keadaan. ternyata , perasangka kita selama ini tidak cukup membuat kita untuk berfikir lebih jernih, dan mengambil sikap lebih terarah, justrul sebaliknya, perasangka yang sudah mengobrak abrik kualitas diri kita sendiri.
Sepertinya saat ini kita berada didalam sistem kehidupan yang keliru, karna banyak kita jumpai seseorang yang merasa "menyalahkan keadaan" lebih baik dari pada "menyadari kesalahan".
Menjadi orang yang "sadar" itu tidak mudah, karna menggali luka itu menyakitkan. Tapi bagaimana kita bisa mengeluarkan diri kita dari berbagai macam sangkaan, kalau tidak kita paksakan diri kita untuk "jujur" menyadari kekeliruan kita selama ini.
Tidak ada yang salah dari sangkaan kita selama ini , hanya saja ada kekeliruan dalam menyimpulkan keadaan.
Bersabar, Berserah, Ikhlas, dan Memaafkan adalah rangkaian yang Allah ciptakan , agar kita bisa lebih lapang dalam menerima segala hal yang datang dalam kehidupan kita. Karna ujian tak kenal usia, tak melihat waktu dan tak menunggu kesiapan.
Jujur lah pada dirimu sendiri, akui bahwa kamu memang sedang menata diri dan rasa mu , tidak harus berjalan dengan sempurna, cukup kamu mengusahakan agar semua rilis di waktu dan tempat yang tepat. Agar sebelum sesuatu yang lebih besar itu datang, kamu sudah dalam keadaan hati dan fikiran yang lebih tenang dan matang.
"karna pada akhirnya yang menerima mu sepenuhnya adalah dirimu sendiri"
memeluk ketidak sempurnaan adalah bukti dari kesempurnaan cinta, menerima kekurangan adalah bukti dari kesempurnaan rasa syukur.
setiap dari kita tidak ada yang terlahir sempurna, karna sudah menjadi ketetapanNya manusia lahir dengan kekurangan dan kelebihan yang disandingkan.
meskipun pada kenyataannya, kehidupan seakan menuntut kita untuk menjadi manusia sempurna, hingga di akhirnya nanti banyak manusia yang mengutuk ketidak sempurnaan dirinya. Seharusnya setiap orang berhak untuk menikmati hidupnya dengan tenang tanpa tekanan.
kita hidup bukan untuk membandingkan ciptaan Tuhan, tapi kita hidup untuk menikmati apa yang sudah tuhan kasih ke kita.
tidak ada yang salah dari apa yang sudah Allah ciptakan, tapi sistem alam yang bekerja saat ini adalah hasil dari sempitnya cara pandang, terbatasnya cara berfikir , cacatnya dalam menilai, mudah dalam menyimpulkan, dan standar yang terlalu di tinggikan oleh manusia.
tidak sempurna bukan berarti tak berdaya, Allah menyandingkan keduanya bukan tanpa maksud dan tujuan. segala hal yang ada pada diri kita adalah bukti cintaNya.
mengharapkan seseorang untuk lapang menerima adalah hal yang melelahkan , waktu ini terlalu berharga untuk dibuang begitu saja. mengingat waktu tak akan pernah di putar kembali.
padahal simple saja inginnya
diri kita hanya butuh ruang untuk diterima dan dicintai , tanpa tapi dan tanpa sanksi.
di waktu yang tersisa, sudah semestinya kita menyadari bahwa cinta yang jujur hanya Allah dan diri kita yang memiliki. bahkan di saat dunia mu hancur karna banyak orang yang tak bisa berdamai dengan kekuranganmu, tempat kembali itu sudah jelas arahnya.
peluk selalu dirimu dengan kehangatan , terima dengan ketulusan, obati dengan penerimaan, hargai dengan rasa empati dan cinta. kamu layak untuk berdamai, kamu layak untuk di terima, dan kamu layak untuk tetap menjadi dirimu sendiri.
tidak ada ciptaan Allah yang cacat, karna cacat hanya ada di pandangan manusia yang selalu merasa dirinya sempurna. Dan merasa sempurna adalah kecacatan yang sebenarnya.
