Silahkan berjalan pelan, tapi jangan sampai pelanmu menghalangi orang di belakangmu. Silahkan berjalan cepat, tapi ingat jangan sampai cepatmu mencelakai orang lain di depanmu
Today's Document
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

bliss lane
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
noise dept.
KIROKAZE

#extradirty
Claire Keane

Love Begins
NASA
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Misplaced Lens Cap

JVL
🪼
No title available

No title available
No title available

PR's Tumblrdome
The Bowery Presents
No title available
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@pemimpinakal
Silahkan berjalan pelan, tapi jangan sampai pelanmu menghalangi orang di belakangmu. Silahkan berjalan cepat, tapi ingat jangan sampai cepatmu mencelakai orang lain di depanmu
Meski mungkin berat, namun akan ku ikhlaskan seperti sang senja ketika langit menghitam meski harus menjadi lebih kelam namun mungkin ini memang telah digariskan seperti sang fajar yang harus sirna tergerus terangnya sinar mentari seperti senyuman bocah kecil yang diberi hadiah oleh ayahnya seperti sang pecinta ketika dambaan hatinya mengucap cinta seperti bintang malam yang harus meredup tertutup awan gelap dan semoga saja, seperti aku ketika melihatmu bersama dengannya di sisimu
menjadi cupu~
Menjadi cupu itu terkadang menenangkan
Kita tak perlu mengenal gemerlapnya malam yang menyesatkan Kita tak perlu menyeruput air panas yang memabukkan Kita tak harus menghisap bubuk-bubuk nista yang menghancurkan Kita tak perlu banyak mengenal penjilat-penjilat yang menusuk dari belakang Kita tak perlu mengerti lembah-lembah hitam yang menjerumuskan Kita tak perlu bergumul dengan asap-asap noda yang meretas rasa Kita tak perlu mengotori apa yang seharusnya bersih Kita tak perlu bermain api gila yang siap menghanguskan nalar
Meski kata mereka menjadi cupu itu merugi Hidup hanya sekali, cobalah semuanya selagi kita bisa Berjalanlah ke segala arah agar kita bisa melihat segalanya Hidup butuh keseimbangan antara hitam dan putih meskipun kemudian akhirnya tersesat dalam keabu-abuan Mereka selalu menjadikan kebutuhan sebagai alasan Menjadikan yang sebenarnya bisa kita jauhi menjadi yang kita sangat butuhkan Nanti akan tiba waktunya untuk berubah Nanti akan ada saatnya kejenuhan kan datang Nanti akan ada masanya untuk kembali ke cahaya seandainya saja kita bisa memastikan esok pasti akan tiba
Kenakalan lelaki
Untuk lelaki,
Nakal lah pada waktunya~~
Pada era seperti ini, memang susah bagi kita untuk tidak terbawa arus. Aku pun tak memungkiri bahwa terkadang kita terbawa pada pergaulan yang mungkin bagi beberapa orang dianggap nakal, terlebih lagi bagi para lelaki. Namun, bila hal itu benar-benar terjadi, jadilah orang yang nakal pada masanya.
Mungkin bagiku masa-masa nakal yang bisa ditolerir adalah ketika kita SMA sampai kuliah semester 4. Kurang atau lebih dari itu, janganlah kau mencoba untuk bertahan atau mencoba menjadi orang yang nakal. Definisi nakal ini mungkin seperti untuk mabuk-mabukan, berkelahi, dan sebagainya. Pergaulan bebas.
Fase SMP. Mungkin pada fase ini, kita mulai mencari jatidiri. Berkeinginan untuk mencoba segala hal yang ingin kita ketahui. Kita mulai bertemu dengan orang-orang baru, dengan latar belakang berbeda-beda. Kita mulai mengerti beberapa hal yang tidak baik, seperti rokok, minuman keras, dan sebagainya. Kita mulai mencoba, dan mencari eksistensi, selalu memiliki keinginan untuk terlihat seperti seorang jagoan, selalu ingin terlihat lebih dibanding teman sebaya. Pada fase ini, fase yang cukup berbahaya, fase dimana cukup menentukan apakah kita tenggelam atau hanya sekedar bermain di permukaan. Fase ini adalah fase dimana kita mengenal kenakalan, mulai mengerti penyimpangan, namun secara mental kita belum siap untuk menjadi nakal.