“Di tangan lelaki yang tepat, solatmu akan diingatkan, auratmu akan dijaga, adabmu akan ditegur dan agamamu akan dibimbing.”
Seolah-olah kebaikan seorang wanita hanya sah bila ada lelaki yang “menjaganya”.
Seolah-olah iman kita hanya hidup bila ada tangan lain yang memimpin. Sedangkan hakikatnya, di zaman wanita berdikari dan bekerjaya ini, yang lebih mendesak bukan mencari lelaki untuk mengingatkan, tetapi yang selalu ingin upgrade diri sendiri menjadi wanita yang qanaah, yang sedar dan beragama walaupun tiada siapa memerhati.
Kalau seumur hidup kita menunggu satu susuk untuk mengingatkan tentang solat, menjaga aurat, menegur adab dan tanggungjawab, maka apa sebenarnya yang kita sediakan untuk anak-anak yang akan kita didik nanti?
Adakah iman itu pinjaman? yang hanya hidup bila ada pasangan, dan mati bila perkahwinan berakhir?
Itulah yang paling menyedihkan. Bila seorang wanita berubah selepas berkahwin, namun apabila diuji atau diceraikan, dia kembali kepada diri yang lama…lalu dikatakan, “itu bukan diri dia yang sebenar.”
Hakikatnya, itulah diri yang tidak pernah dibina dari dalam. Ia cuma bergantung. Dan jujur, ayat itu sangat mengecewakan.. kerana ia merendahkan keupayaan wanita untuk beriman dengan kesedaran sendiri.
Lelaki yang baik itu peneman, bukan asas. Pembimbing itu pelengkap, bukan sumber iman. Wanita yang benar-benar kuat akan tetap menjaga solatnya walau siapa pun di sisinya.
Akan tetap menjaga auratnya walau tiada yang menegur. Dan akan tetap beradab kerana dia tahu Tuhannya melihat…bukan kerana suaminya ada.
Dan itulah wanita yang bila diuji, tidak runtuh bersama runtuhnya rumah tangga. Kerana dia berdiri di atas iman yang dibina sendiri.
Fenomena Kehidupan
Setiap orang sedang menghadapi kerasnya kehidupan, setiap hari bertempur dengan keadaan. Keadaan yang seringkali tidak sesuai dengan pengharapan .
Tapi keadaan seringkali memaksa setiap orang untuk tetap bertahan, memang tidak mudah , karna sesekali langkah terhenti hanya untuk sekedar menyeka air mata , sesekali terdiam untuk merenung, sesekali juga terdiam untuk kembali meyakinkan bahwa semua akan tetap baik baik saja.
Tidak ada seorang pun yang bisa memilih kehidupan seperti apa yang mereka inginkan , tapi setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk meminta yang terbaik untuk kehidupan yang akan mereka jalani.
Hidup ini tidak mudah , semua orang memiliki lika liku kehidupan yang berbeda, dan semua dalam takaran yang sudah di tentukan.
Menerimanya mungkin sulit , tapi menolak bukan lah jalan keluar yang pasti. Berjuang mungkin berat , tapi menyerah akan lebih menyakitkan.
Yaa hidup memang pilihan , mau bertahan dalam garis perjuangan demi akhir yang di harapkan , atau menyerah dalam ketidak pastian.
Ikhtiar adalah kesempatan yang Allah kasih untuk kita , meskipun soal hasil bukan lagi urusan kita. Tapi, selama ada kesempatan untuk berikhtiar, seharusnya selalu ada kesempatan untuk seseorang itu berjuang dengan mencari berbagai cara untuk sampai ke titik yang diinginkan.
Memang tidak semua yang menjadi keinginan kita sejalan dengan apa yang menjadi keinginan Tuhan. Tapi bukan kah yang menciptakan kita lebih tau mana yang terbaik buat kita ?