Fase SMA - Kuliah Semester 4 Fase ini kita masih labil, namun sudah mulai lebih matang dibanding pada masa SMP. Fase dimana kita semakin ingin mencoba hal-hal baru, karena kita merasa bahwa kita semakin sudah besar, secara fisik dan secara mental. Banyak hal-hal yang bisa kita lakukan pada fase ini, bisa dibilang pada fase ini kita dalam keadaan sebebas-bebasnya. Kita mungkin belum terlalu berpikir tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Pada fase ini akan banyak hal-hal yang kita lakukan tanpa berpikir, asal tabrak, dan tak peduli akibatnya. Masa terakhir adalah saat kita mulai kuliah pada semester 4. Terlebih dari itu, sudah bukan saatnya kita untuk mencari eksistensi diri dengan kenakalan, sudah saatnya kita menata hidup, berpikir pada masa depan.
Sebagai lelaki, wajar bagi kita untuk menjadi nakal. Namun bila harus nakal, nakal lah secukupnya dan bertanggung jawab. Nakal bukanlah suatu keharusan, namun menjadi nakal itu sebenarnya menambah pengalaman kita. Karena bukankah lebih baik kita nakal ketika muda, daripada kita harus mengenal nakal pada saat kita tua?
Dan wajib untuk diketahui, mempermainkan wanita bukanlah sebuah kenakalan, namun itu adalah sebuah kebrengsekan. Cukup jadi orang nakal, Jangan jadi orang brengsek.
BER(J)UANG
“Karena yang berjuang, akan selalu kalah dengan yang ber-uang”
Berapa banyak lelaki yang mengeluh, “wanita yang selama ini selalu ku perjuangkan telah meninggalkanku dan lebih memilih lelaki yang lebih mapan daripada aku?” Lalu kemudian mereka berpikiran, “Ah, wanita kurang ajar kau! Akan ku buktikan kepadamu bahwa kamu salah telah meninggalkanku! Dasar cewek matre!”. Mereka mungkin memiliki prinsip, “Aku mencari wanita yang mau menemaniku berjuang dari bawah, bukan yang hanya menungguku ketika sampai puncak”
Mungkin memang sering terjadi, tapi mengapa kita selalu menyalahkan wanita? mengapa kita selalu menyalahkan lelaki yang lebih mapan?
Lelaki mapan Mereka selalu saja mengkambinghitamkan lelaki yang lebih mapan yang mereka sebut sebagai perusak hubungan, perebut kekasih orang atau sejenisnya. Terlebih lagi, mungkin bagi mereka yang telah menjalin hubungan dalam hitungan waktu yang cukup lama, yang harus kandas karena kehadiran orang yang lebih mapan tersebut. Mungkin memang kehadirannya salah, namun bukan satu-satunya yang bisa disalahkan. Karena sebenarnya, lelaki yang lebih mapan itu juga berjuang untuk mendapatkan wanita yang mereka inginkan, dan mungkin saja mereka itu berjuang lebih keras. Lalu mengapa selalu lelaki yang lebih mapan tersebut yang disalahkan?
Cewek Matre Pada dasarnya semua wanita itu sama, menginginkan yang terbaik, terlebih pada urusan finansial, apalagi untuk wanita yang telah masuk ke usia nikah. Karena sesungguhnya, sebagai seorang calon ibu, dia tak hanya memikirkan tentang dirinya namun juga tentang kebahagiaan anak-anaknya, kecukupan keluarganya. Mungkin memang, terkadang hal itu membuat wanita terlihat menjengkelkan, namun bukan berarti kita berhak untuk menyalahkan wanita sepenuhnya? Karena sesungguhnya wanita melihat prospek ke depan, mungkin selama kalian berhubungan, dia tak melihat sesuatu yang lebih baik akan terjadi dan pada saat itu mereka melihat datangnya lelaki yang lebih mapan, jadi tak salah bukan bila wanita itu lebih memilih lelaki yang datang menawarkan hal yang lebh baik untuknya? Mereka bukan materialistis, namun lebih terlihat ke realistis.
“Carilah wanita yang siap dan mau untuk kau ajak susah, namun jangan sekali-sekali kau membuat seorang wanita terjerat dalam keadaan susah.”
Daripada terus menyalahkan lelaki yang lebih mapan, dan wanita yang memilih sosok yang lebih mapan, bukankah sebagai lelaki, kita lebih berpikir bahwa mungkin saja perjuangan kita masih kurang maksimal. Mengapa kita tidak lebih memperbaiki diri? Meningkatkan perjuangan? dan menjadi sosok yang lebih baik lagi? Bukanlah orang yang baik itu diciptakan untuk orang yang baik pula? Mungkin saja kita masih belum menjadi orang yang baik, sehingga orang yang kita anggap baik itu telah dipertemukan oleh Tuhan kepada orang yang telah baik? Atau mungkin kau berpikiran bahwa ternyata orang yang kau anggap baik itu ternyata bukan orang yang baik? Take it slow, bukankah itu berarti orang yang tidak baik itu telah kehilangan orang baik? Bukankah jodoh itu telah diatur?
Semua yang telah terjadi, pasti memiliki alasan kenapa harus terjadi. Daripada terlarut dalam penyesalan, lebih baik bagi kita untuk terus melangkah maju. Sesuatu yang memang bukan pasangannya, tak akan bagus bila harus dipaksakan. Relakanlah. Ikhlaskanlah. Doakanlah yang terbaik.
Bila memang kau merasa dirimu telah baik, dan kau masih ingin bersamanya. Doakanlah agar dia tersadar tentangmu. Namun bila doamu itu tak kunjung terkabul, bukankah berarti Tuhan sebenarnya memiliki rencana yang lebih indah? Percayalah. Lelaki yang lebih mapan, dan wanita (yang kau anggap) matre tersebut mungkin adalah salah satu cara Tuhan untuk menyadarkanmu, salah satu cara Tuhan untuk mengubahmu agar kau berjuang lebih keras lagi agar akhirnya kau bahagia dan menemukan pasanganmu.
Karena sebenarnya tak ada yang sia-sia, segala sesuatu memiliki tujuannya masing-masing. Hubunganmu yang telah lama kandas? Wanita yang kau cintai pergi bersama lelaki lain? pasti ada alasan di balik semua itu.
Teruslah berjuang!
hujan dan kalian
Aku rindu hujan bersama kalian. Menghabiskan waktu berbincang bersama di depan teras. Secangkir kopi hitam panas, berbatang-batang rokok, dan sepiring gorengan. Petikan gitar usang dan suara tetesan air hujan mengiringi obrolan kita. Terkadang nada kita meninggi, terkadang kita tertawa, terkadang kita merenung, terkadang kita sedikit menyeka air mata Aku rindu pada obrolan kita yang tak tentu arah. Pembahasan-pembahasan yang absurd, namun tak sedikit ada pelajaran di dalamnya Aku rindu pada ketidakmewahan kita menunggu hujan reda Pernah kita mencoba membunuh waktu di tempat yang mewah dengan harga yang menjulang dan sedikit membuat kita harus mengencangkan ikat pinggang. Memang, terasa lebih menyenangkan. Namun, entah mengapa di teras itu lah aku lebihteringat. Kadang berbincang, kadang bernyanyi, kadang berdendang Masih teringat, suara-suara fals kita menyanyikan lagu-lagu yang tak jelas aaah, semakin mengingat, semakin merindu Sejujurnya aku tak siap melihat satu per satu dari kalian pergi Namun, memang harus ku sadari setiap pertemuan pasti ada perpisahan Aku yakin, perpisahan kita ini bukanlah akhir dari persahabatan kita Jarak hanyalah semacam pengingat bagi kita, bahwa kita pernah sedekat itu Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Jangan tanyakan kepadaku apa itu cinta. Aku pun belum menemukan jawabannya. Aku terlalu menyimpan ekspektasi pada kebahagiaan, pada kenyataannya di dalamnya pun memungkinkan untuk terjadinya keterpurukan.
Mungkin orang berkata, perjuangkanlah apa yang ingin kau capai. Namun bila kita terlalu memaksakannya, tak selalu indah yang kita dapatkan. Mungkin saja keinginan kita dapat kita dapatkan, namun yakinilah bahwa segala sesuatu ada batasnya masing-masing. Bila kita terlalu memaksakannya, saat hal-hal itu mencapai batasnya, ketika kita kehilangannya bisa saja malah terpuruk sangat dalam dan susah untuk bangkit kembali. Berjuanglah sewajarnya namun tetap dengan keseriusan. Mungkin sedikit mematahkan motivasi, namun harus kita ketahui bahwa apa yang kita inginkan tak selalu mampu menjadi kenyataan. Terkadang kegagalan yang kita dapatkan adalah cara Tuhan menyiapkan hal yang lebih baik untuk kita. Tersenyumlah pada kegagalan, siapkanlah langkah berikutnya untuk melanjutkan perjalanan.