Tandanya , percayalah bahwa bagaimana pun kehidupan yang kita sedang perjuangkan ini semua akan sampai pada titik terbaik dalam hidup kita, bukan versi kita ,tapi versi terbaik dari yang menciptakan kita .
Allah ga pernah salah dalam menetapkan sebuah ketetapan, selalu ada hikmah yang terselip dalam cerita kehidupan, Allah mungkin ga pernah memaksa kita secara langsung untuk berubah ke arah lebih baik ,tapi seringkali peristiwa lah yang akhirnya akan melahirkan diri kita dengan versi terbaiknya.
Semakin dewasa, semua hal yang dahulu begitu mewah kita inginkan harus ada dalam kehidupan kita, perlahan akan memudar menjadi lebih sederhana. Kita tidak lagi ingin lagi menuntut banyak akan suatu keadaan, melainkan satu kalimat do’a "Ya Allah asal Engkau ridho." —brangkali akibat tempaan realita yang sering kali berkata lain yang menjadi asbab kehadirannya.
Apakah ini pertanda buruk? Tentu saja tidak. Ini bukanlah sebuah kepasrahan, maupun bentuk keputusasaan. Melainkan adalah sebuah penerimaan dan kepahaman dari bagaimana pelajaran hidup yang Allah berikan dalam mendidik kita.
Terkadang memang dengan rasa kecewalah manusia dapat terus tumbuh dan melanjutkan hidup. Sebab dari rasa kecewa itu manusia akan mengerti bahwa tidak semua yang dianggapnya baik adalah yang terbaik, lagi sebaliknya yang dianggap buruk adalah terburuk.
Semoga kita senantiasa diberikan kelapangan dada dan kejernihan akal dalam memahami setiap skema terbaik dari-Nya.
Ibadah
berwudhu , sholat , berdzikir lalu berdoa adalah rangkaian rileksasi yang Allah kasih gratis sekaligus Allah berikan waktunya. bangun tidur sebelum kamu memulai aktifitas berat di hari itu Allah mau kamu berangkat dengan keadaan tubuh yang rilex ,otak yang sudah refresh, dan hati yang lebih tenang. dan biasanya keadaan yang seperti ini akan membuat diri kita lebih siap untuk menerima tantangan apapun dari luar.
tengah hari Allah panggil lagi, seolah Allah tau setelah melewati setengah dari hari itu , biasa otak kita udah mulai panas, tubuh kita udah mulai capek, hati juga udah mulai sedikit - sedikit mah ada lah yaa rasa keselnya. tapi Allah panggil kita , seolah olah kayak "yuk istirahat dulu yuk , basuh dulu pakai air wudhu biar lebih seger, sholat dulu sekalian biar lebih rilex, dzikir biar hatinya lebih tenang , terakhir cerita dan minta deh solusinya " setelah semua sudah lebih baik , yuk lanjut lagii ke setengah hari selanjutnya.
tapi sadar ga ? belum sampe setengah hari , Allah panggil lagi kita. dengan pola yang sama , sampai akhirnya setelah setengah hari sisanya lagi berlalu Allah panggil kita.
tentunya kita saat itu udah pasti dalam keadaan otak yang bener - bener panas , kepala yang penuh dengan banyak persoalan, hati yang ah sudahlah susah di jelaskan, di tambah badan yang lelah nya bukan main.
ketika itu Allah panggil kita untuk kesekian kalinya, Allah mau kita bisa kembali untuk cooling down, rilis dengan menceritakan , menuangkan semua dalam doa, untuk hasil yang menenangkan setelahnya. setelah semua di rasa membaik, Allah tutup hari itu dengan panggilan terakhirnya, untuk memastikan HambaNya bisa istirahat dengan lebih tenang dan dengan hati yang lebih ikhlas. sehingga istirahat kita bisa lebih berkualitas untuk menghadapi hari hari setelahnya.
dari semua rangkaian ini , kita harusnya sadar kalau jangan terlalu keras terhadap diri sendiri, Allah kasih ruang ini karna Allah tau kita itu terbatas, dan lemah. hanya saja pola hidup sombong kita yang memaksa kita untuk jadi kuat.
mulai lah menyadari , kekuatan dan kemampuan kita itu ada karna Allah yang langsung menjadi support system utama kita.