Sebuah pesan
Aku masih ingat tentang sebuah pesan. Kata-kata yang kau ucapkan saat mengiringi perpisahan kita. Masih teringat dengan jelas wajah sedih saat kau mengucapkannya, matamu mulai sendu, nadamu mulai mendayu, dan bibirmu tak berhenti bergetar.
“Maaf bila aku harus mengakhiri perjalanan seelama lima tahun ini, tapi asal kamu tahu bahwa aku masih berharap banyak kepadamu, rasaku tak akan pernah berubah kepadamu hingga kapanpun dan aku berharap kelak kau akan datang lagi kepadaku. Saat ini, biar ku redakan dahulu amarahku, ku redam dulu emosiku, aku terlalu lelah dengan apa yang telah terjadi, terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak perselisihan, dan sepertinya kita juga sudah mulai tak mampu lagi menjaga genggaman ini. Namun, meski aku sangat berharap kepadamu, akan aku relakan bila nanti kau menemukan orang yang mampu menggantikanku untuk ada di hatimu. Aku akan turut bahagia bila kau mendapatkannya, namun semoga kau masih mengingat tentang janji yang akan selalu menjadikanku pilihan pertama sesusah apapun kondisinya”
Maaf, bila kala itu aku mengiyakan dan membiarkan dirimu lepas, tak seperti biasanya dimana aku masih mencoba untuk menggenggam tanganmu kembali. Maaf, karena aku tahu kita terlalu memaksakan apa yang seharusnya tak mampu berdampingan. Kita sudah semakin dewasa, mampu berpikir bahwa melangkah bersama bukan hanya tentang cinta dan rasa, namun masih ada bermacam hal yang harus dipertimbangkan. Cinta kita masih sama, bahkan semakin menguat, namun aku merasa perjuanganku untuk mencapai tujuan yang selalu kita dambakan masih kurang kuat. Biarlah kita berpisah, memperbaiki diri, meningkatkan kapasitas kita, dan apabila memang kita diciptakan untuk bersama nanti kita akan dipertemukan lagi dalam kondisi yang lebih baik.
Sebulan kemudian..... Aku mampu sedikit tersenyum, meski terkadang gelisah dan sedikit tak percaya. Aku bersyukur, (mungkin) kamu sudah mampu mengikhlaskan kenangan kita, kau lebih dulu menemukan sosok yang lebih baik dari aku. Marah? Kecewa? Sedih? Galau? Sedih dan sedikit galau mungkin iya, namun untuk marah dan kecewanya tidak!! Terlebih aku tahu bila sosok tersebut memang lebih baik dan lebih bertanggung jawab daripada aku, aku merasa menjadi orang yang sukses karena telah merelakan kepergianmu hingga akhirnya kamu mampu menemukan sosok tersebut. Bayangkan saja bila dahulu aku tak merelakanmu, mungkin kamu tak akan berkembang melangkah di sampingku.
Tentang pesan perpisahanmu? Tak ada sedikit pun niatanku untuk mengungkitnya, aku tak akan merusak kebahagiaanmu, aku tak akan menghambat langkahmu untu maju. Meski aku tahu, kau pun belum sepenuhnya mampu melupakan kata-katamu sendiri. Namun percayalah ini hanya tentang waktu, kelak kau akan menemukan kebahagiaan-kebahaagianmu bersamanya yang aku yakin akan mampu menghapus tentangku dalam hidupku. Nikmatilah perjalananmu yang masih panjang itu, mekarlah....
Setahun lebih beberapa bulan kemudian.... Terdengar kabar bahwa kamu sudah berpisah lagi dengan sosok setelah aku. Aku turut prihatin, namun aku tak berani untuk mencoba menenangkanmu, aku takut bila aku menghubungimu, kamu justru semakin terpuruk. Di sisi lain, aku pun merasa yakin kau telah mampu melupakanku, di saat kau terjatuh, kau tak lagi mencoba mencariku, mungkin gengsi atau apa entah aku tak tahu, namun aku semakin tersenyum melihatmu, meskipun aku sedikit gelisah mendengarmu melepas kegalauanmu ke minuman keras dan hal-hal yang sedikit membahayakan. Tak lama setelah itu, dua tiga bulan berikutnya, aku mendengar kau sudah menemukan pengganti lagi, timbul dalam pikiranku “Apakah ini hanya kau jadikan pelarian saja? Dewasalah”. Meskipun aku salut, mungkin ini caramu untuk tak terlarut terlalu lama dalam keterpurukanmu itu, dalam hatiku aku ingin menyemangatimu dan meneriakkan kata “Bangkitlah!!!”. Aku selalu mendoakan, pilihanmu kali ini adalah tambatan pencarianmu yang terakhir, semoga kelak dia mampu menuntunmu menuju ke tempat terindah, sebuah kursi dimana kau duduk diapit oleh kedua orang tuamu dan dia. Aku pun tak sabar melihatmu memakai cincin di jari manismu, karena sampai saat ini aku masih merasa belum mampu untuk mencoba membuka hatimu untukku lagi. Dan jadikanlah pengalamanmu di masa lalumu untuk menjadi lebih baik lagi. Masa lalumu memang harus kau lupakan, tapi jangan lupa jadikan itu sebuah pelajaran dalam hidupmu. :)))
Tentang pesanmu. Tentang janjiku. Jujur, di tahun ketiga perpisahan kita ini, aku masih menantinya hingga saat ini namun aku tak lagi ingin untuk memaksakannya. Bila nanti diijinkan, pasti pesanmu dan janjiku yang pernah terucap itu akan kita satukan, namun bila ternyata itu bukan takdirnya, lupakanlah. Simpan saja sebagai sebuah kisah lucu sepasang remaja yang mencoba mendapatkan cinta sejati. Mungkin kita dipertemukan memang bukan untuk terus bersama, namun hanya untuk saling memberikan pelajaran dalam hidup. Terkadang kita menang, terkadang kita belajar.
Aku akan selalu tersenyum bila kau mendapatkan kebahagiaan. Rasa memang tak bisa dipaksakan, disini aku menanti undangan terindah darimu dan yang paling ingin aku ucapkan, terima kasih atas perjalanan yang pernah kita lalui dan terima kasih pula untuk pelajaran-pelajaran yang mampu kita ambil, semoga kita mampu menjadi yang terbaik untuk orang yang terbaik bagi kita. :)))))
Tidak, aku tak perlu kau ajak terbang Meski aku tahu semua akan terasa indah bila dilihat dari atas, Namun, aku hanya mempersiapkan diri Bila nanti aku harus terjatuh, Karena semakin kau ajak terbang, semakin sakit bila hatus terjatuh Istirahatkan saja sayapmu Tak perlu kau terbangkan aku Cukup berjalan menapak tanah saja Berdampingan melangkah menuju ke sebuah arah Arah dimana kita sebut sebagai tujuan Memang menapak tanah tak seindah seperti bila kita melayang Namun, aku merasa itu sudah cukup untuk bahagia bersamamu
Rasaku masih tak berjangka Dalam remang-remang keputus-asaan, aku tertanam Aku terlelap dalam ketiadaan harapan. Tolong, bangunkan aku. Dengan sedikit bisikanmu Dengan sedikit senyumanmu Entah dengan apa saja yang kau mau. Aku pasrah. Aku lelah. Datanglah.
Gila
Risau. Dalam gelap, aku merindu fajar Meski ketika terang datang, aku memburu senja. Aku sudah mulai gila Tak tertahan untuk berlari Namun gundah datang Arah mana yang hendak ku tuju. Aku tak tersesat Atau jangan-jangan aku hanya tak ingin disebut tersesat Aku makin gila. Gila pada kegilaanku yang semakin menggila. Aku hancur.
untukmu
Bila ternyata aku tak lagi bisa menemanimu, ijinkan aku menyelipkan doaku untuk sisa perjalanan hidupmu Sampaikan pula untuk pendampingmu kelak, jagalah apa yang kau miliki sebaiknya. Mungkin perlu sedikit kau ceritakan tentang kisah kita, bukan untuk membuatnya marah, bukan untuk terkesan belum bisa move on, atau bahkan agar tak menghargai cerita kalian Tapi, setidaknya agar dia mengerti kesalahan-kesalahan apa saja yang telah aku lakukan Sehingga dia mampu memberikan yang terbaik untukmu Meskipun aku sadari, bahwa tak mungkin ada orang yang sempurna, sama seperti pembelaanku ketika ku melakukan kesalahan, Namun, aku percaya dengan dia mengetahui kesalahan-kesalahanku, dia mampu lebih berhati-hati Sehingga kau tak perlu lagi menangis karena kesalahan-kesalahan itu Aku disini, akan selalu bahagia bila melihatmu bahagia baik bahagia karenaku atau karena karena orang lain terus tersenyumlah :)
Jaga ekspektasi. jangan terlalu tinggi. akan sakit bila tak bisa meraihnya. tapi, jangan terlalu rendah. supaya terus termotivasi untuk menggapainya. Realistis saja!
rimba
Aku sedang tertahan. Diam tak bergerak. Di belakang tembok tinggi. tak mungkin tuk melangkah mundur. Di depan hutan rimba. yang hanya ku dengar ceritanya. yang belum pernah ku rasakan. yang kata mereka kejam. Namun harus ku masuki. Aku sedang mencari jalan. Agar rimba terasa menyenangkan. Aku sedang mencari nada. agar hutan terdengar berirama. Semoga. yang ku harapkan segera di semogakan. Maju.