Berusaha untuk memberikan waktu untuk Allah, bukankah aktifitas kita sesungguhnya hanya untuk menunggu waktu sholat ? dan bukankah kita hidup untuk menunggu giliran untuk di panggil kembali ?
jadi tidak sepantasnya kita malah abai dengan panggilan utama itu. tidak ada yang lebih tau diri kita beserta dengan kelemahannya , selain yang menciptakan kita. sama saja hal nya seperti , ketika kita membuat sesuatu pasti kita lebih tau secara spesifik apa yang kurang dari yang kita buat itu, dan bagaimana untuk mengatasinya kekurangannya .
Hamba
Seringkali kita di beri ujian yang seakan tidak berujung dan tidak ada jalan keluarnya. Bukan karna Allah membiarkan kita dalam kesulitan, tapi Allah mau ngasih tau ke kita bahwa "tidak semua persoalan , harus kamu yang menuntaskannya , dan tidak semua solusi harus kamu yang memikirkannya"
Allah memberi kita ruang untuk kembali menyadari bahwa kita adalah seorang "Hamba". Allah tau kita pasti akan menemukan titik lemah dan kurang, karna itu Allah tidak pernah menuntut HambaNya untuk sempurna. dan sengaja Allah berikan sebuah persoalan yang terkadang tidak akan kamu temukan solusinya sendiri, meskipun sudah sekuat tenaga untuk mencari.
Dari hal ini , aku jadi menyadari bahwa ada makna lain di balik panggilan Allah 5 kali dalam sehari itu. ada yang lebih dari sebuah kewajiban , ini tentang bukti bahwa Allah tau bahwa kerja otak dan tubuh kita itu terbatas. butuh waktu sejenak untuk cooling down.
dan itulah hakikatnya seorang Hamba. tidak akan ia bisa benar - benar berjalan sendiri , tanpa sebuah bimbingan yang pasti. ia membutuhkan tempat dan ruang untuk sekedar bisa menuangkan cerita. kita mungkin sangat bisa berjalan sendiri tanpa seseorang di samping kita, tapi apakah kita bisa yakin untuk bisa berjalan tanpa sebuah arah dari Allah ?
“Suka mendengar tapi sudah lama tak di dengar”
-unknown-
Percayala Usaha terbaik mu sudah tercatat meskipun hasilnya seringkali tak berujung memuaskan
-unknown-
Pudar
Kita tidak pernah tau seberapa konsisten rasa itu menetap di hati yang sama, karna soal rasa bisa saja berubah ubah sesuai dengan kondisinya.
Lantas bagaimana tentang rasa yang mulai “pudar”?
Bukan tidak mungkin rasa yang dulu penuh kini mulai memudar bukan ? Mulai berkurang bahkan sampai menghilang.
Rasa yang tak pernah di pupuk selama bertahun tahun, rasa yang dibiarkan kering dalam waktu yang lama , rasa yang penuh pengabaian , rasa yang dipenuhi dengan harapan yang nihil , rasa yang terus di kecewakan dan rasa yang terus di biarkan pudar begitu saja.
Layaknya tumbuhan , hati juga butuh untuk terus dipupuk agar rasa yang ada di dalamnya mampu terjaga dengan baik, disirami dengan perhatian, di isi dengan kasih sayang , dan di jaga dengan kebahagiaan yang di ciptakan dan di wujudkan bersama .
Karna perasaan di abaikan akan menghasilkan perasaan yang akan terus memudar seiring berjalannya waktu , karna rasa kecewa itu tidak mungkin membuat apapun bisa bertahan lebih lama.