Pasangan dan Gadget
Beberapa orang berkata, “Dalam mencari pasangan, jangan melihat seseorang dari fisiknya tapi dari hatinya”. Ga salah kok, cuma ya susah buat dilakuin. Beberapa orang yang nyari gadget atau sepeda motor atau mobil atau yang lainnya termasuk saya pasti pernah berkata, “spek nya sih bagus, pabrikannya juga ternama, tapi sayang kok bentuknya kurang srek deh, terlalu gede buat dipegang, warnanya bodynya terlalu mencolok, terlalu panjang, terlalu boros, terlalu mahal, dan sebagainya” dan akhirnya mengambil keputusan untuk mencari yang lain. Apakah salah? tidak. Ga munafik kok, sebaik apapun, kalo memang dirasa tidak srek juga mau gimana lagi? Apakah sama? Beda, tapi bukankah tindakannya hampir sejenis? Karena dalam mencari kita akan selalu mencari yang terbaik dari yang tersedia. Namun perlu diingat, kita harus mencari yang terbaik namun sesuai dengan kemampuan kita pula. Jangan memaksakan kehendak. Sama seperti gadget, manusia itu ada berbagai jenis, dengan tiap kelebihan dan kekurangannya. Nobody’s perfect. Memang setiap orang selalu mendambakan untuk memiliki gadget yang paling canggih dengan harga mungkin sampai puluhan juta, tapi bukankah juga ada banyak yang nyaman dengan gadget dengan harga jutaan saja, bahkan nyaman dengan handphone dengan harga ratusanribu? Memang, semua kembali lagi dengan individu masing-masing. Dan memang yang paling penting adalah kenyamanan.
Banyak orang yang mencari gadget untuk gengsinya, hanya untuk “biar dikata keren”, “biar ga diejek sama temen-temen”, “biar kelihatan mewah” dan berbagai alasan yang tak berhubungan dengan fungsi dan kebutuhan aslinya. Ga jauh beda sama beberapa orang yang mencari pasangan, beberapa ada yang sekedar “daripada gapunya”, “daripad malem mingguan cuma bengong”, “daripada kudu bayar buat menyalurkan n*fs*” dan sebagainya. Nah, sama seperti mencari gadget, apabila kita selalu mencari yang lebih dan lebih, akan selalu ada yang terlihat lebih baik, dan pencarian kita akan selalu terus berjalan, dan sampai usia kita berakhir, kita akan selalu terus mencari. Meskipun banyak pula yang benar-benar mencari yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan, misal seorang pebisnis, pasti akan mencari gadget yang mampu menunjang kebutuhan pekerjaan dan bisnisnya, seorang seniman, pasti akan mencari gadget yang bisa dia gunakan berseni di manapun dan kapanpun.
Satu hal lagi, kita harus mencari gadget sesuai dengan kemampuan kita. Semisal untuk makan saja susah, untuk sementara pending dulu lah keinginan untuk memiliki gadget harga puluhanjuta. Memang bisa dipaksakan, namun hal itu akan menyiksa kita. Sama halnya dalam mencari pasangan, kita harus melihat kemampuan kita, kualitas kita. Percayalah, bila kita baik, maka Tuhan akan mempertemukan kita dengan yang baik pula. Maka, bila kita ingin mencari pasangan yang berkualitas, yang kita lakukan adalah meningkatkan kualitas kita sendiri.
Percayalah, Tuhan sudah mengatur siapa jodoh kita. Yang perlu kita lakukan adalah memantaskan diri, meningkatkan kualitas diri dan mencarinya :)
Bila terdiam mampu menjadi jawaban, tolong diamkan aku dengan senyummu. Bila senyap adalah sebuah cerita. Maka ijinkanlah senyap ini bercahaya. Bila cahaya ini tak mampu terpancar. Maka ijinkan remang ini membahagiakan.